TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Kota Solo, Jawa Tengah, dikenal sebagai salah satu kota dengan tingkat toleransi beragama yang tinggi.
Julukan sebagai “rumah yang nyaman” bagi seluruh umat beragama tercermin dari mudahnya pendirian tempat ibadah berbagai agama di kota ini.
Salah satunya adalah Vihara Dhamma Sundara Solo, tempat ibadah umat Buddha yang kini juga menjadi ikon wisata religi di Solo Raya.
Baca juga: Asal-usul RS Kadipolo Solo : Dibangun di Era Pakubuwono X, Kini Mangkrak hingga Terkesan Angker
Vihara Dhamma Sundara Solo berlokasi di Jalan Ir. H. Juanda No. 223B, Pucangsawit, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta.
Lokasinya berjarak 2,3 kilometer dari Pasar Gede Solo, bisa ditempuh 8 menit kendaraan pribadi.
Vihara ini didirikan pada tahun 2002 oleh Sundara Husea, seorang pengusaha besar pendiri Sun Motor Grup.
Sebagai bentuk penghormatan atas jasa pendirinya, pengelola vihara mendirikan patung Sundara Husea di dalam kompleks vihara.
Patung tersebut diresmikan pada 24 Maret 2013, bertepatan dengan peringatan tiga tahun wafatnya Sundara Husea yang meninggal dunia pada 23 Maret 2010.
Kompleks Vihara Dhamma Sundara Solo terdiri dari dua bangunan utama, yakni gedung vihara dan bangunan candi putih.
Bangunan utama berbentuk gedung bertingkat dengan atap limasan.
Di lantai atas terdapat Ruang Dhammasala, yaitu ruang ibadah utama umat Buddha.
Sementara lantai bawah difungsikan sebagai kantor administrasi dan toko (store) yang menjual perlengkapan sembahyang, buku, hingga media pembelajaran agama Buddha.
Di Ruang Dhammasala terdapat Arca Buddha emas dalam posisi Bhumisparsa Mudra, yakni telapak tangan kiri terbuka ke atas sebagai simbol memanggil bumi sebagai saksi.
Mudra ini melambangkan Dhyani Buddha Aksobhya yang menghadap ke arah timur.
Di sisi kanan dan kiri arca utama, terdapat patung para murid Buddha dengan posisi tangan tertangkup di depan dada.
Baca juga: Asal-usul Masjid Agung Jatisobo di Sukoharjo: Dibangun pada Abad 17, Ada Legenda Pohon Jati Raksasa
Bangunan kedua adalah candi berwarna putih yang menjulang tinggi dan menjadi daya tarik utama vihara.
Arsitekturnya menyerupai candi-candi Buddha dari masa Mataram Kuno, dengan ukuran yang mengingatkan pada Candi Sojiwan.
Di puncak candi terdapat stupa besar yang dikelilingi stupa-stupa kecil, menyerupai stupa Candi Borobudur.
Stupa utama dihiasi catra logam, sementara di sisi kiri, kanan, dan belakang candi terdapat relief Buddha dengan mudra yang berbeda-beda.
Candi ini berdiri di atas pelataran batu hitam dan dijaga oleh sepasang patung gajah putih, yang semakin menguatkan kesan seperti berada di Negeri Gajah Putih, Thailand.
Untuk memasuki pelataran candi, pengunjung diwajibkan melepas alas kaki sebagai bentuk penghormatan.
Baca juga: Asal-usul Kecamatan Jumantono, dari Legenda Jaka Tarub Kini Menjelma jadi Sentra Durian Karanganyar
Keindahan dan kemegahan Vihara Dhamma Sundara Solo kerap menarik perhatian pengguna jalan yang melintas di kawasan Pucangsawit.
Tak sedikit masyarakat yang akhirnya berkunjung untuk melihat langsung keunikan arsitektur vihara ini.
Saat ini, Vihara Dhamma Sundara tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah umat Buddha, khususnya saat Puja Bakti dan perayaan Waisak, tetapi juga menjadi destinasi wisata religi unggulan di Solo Raya.
Mengutip dari Dinas Pariwisata Kota Solo dan Kelurahan Pucangsawit, suasana vihara ini disebut menyerupai suasana Thailand, dengan dominasi warna putih dan ornamen khas Buddha.
Pengunjung yang datang ke Vihara Dhamma Sundara Solo tidak dipungut biaya masuk.
Meski demikian, setiap pengunjung diwajibkan menjaga ketenangan, sopan santun, serta mematuhi aturan yang berlaku.
Hal ini mengingat fungsi utama vihara sebagai tempat ibadah aktif, bukan sekadar objek rekreasi.
(*)