Kisah Meylani Korban TPPO Asal Manado di Libya: Menyamar Demi Nyawa, Nekat Lintasi Benghazi-Tripoli
January 23, 2026 09:22 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID - "Kami kini hanya bisa berdoa," kata Olivia dengan mata berkaca - kaca dan ekspresi putus asa. 

Kakak dari Olivia yakni Meylani Madalombang adalah pekerja Migran asal Manado yang terjebak di Libya. 
Ia diduga alami penganiayaan oleh majikan di sana. 

Meylani kini dalam keadaan sakit. Tapi ia tak diizinkan pulang. 

Tribunmanado menjumpai Olivia dan keluarganya di Kelurahan Paal Empat Lingkungan 4, Kecamatan Tikala, kota Manado, Provinsi Sulut, Jumat (23/1/2026). 

Sakit Olivia sepertinya juga sakit keluarganya. Mereka kelihatan remuk, patah hati, putus asa. 

"Setiap kali ia VC minta pulang karena sudah dieksploitasi dan dalam keadaan sakit, tapi apa yang kami bisa," kata dia. 

Ia bercerita, Olivia memang berkeinginan kerja di luar negeri. 

Alasannya ingin ada tambahan penghasilan. 

"Awalnya ia lewat sebuah perusahaan, namun datang seseorang penyalur yang menawarkan agar berangkat lebih cepat," kata dia. 

Saat pengurusan, kata dia sang kakak ditawarkan paspor wisata. Ia heran dan bertanya.

"Namun katanya cuma sementara," katanya. 

Setiba di bandara, orang tersebut berkata bahwa ia akan diberangkatkan di Dubai. Ia pun protes.

"Karena kan kakak ditawarkan kerja di Turki, tapi orang itu berkata kamu harus ganti rugi, saat itu kakak hanya 
berkata ya saja," katanya. 

Dari Manado, Meylani menuju ke Makassar, lantas ke Jakarta. 

Ada agen yang menjemput di Jakarta. 

"Kemudian kakak saya naik Oman Air," kata dia. 

Dua minggu lamanya, ia berada di Dubai.

Tapi ternyata pekerjaan yang dibutuhkan di sana adalah masak memasak. Ia hendak dibawa ke Libya. 

"Sedang saya pembantu rumah tangga," katanya. 

Meylani mengeluh, tapi malah ditampar agen. Ponselnya pun sempat diambil. 

Jadilah ia ke Libya. Di sana ia dipekerjakan di Benghazi. 

Majikan pertamanya ternyata cek cok. Hanya dua minggu ia bekerja di sana. 

"Kemudian kakak pindah majikan, di sinilah ia kerap dianiaya majikan perempuan, ia kerap dilempari barang tajam, suatu kali kena di tangannya, ia minta diobati, tapi tak digubris," kata dia.

Karena tak tahan, Meylani minggat. Nekat. Ia hanya bawa baju di badan, ponsel serta charger. 

Meylani lari di cafe untuk mencari sinyal. 

"Tiba tiba kakak saya teringat di pesawat ada seorang pramugara bernama Mohammad, ia berkata kalau terjadi apa-apa hubungi nomor saya, ia berikan nomornya pada kakak," kata dia. 

Meylani pun menghubungi si pramugara. Tak lama kemudian Mohammad datang. 

Ia lantas dibawa ke saudara temannya. 

"Yang menampung mereka sangat baik, mereka baik sekali, kakak saya dipekerjakan dan diperlakukan dengan baik, tapi kakak tak mungkin berada terus di sana, ia harus segera ke Tripoli, di sana ada KBRI Indonesia," katanya. 

Masalahnya bukan hal mudah ke Tripoli. Dari Benghazi ke sana butuh surat. 

Keluarga yang baik itu membawa kakak saya lewat bus dengan menyamar. 

Tiba di KBRI, persoalan tak selesai. Seorang staf di sana menyatakan ia harus membayar sejumlah uang ke agen. 

"Persoalannya kakak saya tak punya uang, semua sudah ia tinggalkan," kata dia. 

Ia pun dicarikan majikan baru di Tripoli. 

Sayang, majikan baru ini sebelas dua belas dengan yang lama. 

"Waktu kerja kakak sudah melebihi, jam tidurnya hanya sedikit, ia kerja dari pagi hingga malam sampai majikan pulang, ia dipaksa bekerja," ujar dia. 

Meylani benar benar tersiksa. Punggung dan kakinya sakit akibat kerja berlebih. 

Untuk bangun saja, ia kesulitan. 

"Saya minta pulang saja ke majikan tapi tak diizinkan," kata dia. 

Video Meylani Menangis

Tribun manado beroleh video Meylani. Dalam video itu, Meylani minta tolong sambil menangis. 

"Saya korban TPPO, awalnya dijanjikan penyalur untuk bekerja di Turki, tapi kemudian saya dibawa ke Dubai dan setelah itu Libya, di sini saya terjebak selama 11 bulan, bekerja sebagai IRT tanpa surat kontrak, saya dipekerjakan secara berlebihan, dieksploitasi, saya tak kuat, saya sudah sakit tulang belakang saya, majikan tak mau memulangkan saya, saya minta tolong pada menteri luar negeri, BP2MI dan Menteri HAM," kata dia. 

Tribun manado menjumpai keluarga Meylani di Kelurahan Paal Empat lingkungan empat, Kecamatan TIkala, kota Manado, provinsi Sulut, Jumat (23/1/2026). 

Mereka tampak seperti sudah putus asa. 

Segala daya untuk memulangkan Meylani seperti membentur tembok tebal. 

"Kami sudah coba berbagai cara, tapi tidak berhasil," katanya Olivia Sangkay, adik korban sambil berurai air mata. 

Ia bercerita sang kakak diduga mengalami penyiksaan di dua majikannya. 

Pada majikan pertama di Benghazi, Meylani kerap mendapat lemparan benda tajam dari majikan perempuannya.

"Sebuah lemparan pisau melukai tangan kakak saya, kakak lantas minta pengobatan tapi tak diberikan," katanya. 

Lain lagi dengan majikan kedua di Tripoli. 

Sang kakak kerap dipekerjakan secara berlebihan.

"Tanpa batas waktu, ia hanya tidur sedikit, lalu bangun pagi dan bekerja hingga sang majikan pulang pada malam hari," katanya. 

Sebut dia, sang kakak mengeluh kaki dan pinggangnya sakit sampai sulit bangkit dari tempat tidur. 

Tapi majikan tak peduli. 

"Mereka terus memaksanya bekerja," katanya. 

Ungkap dia, Meylani kerap curhat padanya lewat video call. 

Tampak bila badannya sudah kurus.

"Badannya kurus dan kelihatan sedih sekali, saya selalu kuatkan dia, minta dia terus berdoa agar ada jalan keluar," katanya. 

Ia mengatakan, butuh perjuangan bagi sang kakak untuk meneleponnya.

Karena akses wifi dibatasi baginya. 

"Dirinya sering cari tempat yang ada sinyal lalu curi curi menelepon saya, dia minta agar saya cepat cepat membawanya, tapi apa yang bisa kami lakukan," kata dia. 

Pada kesempatan itu, Olivia mewakili keluarga minta bantuan kepada Presiden RI Prabowo Subianto, Menteri serta Gubernur Sulut Yulius Selvanus untuk membantu kepulangan kakaknya. 

"Dia sudah sangat menderita, kami minta tolong kepada bapak Presiden RI Prabowo Subianto, Menteri serta 
Gubernur Sulut Yulius Selvanus," kata dia. (Art) 

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.