TRIBUNTRENDS.COM - Tim SAR gabungan akhirnya memastikan seluruh korban dalam insiden jatuhnya pesawat ATR 42-500 telah ditemukan.
Total 10 korban berhasil dievakuasi setelah proses pencarian dan penyelamatan yang berlangsung intensif.
Upaya evakuasi tersebut memakan waktu tujuh hari, dimulai sejak Sabtu (17/1/2026) hingga Jumat (23/1/2026).
Selama periode itu, tim SAR bekerja tanpa henti untuk menjangkau lokasi dan memastikan tidak ada korban yang tertinggal.
Tragedi ini pun tercatat sebagai kecelakaan pesawat terburuk kedua dalam lima tahun terakhir (2021–2026) jika ditinjau dari jumlah korban jiwa.
Catatan terburuk masih dipegang oleh kecelakaan Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di Kepulauan Seribu, Jakarta, pada Sabtu, 9 Januari 2021.
Baca juga: Jenazah Esther Pramugari Pesawat ATR Ditemukan, di Pinggiran Air Terjun, Komandan: 5 Hari Kedinginan
Dalam peristiwa tersebut, 62 orang dinyatakan tewas, terdiri dari 50 penumpang dan 12 awak pesawat, menjadikannya salah satu tragedi penerbangan paling memilukan dalam sejarah Indonesia.
Sementara itu, insiden penerbangan lain dengan jumlah korban besar terjadi pada 1 September 2025, ketika helikopter BK117-D3 milik PT Eastindo Air jatuh di kawasan hutan Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.
Peristiwa tersebut juga menambah daftar panjang kecelakaan udara dengan dampak fatal dalam beberapa tahun terakhir.
Berikut selengkapnya informasi daftar kecelakan pesawat di Indonesia selama 5 tahun terakhir, dirangkum Tribunnews.com, Jumat:
Insiden tragis menimpa pesawat Boeing 737-500 Sriwijaya Air SJ182 rute Jakarta - Pontianak, pada Senin, 9 Januari 2021.
Pesawat lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta pukul 14.36 WIB.
Keberangkatan pesawat mengalami keterlambatan karena kondisi cuaca buruk kala itu.
Namun baru sekitar 4 menit terbang, pesawat hilang dari radar hingga dilaporkan jatuh di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta.
Pesawat diketahui membawa 62 orang yang terdiri dari 50 orang penumpang, termasuk 7 anak-anak dan 3 bayi.
Kemudian ada 6 orang awak yang bertugas, dan 6 orang awak yang sedang tidak bertugas.
Seluruh penumpang dan awak kabin tewas dalam peristiwa ini.
Dua tahun berselang, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) merilis penyebab jatuhnya Sriwijaya Air karena sejumlah faktor.
Dikutip dari kanal YouTube KompasTV, penyebab paling utama adalah kerusakan pada sistem mekanikal autothrottle hingga contemplacy atau kepercayaan yang terlalu tinggi pada sistem otomatisasi dan confirmation bias.
Sehingga pilot tidak sadar ketika pesawat berubah arah sebelum akhirnya pesawat jatuh.
"Kami mengasumsikan bahwa pilot percaya kepada sistem otomatisasi yang ada di dalam pesawat. (Sehingga) berdampak pada pengurangan monitor terhadap instrumen dan kondisi-kondisi yang terjadi," kata Ketua Sub Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo kala itu.
Baca juga: Suara Bergetar Kepala Tim SAR Setelah Berhasil Evakuasi 10 Korban Pesawat ATR 42-500: Alhamdulillah!
Pesawat ATR 42-500 milik maskapai Indonesia Air Transport pertama kali dilaporkan hilang kontak pada Sabtu (17/1/2025), sekitar pukul 13.17 WITA.
Pesawat tersebut tengah dalam penerbangan dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta ke Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.
Belakangan diketahui pesawat jatuh di kawasan di Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan.
Akibat kejadian ini, 10 orang tewas dengan rincian:
Kru:
1. Kapten Andi Dahananto,
2. Muhammad Farhan Gunawan
3. Hariadi
4. Restu Adi
5. Dwi Murdiono
6. Florencia lolita
7. Esther Aprilita
Penumpang:
1. Ferry Irrawan
2. Deden Mulyana
3. Yoga Nauval
Asisten Operasi Kodam XIV Hasanuddin, Kolonel Inf Dody Priyo Hadi membenarkan seluruh korban sudah ditemukan.
“Sejak hari Sabtu kami melakukan pencarian, dan alhamdulillah pada hari ketujuh ini seluruh korban beserta benda-benda penting dari pesawat berhasil ditemukan,” ujarnya, dikutip dari Tribun-Timur.com.
