TRIBUNBANTEN.COM - Bencana banjir di wilayah Tangerang Selatan berdampak pada proses belajar mengajar salah satu Sekolah Menengah Atas Negeri.
Akibat terdampak banjir, pihak SMAN 4 Kota Tangerang Selatan terpaksa memutuskan untuk melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Banjir yang merendam lingkungan sekolah, pada Jumat (23/1/2026) mengharuskan para siswa untuk tidak melakukan proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas.
Guru sekaligus Humas SMAN 4 Tangsel, Siti Rukiah, mengatakan banjir sudah terjadi sejak pertengahan Desember 2025 dan semakin parah akibat hujan deras yang turun sejak malam hingga pagi hari.
“Sekolah kami terdampak genangan air ini sebenarnya dari pertengahan Desember 2025, diperparah tadi malam sampai pagi ini 23 Januari, sampai air masuk ke kelas,” ujar Siti Rukiah kepada TribunTangerang.com, Ciputat Timur, Tangsel, Jumat (23/1/2026).
Baca juga: Penjelasan Kepala BPBD Kota Tangerang soal Heboh Video Sirine Pintu Air 10 Mekarsari Dibunyikan
Ia menjelaskan, sedikitnya tujuh ruang kelas 10 terdampak langsung banjir sehingga pihak sekolah mengambil kebijakan untuk melaksanakan PJJ.
“Kelas 10 sebanyak tujuh kelas yang kena banjir. Air masuk ke kelas sehingga kegiatan belajar mengajar hari ini kami PJJ-kan,” jelasnya.
Awalnya, PJJ hanya direncanakan untuk siswa kelas 10 dan 11. Namun, banjir yang juga menggenangi akses menuju sekolah membuat kebijakan tersebut diperluas hingga mencakup seluruh siswa.
“Awalnya kita ambil sikap PJJ di kelas 10 dan 11 saja karena kelas 12 di lantai atas tidak kena air. Tapi akses depan sekolah juga dikelilingi banjir, maka kita putuskan PJJ hari ini untuk tiga angkatan, kelas 10, 11, dan 12,” ungkapnya.
Selain ruang kelas, fasilitas sekolah yang paling terdampak adalah lapangan olahraga. Genangan air di lapangan disebut tidak pernah surut sejak awal semester genap, sehingga berbagai kegiatan sekolah terpaksa dihentikan.
“Lapangan sudah tidak bisa digunakan untuk olahraga, senam, bahkan upacara. Sejak awal semester genap memang tidak dilaksanakan kegiatan di lapangan,” ungkapnya.
Terkait ketinggian air, Siti menyebut genangan sebelumnya mencapai 25 hingga 30 sentimeter dan kini bertambah.
“Sekarang sudah di atas betis, di bawah lutut saya saat ke lapangan,” ujarnya.
Menurutnya, genangan air tidak hanya disebabkan oleh hujan, tetapi juga kondisi geografis di sekitar sekolah.
“Di belakang sekolah ada rawa dengan ketinggian air lebih tinggi dari sekolah. Karena posisi sekolah lebih rendah, airnya tumpah ke sini,” jelasnya.
Pihak sekolah belum dapat memastikan hingga kapan PJJ akan diberlakukan dan masih menunggu kondisi air surut.
"Untuk PJJ belum bisa ditentukan sampai kapan. Mudah-mudahan kalau hujan tidak bertambah air bisa surut, meskipun lapangan diprediksi tidak akan surut,” tuturnya.
Baca juga: Drainase Mampet di Jalan Jenderal Ahmad Yani Rangkasbitung, Warga Minta Pemkab Segera Diperbaiki
Pihak sekolah berharap ada penanganan dari pihak terkait agar permasalahan banjir yang kerap terjadi dapat segera diatasi.
“Harapan kami satu, bebas banjir. Kegiatan belajar mengajar bisa berjalan normal karena PJJ tidak maksimal. Kami berharap ada solusi dari pihak-pihak terkait,” pungkasnya.
Pantauan TribunTangerang.com di lokasi pada pukul 11.40 WIB menunjukkan kondisi sekolah tampak sepi. Tidak terlihat adanya aktivitas siswa maupun guru di area sekolah. Sejumlah ruang kelas tampak kosong tanpa kegiatan pembelajaran.
Saat menuju area lapangan sekolah, seluruh permukaan lapangan terlihat tergenang air dengan ketinggian diperkirakan mencapai sekitar 30 sentimeter.
Genangan air tersebut bahkan meluas hingga ke area ruang kelas 10.
Tak sedikit air yang masuk ke dalam ruang kelas dan menggenangi lantai, sehingga merendam bagian bawah meja dan kursi berbahan besi.
Kondisi tersebut membuat aktivitas belajar mengajar secara tatap muka tidak memungkinkan untuk dilaksanakan.