TRIBUNJATIM.COM - Sopir angkot di Kota Bogor bernama Misin alias Erik (60) menceritakan kegetiran hidupnya baru-baru ini.
Tak punya ijazah SD untuk mencari pekerjaan lain, Misin menggantungkan hidup hanya dari menjadi sopir angkot.
Misin, sopir angkot di Kota Bogor itupun berkeluh kesah baru-baru ini seperti dikutip TribunJatim.com dari hasil penelusuran TribunnewsBogor.com, Jumat (23/1/2026).
Misin merupakan satu dari ratusan sopir angkot di Kota Bogor yang protes terkait wacana penghapusan angkot.
Misin alias Erik (60), seorang sopir angkot di Kota Bogor ini rupanya punya cerita masa lalu yang memilukan.
Di usia yang sudah melewati paruh baya, kini dia berjuang agar masa kecilnya yang berat tak ikut dirasakan oleh anak-anaknya.
Sebab sejak masih kecil, rupanya Erik sudah menggantungkan hidup dari angkot demi mencari makan setelah dia ditinggal wafat sang ayah di usia yang masih dini.
Saat masih kecil, warga kelahiran Kota Bogor ini tak langsung menjadi sopir angkot, dia awalnya hanya ikut bantu-bantu sopir angkot yang lain.
Namun di saat yang sama, Misin putus sekolah, bahkan ijazah SD pun kini dia tak punya.
Baca juga: Syifa Terancam Hukuman usai Viral Jadi Tentara Amerika, Ibunda Tampak Santai: We Are Proud of You
Setelah menikah dan kini menjadi seorang ayah, Misin masih menggantungkan hidup dari angkot, menjadi sopir dengan mobil yang dibeli hasil kredit Rp 1 Juta sebulan.
Meski profesinya sopir angkot, Misin kini tetap memperjuangkan anak-anaknya agar sekolah tinggi.
Erik tak ingin rasa pahit dan sulit masa lalunya dirasakan oleh anak-anaknya.
Misin yang kerap dipanggil Bang Erik ini TribunnewsBogor.com temui di depan Balai Kota Bogor pada Kamis (22/1/2026).
Terpantau misin yang rambutnya sudah beruban ini ikut dalam aksi unjuk rasa para sopir angkot Kota Bogor.
Baca juga: Kritik Mantan Dubes Atas Keputusan Pemerintah Indonesia Masuk Dewan Perdamaian Buatan Donald Trump
Sambil duduk di kursi angkotnya, Misin menjabarkan kondisi masa kecilnya saat berbincang dengan TribunnewsBogor.com.
"Saya (kerja) di angkot dari SD ikut orang lain, karena ayah saya sudah meninggal," cerita Misin.
Dia menjelaskan bahwa dia berasal dari tujuh orang bersaudara.
Sementara ibunya harus mengurus ketujuh anaknya ini sendirian setelah ditinggal wafat suami.
"Adik saya tiga, kakak saya tiga, ibu saya, berarti udah tujuh tuh, delapan sama saya," kata Misin menjelaskan kondisi keluarganya saat masih kecil.
Misin mencoba mencari uang dari angkot demi membantu keluarganya, setidaknya dia tak ingin memberatkan beban ibunya.
Masa sekolahnya pun dikorbankan, hingga Misin pun kini tak punya ijazah SD karena putus sekolah.
Barulah setelah kakak-kakaknya dan dirinya berkorban, adik-adiknya baru bisa masuk sekolah.
Sampai Misin dewasa dan terusnmenekuni profesi sopir, dia tak hanya mengandalkan angkot, Misin juga mengaku pernah menjadi sopir bus.
"Adik-adik saya ada yang SMP, ada yang SMA, sampai saya sekolahkan, saya yang gugur (putus sekolah)," kata Misin.
"Sampai saya kerja di Transpakuan, sampai gaji saya masih dipending hingga sekarang," imbuhnya.
Misin mengaku bahwa dia punya empat orang anak, satu anaknya sudah kuliah semester tujuh.
Namun satu anak lainnya yang juga siap kuliah terpaksa ditunda tak melanjutkan pendidikan karena masalah biaya.
"Anak saya empat, yang kuliah satu, yang mau kuliah lagi sekarang dipending, karena gak ada biaya. Kalau kemaren-kemaren istri saya masih kerja, sekarang sudah pensiun," katanya.
Dia mengaku bahwa menjadi sopir angkot kini kian tak mudah dibanding masa lalu.
Pendapatannya perhari dari sopir angkot sekarang sudah tak cukup untuk rumah tangga.
"Pendapatan bisa Rp 100.000 dapet (per hari), buat rumah tangga apa cukup ?. Rp 100.000 sekarang itu gak cukup," katanya.
Kesulitan yang dialami Bang Erik terancam kian menjadi-jadi setelah angkotnya terancam dihapus pemerintah.
Karena Pemkot Bogor berencana menghapus angkot tua produksi tahun 2005 ke bawah, sedangkan angkot milik Erik produksi tahun 2002 sehingga dia ikut terancam.
Jika angkotnya benar-benar dihapus, Misin sulit membayangkan bagaimana dia mencari nafkah untuk keluarganya nanti.
"Kami tidak setuju apabila ada penghapusan (angkot) 2005 ke bawah. Kami keberatan, total kami keberatan," kata Bang Erik.
Dia berharap ada kebijakan dari Pemkot Bogor untuk menunda rencana itu sampai 2030.
Kemudian nantinya bisa dilakukan peremajaan armada angkot menggunakan mobil bekas tahun produksi muda.
"Karena kami tidak mampu untuk membayar cicilan kalau menggunakan mobil baru. Seperti kita DP Rp 50 Juta, terus cicilan empat tahun dikali Rp 4,5 Juta per bulan, kita udah gak mampu," ungkapnya.