Belajar dari Abah Entang dan Desa yang Belajar Berdiri di Kakinya Sendiri
GH News January 23, 2026 05:09 PM
Bandung -

Mari belajar tentang kehidupan kepada Abah Entang, sosok teladan yang berhasil mengubah kebiasaan warga dalam mengelola sampah.

Pagi itu, suasana di TPS 3R Desa Kopo didatangi warga secara bergiliran sambil membawa kantong berisi sampah organik. Di sudut bangunan, Abah Entang berdiri memperhatikan proses penimbangan, sesekali menyapa warga yang datang.

Rutinitas sederhana ini mencerminkan perubahan kebiasaan warga dalam mengelola sampah secara mandiri. Abah Entang, nama yang oleh masyarakat Kopo diucapkan dengan akrab, menceritakan kembali masa ketika persoalan sampah masih membebani desa.

Kontainer di pinggir jalan sering penuh berhari-hari karena truk pengangkut datang tidak menentu. "Kalau telat, warga sampai bingung mau buang ke mana," katanya.

Situasi itulah yang membuatnya mencari cara agar Kopo tidak terus bergantung pada ritme pengangkutan di tingkat kabupaten. Solusi tersebut diwujudkan melalui berdirinya TPS 3R "Leuwi Huut".

Di tempat itu, warga kini terbiasa memilah sampah sejak dari rumah sebelum menyetorkannya. Sampah yang terkumpul kemudian diolah melalui budidaya maggot yang dikelola kader lingkungan desa, sehingga sebagian besar limbah organik tidak lagi berakhir di TPA.

Abah menjelaskan bahwa insentif sebesar Rp 300 per kilogram bukan sekadar pemancing partisipasi, tetapi strategi untuk membangun kebiasaan jangka panjang.

Entang tidak mengubah desa seorang diri. Ia mengajak perangkat desa, RT/RW, dan kader lingkungan untuk bergerak bersama. Baginya, insentif yang diterima perangkat desa harus sejalan dengan kinerja nyata.

"Kalau sudah dikasih amanah, ya harus ada bukti kerja untuk warga," tegasnya.

Selama berbincang dan mengamati kegiatan warga, terasa bahwa perubahan di Kopo tidak lahir dari program besar, melainkan dari rutinitas kecil yang dilakukan bersama.

Abah Entang merangkum pandangannya dengan singkat, "Kalau warga merasa punya peran, desa ini bisa jalan sendiri."

Pengalaman Kopo memperlihatkan bahwa kemandirian tidak datang tiba-tiba. Ia tumbuh dari kesediaan untuk melihat ulang persoalan yang dianggap biasa, lalu mengubahnya pelan-pelan melalui tangan warga sendiri. Dan bagi Kopo, langkah-langkah kecil itu kini mulai memperlihatkan bentuknya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.