Dinkes NTT Klaim DBD di NTT Tahun 2025 Alami Penurunan Dibanding 2024
January 23, 2026 11:39 AM

 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi

TRIBUNFLORES.COM, KUPANG –Dinas Kesehatan (Dinkes) mengklaim kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tahun 2025 mengalami penurunan hingga 46 persen dibanding jumlah kasus pada tahun sebelumnya. 

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes NTT, Maria Elizabeth Anggreini menjelaskan, selama ini Dinkes di Provinsi maupun di Kabupaten/Kota terus melakukan edukasi dan penyuluhan tentang DBD. 

"Saya berterima kasih untuk teman-teman di lapangan. Ini keberhasilan dari Kabupaten/Kota," kata Maria Anggreini, Kamis, (22/1/2026) di ruang kerjanya. 

Baca juga: Cegah DBD, Warga Dusun Kahat Kangae Sikka Kerja Bakti Rutin

Penyuluhan DBD

Dia mengatakan, edukasi itu dilakukan saat posyandu, pemeriksaan kesehatan gratis hingga berbagai agenda lainnya. Kesempatan itu digunakan juga untuk penyuluhan DBD. Sekalipun penyakit yang rutin, kampanye DBD selalu dilaksanakan. 

Maria Anggreini menilai tenaga kesehatan di lapangan selalu antusias mengajak masyarakat untuk menggalakkan lingkungan bersih. Dengan berbagai sumber daya manusia yang cukup, pencegahan DBD juga semakin masif. 

Keterlibatan tidak hanya dari tenaga kesehatan dan masyarakat, Pemerintah Desa juga turut membantu berbagai kegiatan di lapangan. Ia tidak menampik adanya kejadian. Itu sebagai evaluasi dan pukulan untuk Dinas Kesehatan. 

"Kami berusaha dan kita tingkatkan lagi kolaborasi untuk pemberantasan sarang nyamuk, promotif, preventif bagi masyarakat di Desa," katanya. 

Berikut data DBD tahun 2024:

1. Kota Kupang: 281 kasus 
2. Kabupaten Kupang: 173 kasus
3. TTS: 62 kasus
4. TTU: 30 kasus dan berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB) 
5. Belu: 116 kasus 
6. Rote Ndao: 3 kasus
7. Alor: 301 kasus
8. Flores Timur: 11 kasus dan KLB
9. Lembata: 25 kasus
10. Ende: 112 kasus
11. Sikka: 820 kasus
12. Ngada: 271 kasus 
13. Nagekeo: 54 kasus
14. Manggarai: 279 kasus
15. Manggarai Timur: 79 kasus dan KLB
16. Manggarai Barat: 356 kasus 
17. Sumba Timur: 392 kasus
18. Sumba Barat: 267 kasus
19. Sumba Barat Daya: 136 kasus
20. Sumba Tengah: 44 kasus
21. Sabu Raijua: 169 kasus
22. Malaka: 7 kasus 

Meninggal Dunia:

1. Kota Kupang: 5 orang
2. Kabupaten Kupang: 3 orang
3. Ende: 1 orang
4. Sikka: 4 orang
5. Ngada: 1 orang
6. Nagekeo: 1 orang 
7. Sumba Timur: 5 orang
8. Sumba Barat Daya: 1 orang 
9. Sabu Raijua: 6 orang

Tahun 2024 berjumlah 3. 989 kasus dengan 29 kematian. 

Data DBD tahun 2025:

1. Kota Kupang: 123 kasus
2. Kabupaten Kupang: 68 kasus 
3. TTS: 51 kasus 
4. TTU: 151 kasus
5. Belu: 56 kasus 
6. Rote Ndao: 0 
7. Alor: 193 kasus 
8. Flores Timur: 100 kasus 
9. Lembata: 42 kasus 
10. Ende: 51 kasus 
11. Sikka: 350 kasus 
12. Ngada: 141 kasus 
13. Nagekeo: 5 kasus 
14. Manggarai: 87 kasus 
15. Manggarai Timur: 45 kasus 
16. Manggarai Barat: 83 kasus 
17. Sumba Timur: 10 kasus 
18. Sumba Barat: 41 kasus 
19. Sumba Barat Daya: 49 kasus 
20. Sumba Tengah: 19 kasus 
21. Sabu Raijua: 473 kasus 
22. Malaka: 3 kasus

Meninggal Dunia: 

1. Kota Kupang: 2 orang
2. Kabupaten Kupang: 1 orang
3. TTU: 1 orang 
4. Flores Timur: 1 orang 
5. Manggarai: 1 orang
6. Manggarai Timur: 
7. Sumba Timur: 1 orang

Kasus tahun 2025 berjumlah 2.141 kasus dengan 8 kasus kematian. Terjadi penurunan kasus 46 persen dan kematian 72 persen  di tahun 2025.

Data DBD Januari 2026: 

1. TTU: 9 kasus
2. Belu: 3 kasus
3. Alor: 5 kasus
4. Flores Timur: 8 kasus
5. Lembata: 11 kasus
6. Ende: 3 kasus
7. Sikka: 26 kasus 
8. Sumba Barat Daya: 1 kasus
9. Sabu Raijua: 4 kasus

Meninggal Dunia: 

1. Sikka: 1 orang. (fan) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.