Banda Aceh (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Timur menyatakan 1.479 hektare ladang warga di kabupaten itu gagal panen akibat terendam banjir pada akhir November 2025.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Kabupaten Aceh Timur Syahrizal Fauzi di Aceh Timur, Jumat. mengatakan sebagian besar ladang terdampak bencana berada di dataran rendah dan dekat aliran sungai.

"Ladang masyarakat menjadi sektor yang terdampak cukup berat. Banyak tanaman warga terendam air selama beberapa hari, sehingga berisiko mengalami kerusakan hingga gagal panen. Hingga saat ini, tercatat seluas 1.479 hektare ladang gagal panen," katanya.

Ia mengatakan ladang terdampak bencana hidrometeorologi tersebut sebagian besar ditanami tanaman pangan. Ladang untuk berkebun tersebut menjadi sumber penghasilan utama masyarakat.

Menurut Syahrizal Fauzi, kerusakan pada ladang tersebut tidak hanya berdampak pada hasil panen saat ini, tetapi juga berpotensi mempengaruhi kondisi ekonomi petani dalam beberapa bulan ke depan.

BPBD, kata dia, hingga saat ini masih terus mendata ladang masyarakat terdampak bencana. Seluas 1.479 hektare ladang yang terdata tersebut bersifat sementara dan dapat bertambah seiring proses verifikasi di lapangan.

"Kami terus berkoordinasi dengan keuchik atau kepala desa dan petugas di lapangan untuk memastikan data yang didapat benar dan akurat. Fokus kami adalah memastikan kondisi masyarakat dan mendata dampak nyata yang mereka alami," kata Syahrizal Fauzi.

Sementara itu, Mulyadi, warga terdampak bencana, mengaku mengalami kerugian besar akibat banjir karena tanaman yang sudah hampir panen kini rusak dan membusuk.

"Air naik cepat, ladang kami langsung terendam. Tanaman yang sudah kami rawat berbulan-bulan rusak semua. Kami khawatir tidak ada hasil panen kali ini," kata Mulyadi.

Selain kerusakan tanaman, banjir menyisakan lumpur dan sampah di area ladang, sehingga membutuhkan waktu dan biaya tambahan untuk membersihkannya sebelum dapat kembali diolah.

"Setelah air surut pun ladang tidak bisa langsung ditanami lagi. Banyak lumpur dan tanaman mati. Kalau tidak ada bantuan, kami kesulitan untuk mulai kembali," kata Mulyadi.