Untuk penyebab jatuhnya pesawat, masih didalami Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Investigasi dimulai dengan mengecek isi dari black box.
Ketua KNKT, Suryanto Cahyono, menyampaikan pihaknya akan menjalankan tugas sesuai fungsi investigasi keselamatan transportasi.
“Black box ini digunakan untuk menjawab teka-teki penyebab kejadian,” ujarnya dikutip dari Tribun-Timur.com.
Insiden jatuhnya pesawat kedua dengan korban terbanyak adalah insiden Helikopter BK117-D3 milik Eastindo Air jatuh di hutan Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan pada 1 September 2025.
Heli yang membawa 8 orang itu dijadwalkan terbang dari Kotabaru-Palangka Raya.
Bangkai heli baru ditemukan pada Rabu, 4 Agustus 2025 pukul 14.45 WIT.
Dikutip dari kanal YouTube, Kompascom Reporter on Location, insiden ini menewaskan 8 orang, 1 pilot, 1 teknisi, dan 6 lainnya adalah penumpang.
Sementara penyebab jatuhnya heli belum terungkap, masih didalami KNKT.
Pada 23 Juni 2023, pesawat milik PT Semuwa Aviasi Mandiri (SAM AIR) jenis Cessna 208 Caravan 675 PK-SMW terjatuh setelah terbang dari Bandar Udara Elelim pukul 10.53 WIT menuju Lapangan Terbang Poik.
Lokasi jatuhnya pesawat berada di sebuah bukit dengan ketinggian 2.207 meter di atas permukaan laut (Mdpl), Distrik Elelim, Kabupaten Yalimo, Papua Pegunungan.
Pesawat sempat hilang kontak sebelum akhirnya jatuh.
Dikutip dari Kompas.com, Pada penerbangan ini SAM Air membawa 2 awak dan 4 penumpang yang semuanya tidak selamat.
Baca juga: Tugas Khusus Agam Rinjani dalam Pencarian Korban Pesawat ATR, Sampai Rela Menginap di Tebing Gunung
Dikutip dari TribunGorontalo.com, Pesawat SAM Air dengan tipe pesawat DHC-6 Twin Otter dan registrasi PK-SMH, terjatuh ketika hendak mendarat di Bandar Udara Panua, Pohuwato setelah terbang dari Bandar Udara Jalaluddin, Gorontalo.
Pesawat itu jatuh sekitar 500 meter dari bandara.
Insiden ini sempat terekam kamera handphone warga sekitar lokasi kejadian hingga viral lewat media sosial.
Pada saat kejadian pesawat PK-SMH diawaki oleh 3 kru yaitu Kapten M. Saefurubi A, Copilot M Arthur Vico G dan Engineer Budijanto dan 1 penumpang atas nama Sri Meyke Male.
Keempatnya meninggal dunia.
Kasus jatuhnya pesawat SAM Air kemudian diinvestigasi oleh Polda Gorontalo dan KNKT. Sementara penyebab pastinya masih didalami.
"Kami berkomitmen untuk mengungkap semua aspek yang berkaitan dengan kecelakaan ini, agar bisa memberikan pemahaman yang lebih baik dan mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan," Kombes Pol Desmont Harjendro, Kabid Humas Polda Gorontalo.
Sebuah pesawat latih jenis Tecnam P2006T milik Indonesia Flying Club jatuh di Lapangan Sunburst, Bumi Serpong Damai (BSD), Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Minggu (19/5/2024) siang.
Peristiwa nahas itu mengakibatkan tiga orang di dalam pesawat, yakni Capt Pulu Darmawan (pilot), Capt Suanda (co-pilot), dan Farid Ahmad (teknisi) tewas di lokasi kejadian.
Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono menjelaskan, pesawat tersebut tidak memiliki black box.
Fungsinya untuk merekam data penerbangan dan suara kokpit sebagai alat investigasi utama penyebab kecelakaan pesawat, agar kejadian serupa dapat dicegah di masa depan dengan menganalisis data seperti ketinggian, kecepatan, dan percakapan pilot, serta meningkatkan keselamatan penerbangan.
"Karena pesawat ini tidak ada black box kita memaksimalkan semaksimal mungkin mencari informasi lewat penjelasan (pihak terkait)."
"Penjelasan- pilot-pilot yang menerbangkan pesawat ini terus kemudian dari hasil-hasil interview dengan ATC (Air Traffic Controller). Tadi nanti kita akan melakukan analisa dan mencocokkan dengan kalau perlu ada pengujian komponen," urainya, dikutip dari kanal YouTube KompasTV.
(TribunTrends/Tribunnews)