Oleh: Donny Fransiskus Manalu (Dosen Program Studi Teknik Sipil, Universitas Bangka Belitung)
PROVINSI Kepulauan Bangka Belitung dikenal sebagai salah satu daerah penghasil timah terbesar di Indonesia. Namun, di balik sumbangsih ekonomi tersebut, aktivitas pertambangan timah juga meninggalkan masalah lingkungan yang tidak kecil, salah satunya adalah melimpahnya material sisa tambang yang dikenal sebagai tailing timah. Selama ini, tailing sering dipandang semata-mata sebagai limbah, padahal dari kacamata rekayasa sipil (teknik sipil), material ini menyimpan potensi yang patut dipertimbangkan.
Salah satu peluang paling masuk akal adalah pemanfaatan pasir tailing timah sebagai bahan penyusun beton, khususnya untuk beton non-struktural.
Secara fisik, tailing timah di Bangka Belitung umumnya berupa pasir halus dengan kandungan silika yang cukup tinggi. Ukuran butirnya relatif seragam, menyerupai pasir alam, meskipun sebaran ukuran butir (distribusi gradasi) sering kali perlu disesuaikan agar memenuhi persyaratan teknis sebagai agregat halus beton.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa dengan pengolahan sederhanaseperti pencucian, pengayakan, dan pengendalian kadar lumpur, pasir tailing timah dapat memenuhi kriteria dasar material campuran beton. Artinya, material yang selama ini dianggap sebagai beban lingkungan justru dapat dialihkan menjadi sumber daya konstruksi.
Dalam dunia teknik sipil, beton tidak selalu digunakan untuk elemen struktural seperti balok, kolom, atau pelat bangunan bertingkat. Banyak produk beton yang bersifat non-struktural, antara lain paving block, kanstin, bata beton, beton pracetak ringan, hingga elemen drainase lingkungan. Pada jenis aplikasi ini, tuntutan kekuatan memang tetap ada, tetapi tidak seketat beton struktural.Beton non-struktural tidak memikul beban berat dan bukan penahan beban utama.
Di sinilah pasir tailing timah memiliki nilai guna. Sejumlah studi eksperimental memperlihatkan bahwa beton dengan substitusi sebagian atau seluruh agregat halus menggunakan tailing timah masih mampu mencapai kuat tekan yang memadai untuk aplikasi non-struktural. Dengan perencanaan campuran yang tepat, kekuatan dan ketahanan beton tetap dapat dikontrol sesuai kebutuhan lapangan.
Penggunaanpasir tailing timah dalam beton non-struktural memberikan dua keuntungan sekaligus. Pertama, dari sisi lingkungan, penggunaan tailing membantu mengurangi volume limbah tambang yang menumpuk di lahan terbuka, kolong bekas tambang, maupun area pesisir. Kedua, dari sisi konstruksi, pemanfaatan material lokal dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasir alam yang selama ini dieksploitasi dari sungai, gunung atau pantai.
Pengurangan eksploitasi pasir alam bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga persoalan makhluk hidup dan lingkungan. Erosi, pendangkalan sungai, kerusakan gunung dan pesisir adalah dampak nyata dari pengambilan pasir yang tidak terkendali. Dalam konteks ini, tailing timah dapat berperan sebagai pilihan yang ramah lingkungan.
Meski potensinya besar, pemanfaatan pasir tailing timah tidak lepas dari hambatan dan tantangan. Variasi karakteristik material antar lokasi tambang, pandangan negatif masyarakat terhadap “limbah”, serta belum adanya standar teknis yang spesifik menjadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan. Oleh karena itu, peran perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan pemerintah daerah menjadi sangat penting dalam menyediakan dasar keilmuan dan kebijakan penunjang.
Studi percontohan berskala kecil, seperti penggunaan paving block berbahan tailing untuk infrastruktur lingkungan desa, dapat menjadi langkah awal yang efektif untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat.
Daripada sekadar menganggap limbah timah sebagai masalah, sudah saatnya kita mulai melihatnya sebagai peluang. Untuk beton non-struktural, pasir tailing timah menawarkan solusi yang secara teknis memungkinkan, secara lingkungan lebih ramah, dan dari sisi ekonomi berpotensi meningkatkan kesejahteraan warga setempat.
Bangka Belitung memiliki kesempatan untuk menjadi contoh bagaimana wilayah bekas tambang berubah menuju lebih baik melalui penerapan teknologi yang beretika. Dengan penelitian yang berkelanjutan dan kebijakan yang tepat, pasir tailing timah bukan hanya sisa masa lalu, tetapi bagian dari solusi pembangunan masa depan. (*/E7)