Cuaca ekstrem yang melanda Jabodetabek dalam beberapa waktu terakhir menjadi perhatian berbagai pihak. Selain berdampak pada lingkungan dan aktivitas masyarakat, kondisi ini juga dinilai berisiko memengaruhi kesehatan tubuh.
Guru Besar Bidang Ilmu Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Universitas Indonesia (UI) Prof Dr dr Erlina Burhan mengatakan cuaca ekstrem berupa hujan berkepanjangan yang terjadi belakangan ini berdampak pada perubahan suhu dan kelembapan udara.
Kondisi tersebut secara tidak langsung meningkatkan kerentanan tubuh terhadap penyakit infeksi, khususnya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Bakteri dan virus penyebab ISPA diketahui dapat berkembang lebih optimal pada lingkungan dengan suhu dingin dan tingkat kelembapan tinggi.
Pada saat daya tahan tubuh menurun, lanjutnya, paparan udara dingin dan lembap dapat mengganggu fungsi pertahanan alami saluran napas. Lapisan mukosa yang berperan menyaring kuman menjadi kurang efektif, sehingga bakteri dan virus lebih mudah masuk dan menginfeksi tubuh.
"Perlu diperhatikan bahwa kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta individu dengan penyakit kronis atau gangguan kekebalan tubuh memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami gejala yang lebih berat maupun komplikasi," ucapnya saat dihubungi detikcom, Jumat (23/1/2026).
Untuk mencegah penularan, ia mengimbau menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Upaya yang dianjurkan antara lain rutin mencuci tangan, menerapkan etika batuk dan bersin, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, tidur cukup, serta berolahraga secara teratur.
"Jangan lupa jaga tubuh tetap hangat dan kering, serta segera cari pertolongan medis apabila mengalami gejala infeksi pernapasan yang menetap atau memberat," ucapnya lagi.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi peningkatan cuaca ekstrem di sebagian wilayah Indonesia.
Berdasarkan analisis dinamika atmosfer terbaru, wilayah yang mencakup Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara diperkirakan mengalami peningkatan intensitas hujan menjelang akhir Januari 2026.
Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani menjelaskan terdapat sejumlah faktor teknis yang memengaruhi kondisi cuaca sepekan ke depan. Pertama, adanya Bibit Siklon Tropis 97S di Samudra Hindia selatan Indonesia dengan kecepatan angin maksimum sekitar sistem mencapai 15 knot (28 km/jam) dan tekanan udara 1001 hPa.
"Pergerakan sistem 97S ke arah barat dapat memicu penguatan pertemuan serta belokan angin dari pesisir barat Sumatera hingga Nusa Tenggara, yang dapat memicu peningkatan pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia bagian selatan," ujar Andri.
Di sisi lain, Monsun Asia menguat hingga 23 Januari 2026 yang disertai dengan seruakan dingin (cold surge) yang signifikan dari wilayah daratan Asia. Fenomena ini meningkatkan kecepatan angin di Laut China Selatan dan memicu pertumbuhan awan hujan secara masif di wilayah selatan khatulistiwa.
Secara bersamaan, aktifnya Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Equator, dan Kelvin, yang didukung nilai OLR negatif, memperkuat pembentukan awan Cumulonimbus di atmosfer.
Kondisi tersebut berpadu dengan kelembapan udara yang tinggi pada lapisan bawah hingga menengah atmosfer. Labilitas atmosfer yang kuat ini mendukung penuh proses konvektif skala lokal di wilayah Indonesia bagian selatan. Kombinasi seluruh faktor tersebut secara aktif memicu potensi cuaca ekstrem di berbagai wilayah terdampak.







