SURYA.CO.ID, MOJOKERTO - Polisi beri pendampingan psikologis berupa Trauma Healing bagi para siswa yang terdampak, pasca insiden keracunan massal diduga usai mengkonsumsi soto ayam menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, (Jatim).
Trauma Healing difokuskan untuk memotivasi para siswa agar mereka kembali semangat belajar dan bersekolah dengan nyaman, serta menghilangkan fobia terhadap program strategis nasional tersebut.
Pendampingan juga menyasar para wali murid yang cenderung lebih protektif pasca insiden ini.
Kapolres Mojokerto, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Andi Yudha Pranata memimpin langsung kegiatan ini, dengan mengunjungi rumah-rumah siswa yang terdampak di antaranya kediaman siswa MZA dan WR (15) pelajar SD dan SMP di Desa Singowangi, dan rumah AN (6) siswi TK di Desa Wonodadi, Kutorejo.
Baca juga: 261 Siswa, Santri, dan Tenaga Pendidik di Kutorejo Kab Mojokerto Keracunan Massal Diduga dari MBG
Dalam kunjungannya, Kapolres Mojokerto Andi menekankan kegiatan mengunjungi rumah siswa terdampak merupakan bentuk dukungan nyata agar mereka kembali bersemangat belajar mengenyam pendidikan serta menerima program MBG.
"Kita berikan dukungan kepada para siswa maupun keluarga terdampak, sebagai bentuk empati kita dan kepedulian Polres Mojokerto. Kami memastikan mereka tidak merasa sendiri," ujar AKBP Andi, Jumat (23/1/2026).
Hasil dari kegiatan ini, lanjut AKBP Andi, dirinya memastikan tiga siswa terdampak kondisinya telah pulih total bahkan mereka telah beraktivitas sekolah.
Dalam kesempatan itu, Kapolres Mojokerto juga menyerahkan santunan bagi wali murid terdampak.
"Tadi saya melihat semuanya (Siswa) sudah pulih, dan kembali masuk sekolah. Pemerintah daerah juga memberikan bantuan terkait biaya pengobatan dan kebutuhan lainnya," pungkas Andi perwira Akpol lulusan 2025 tersebut.
Diharapkan melalui kegiatan persuasif ini, dapat menjadi motivasi bagi siswa yang mengalami gangguan pencernaan usai menyantap menu soto ayam dari menu MBG Kutorejo, meraka dapat sembuh total dari trauma dan terlebih pemerintah telah melakukan evaluasi terhadap SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) yang bersangkutan.
Dalam kegiatan ini Kapolres Mojokerto didampingi Wakapolres Mojokerto Kompol Ris Andrian Yudo Nugroho, Kasat Lantas, Kasat Intelkam, Kasat Binmas, Kapolsek Kutorejo dan Kasi Humas.
Sebelumnya, Menteri HAM (Hak Asasi Manusia), Natalius Pigai mendesak evaluasi total terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, (Jatim).
Penegasan ini disampaikan Pigai saat dirinya bersama Bupati Mojokerto Muhammad Albarra menjenguk pasien terdampak MBG Kutorejo, yang dirawat di RSUD Prof dr Soekandar, Mojosari, pada pada Rabu (14/1/2026).
Evaluasi dikhususkan bagi SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang-03, Pondok Pesantren Al Hidayah di Dusun Rejeni, Desa Wonodadi, Kutorejo imbas insiden keracunan pangan diduga dari soto ayam menu MBG (Makan Bergizi Gratis).
Pigai juga menyampaikan langsung kepada wali murid dan siswa terdampak dalam evaluasi nanti menekankan pergantian seluruh pekerja yang membuat makanan mampu yang menyajikan (MBG) ke sekolah (SPPG Kutorejo).
Jumlah korban terdampak peristiwa ini sebanyak 411 orang, yang meliput siswa, santri, tenaga pendidik hingga wali murid di 7 lembaga pendidikan jenjang PAUD/ TK, SD, SMP serta Madrasah Aliyah (MA).
"Saya sangat prihatin. Pemerintah tidak menerima begitu pun dengan Presiden pastinya tidak menerima peristiwa yang terjadi ini," ujar Menham Natalius Pigai saat forum pengawasan dan pembinaan pasca insiden MBG, digelar di RSUD Prof dr Soekandar, Mojosari, Rabu (14/1/2026) lalu.
Pigai mengungkapkan, program makan bergizi gratis di Indonesia bertujuan meningkatkan kesehatan dan kecerdasan generasi mendatang bahkan dalam satu tahun program ini telah menjangkau 56 juta anak yang jauh lebih cepat dibandingkan negara lain seperti Brazil dan India.
Namun, ada masalah dengan makanan yang tidak higiene dari beberapa produsen atau SPPG yang dikelola swasta yang menyebabkan 411 anak di Mojokerto sakit.
Pemerintah berkomitmen untuk mengevaluasi, dan memperbaiki sistem agar kejadian serupa tidak terulang.
"Evaluasi menyeluruh akan dilakukan terhadap produsen yang lalai, dan dukungan penuh diberikan kepada daerah yang terdampak untuk memastikan kesehatan anak-anak tetap terjaga," bebernya.
Menham Pigai juga menyampaikan, pentingnya Trauma Healing yang dilakukan seluruh unsur Pemerintah Daerah bagi para korban terdampak.
Pigam menemui pasien terdampak secara langsung, dan ia mendapati anak-anak maupun wali murid masih mengalami trauma akibat peristiwa ini.
"Kami pemerintah sebagai orangtua, kita harus bisa memberikan Trauma Healing agar menerima program yang sama untuk bisa dilanjutkan. Tadi sudah saya sampaikan ke anak-anak dan orangtuanya, kami akan ganti orang yang memberikan makanan hingga orang yang menyajikan makanan (SPPG)," tegasnya.
Pigai menilai, pergantian pemasok MBG Kutorejo menjadi bagian penting dari proses trauma healing yang sangat dibutuhkan bagi anak-anak dan wali murid agar mereka menerima kembali program strategis ini.
"Trauma healing harus tetap jalan, agar mereka tetap menerima program yang sama. Karena tidak ada satupun yang menyatakan tidak menerima program (MBG) ini saya, baik di Grobogan (Jateng) maupun Mojokerto (Jatim)," imbuhnya.