TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengungkapkan, pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG) di Cialcap dan Purwokerto hampir sempurna.
Dia pun memastikan, para pelajar menginginkan program unggulan Presiden Prabowo Subianto itu terus berlanjut.
Hal ini disampaikan Zulhas saat bertemu sejumlah pelaku Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wilayah Cilacap, Purwokerto, dan sekitarnya di Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Baturraden (BBPTUHPT) Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (23/1/2026).
Zulhas mengatakan, dirinya mengecek langsung SPPG dan MBG ke SMA 1 dan SMA 2 Cilacap serta SMA 1 dan SMA 2 Purwokerto.
"Hari ini, ya mengunjungi, memastikan SPPG di Cilacap, Purwokerto, berjalan dengan baik."
"Alhamdulillah, hampir sempurna."
"Saya lihat SPPG-nya dan saya juga tadi ketemu dengan penerima manfaat."
"Anak-anak semua gembira, happy."
"Saya tanya, 'terus apa tidak?', semua serempak, nggak boleh berhenti, harus lanjut," kata Zulhas.
Baca juga: Sasar 7,5 Juta Warga Jateng, MBG Jalan Terus Selama Puasa
Ia berharap, program MBG terus berjalan dalam jangka panjang.
"Mudah-mudahan, setahun, dua tahun, tiga tahun, akan terjadi perubahan."
"Kita akan melahirkan anak-anak yang kuat fisiknya dan generasi cerdas pikiran otaknya," ujarnya.
Dalam pertemuan dengan SPPG itu, Zulhas menerima berbagai masukan dan keluhan, di antaranya persoalan distribusi susu, perbedaan harga, hingga edukasi penerima manfaat terkait susu pasteurisasi.
Seperti disampaikan Hartono, pelaku SPPG asal Banjarnegara, yang mengeluhkan masalah distribusi susu MBG
Ia menyebut, distribusi susu MBG membutuhkan kendaraan khusus agar susu tetap segar saat sampai di tangan penerima.
"Butuh kendaraan khusus yaitu frozen sehingga susu dalam keadaan fresh," katanya kepada Zulhas.
Menanggapi hal itu, Zulhas mengakui, distribusi susu memang memerlukan fasilitas rantai dingin.
"Betul, harus ada mobil atau container khusus yang membawa susu hasil dari produksi."
"Nanti, kalau ada Kopdes (Koperasi Desa), akan ada pengadaan cold storage khusus yang mengangkut atau mobil khusus yang mengangkut susu-susu itu," jelasnya.
Pelaku SPPG Cilacap, Puji, juga mengusulkan agar harga susu dibedakan antara harga eceran dan harga grosir.
"Jelas, nanti harus dibedakan, masa eceran sama grosir sama, itu ada hukum ekonominya," jawab Zulhas menanggapi usulan tersebut.
Baca juga: Siasat Pemkab Banyumas Usai Dana Transfer Dikurangi, Gelar Beauty Contest Dapat Rp 1,1 Miliar
Masukan lain datang dari Nabila, pelaku SPPG Pandak Baturraden yang menyebut, penerima manfaat masih awam terkait susu pasteurisasi.
"Susu pasteurisasi masih ada yang butuh pencerahan penerima manfaat karena masih banyak orangtua mempertanyakan apakah susu itu aman atau tidak," katanya.
Zulhas menegaskan keamanan susu tetap terjamin selama telah dinyatakan layak oleh BPOM.
"Kalau dari POM-nya ada layak sehat, aman, layak ya aman."
"Tapi memang kalau ada panduannya harusnya aman," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Zulhas juga menyoroti produksi susu dalam negeri yang belum mencukupi kebutuhan nasional.
"Belum, kita impornya masih banyak."
"Banyak, hampir 50 persen masih impor," katanya.
Kepala BBPTUHPT Baturraden, Dani Kusworo mengatakan, produksi susu di BBPTUHPT saat ini sekitar 7.000 liter per hari.
"Artinya potensi untuk membuat susu dalam bentuk botol, cup, itu bisa sampai memenuhi 60.000 botol setiap hari."
"Artinya 60.000, kalau 1 SPPG (butuh) 3.000, itu bisa (memenuhi) 20 SPPG. Bisa kita penuhi," katanya.
Namun, kapasitas produksi kemasan masih terbatas karena mesin yang belum mencukupi.
"Baru kita penuhi itu, baru 17.000 cup atau botol susu per hari."
"Karena mesinnya kita masih kurang, masih kita datangkan," ujarnya.
Baca juga: Daftar 13 Gapoktan Banyumas Penerima Bantuan Alsintan, Sartim: Terima Kasih Pak Prabowo!
Pihaknya akan menyediakan mobil pendingin untuk distribusi ke SPPG di wilayah Purwokerto, Banyumas, dan sekitarnya.
Dani menjelaskan, produksi susu sebelumnya sekitar 4.000 liter per hari dan meningkat setelah kerja sama dengan SPPG serta peningkatan kualitas sapi.
"Kita tingkatkan kualitas sapinya sehingga sapinya tadinya produksi susunya masih 10 liter, sekarang sudah 15 liter."
"Artinya, dengan sapi yang tetap tapi produksinya meningkat," katanya.
Ia menargetkan, produksi susu bisa mencapai 10.000 liter per hari dengan perbaikan pakan dan manajemen peternakan.
Untuk sektor swasta, Dani menyebutkan, keterlibatan PT Suri di kawasan Manggala dengan kandang berkapasitas 250 ekor sapi.
"Kandangnya sudah beres semua, sudah ada tempat pemerahan segala macam, tapi sapinya belum masuk."
"Sapinya impor dari Australia, rencananya Januari akhir atau Februari awal akan masuk," jelasnya. (*)