TRIBUNTRENDS.COM - Di tengah dinamika internal Keraton Solo yang masih menyisakan polemik soal legitimasi tahta, salah satu putra Pakubuwono XIII yang mengklaim sebagai Raja Keraton Solo, Pakubuwono XIV Hangabehi, kembali menarik perhatian publik.
Bukan melalui pernyataan politik atau prosesi keraton, melainkan lewat langkah sederhana namun sarat makna spiritual: menunaikan ibadah salat Jumat.
Pada Jumat (23/1/2026), Hangabehi terlihat melaksanakan salat Jumat di Masjid Ciptomulyo Pengging, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali.
Kehadirannya menjadi momen yang tak hanya religius, tetapi juga simbolik, mengingat masjid tersebut memiliki ikatan sejarah yang kuat dengan Keraton Solo.
Baca juga: Syarat Tedjowulan Agar Dana Negara Mengalir ke Keraton Solo, PB XIV Purboyo & Hangabehi Harus Rukun
Hangabehi tiba di Masjid Ciptomulyo, yang terletak di sebelah barat Alun-alun Pengging, sekitar pukul 11.20 WIB.
Suasana masjid tampak tenang ketika ia datang, namun kehadirannya segera menarik perhatian para abdi dalem yang telah lebih dulu berada di lokasi.
Setibanya di area masjid, Hangabehi menyempatkan diri untuk bersalaman dengan para abdi dalem.
Setelah itu, ia berwudhu dan memasuki masjid untuk bersiap menjalankan ibadah.
Usai melaksanakan salat sunah, Hangabehi memilih untuk berdiam diri di dalam masjid.
Ia menunggu dengan khidmat hingga khotbah Jumat dimulai, menyatu bersama jamaah lainnya tanpa perlakuan khusus.
Setelah salat Jumat selesai dilaksanakan, Hangabehi tidak serta-merta meninggalkan masjid.
Ia justru meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan para abdi dalem, pengurus takmir masjid, hingga masyarakat yang ingin bersalaman atau mengabadikan momen melalui foto bersama.
Hangabehi mengungkapkan bahwa keputusannya melaksanakan salat Jumat di Masjid Ciptomulyo bukan tanpa alasan.
Masjid tersebut merupakan masjid milik Keraton Solo, yang memiliki nilai sejarah panjang.
Masjid Ciptomulyo sendiri dibangun pada masa pemerintahan Pakubuwono X, tepatnya pada 14 Jumadil Akhir 1838 Tahun Jawa atau sekitar tahun 1905 Masehi.
Sejak awal pendiriannya, masjid ini menjadi bagian dari denyut spiritual Keraton dan masyarakat sekitarnya.
Baca juga: Fadli Zon Lawan PB XIV Purboyo, Siap Hadapi Gugatan Soal Keraton Solo, Pasang Badan untuk Tedjowulan
Menurut Hangabehi, kegiatan salat Jumat di luar kompleks Keraton bukanlah hal baru baginya. Ia mengaku telah beberapa kali melaksanakan salat Jumat di masjid-masjid lain yang berada di luar area Keraton Solo.
Langkah tersebut, kata Hangabehi, merupakan bagian dari upaya menjaga dan melestarikan warisan Keraton, khususnya masjid-masjid yang menjadi bagian dari sejarahnya.
"Nguri-nguri, nglestantonaken mesjid-mesjid kagungan ndalem keraton.
Salah setunggalipun gih meski Ciptomulyo (Melestarikan masjid -masjid keraton. Salah satunya masjid Ciptomulyo Pengging)," kata Hangabehi.
Melalui pelaksanaan salat Jumat di Masjid Pengging, Hangabehi menyampaikan harapannya agar keberkahan senantiasa menyertai semua pihak, baik dirinya, masyarakat, maupun lingkungan Keraton.
"Dumateng Kito lan panjenengan sedoyo (meminta agar kita dan semuanya diberikan berkah)," ujar Hangabehi.
Ucapan tersebut mencerminkan niat ibadah yang tidak hanya bersifat personal, tetapi juga membawa doa kolektif bagi sesama.
Sementara itu, Ketua Takmir Masjid Ciptomulyo, Zaenal Abidin, menyebut kehadiran Hangabehi sebagai peristiwa yang tergolong langka.
Ia menuturkan bahwa sepanjang pengetahuannya, baru kali ini seorang Raja Keraton Solo melaksanakan salat Jumat di Masjid Ciptomulyo.
"Setahu saya ya baru ini (raja Solo yang jumatan di masjid Ciptomulyo)," pungkasnya.
Kehadiran Pakubuwono XIV Hangabehi di Masjid Ciptomulyo pun tercatat sebagai momen tersendiri dalam perjalanan sejarah masjid tersebut sebuah peristiwa sederhana, namun penuh makna, yang menyatukan dimensi spiritual, sejarah, dan identitas Keraton Solo dalam satu waktu.
***