TRIBUNMANADO.CO.ID - Rumah duka almarhum Florencia Wibisono di Kelurahan Taler, Kecamatan Tondano Timur, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, terus didatangi pelayat, Jumat (23/1/2026) malam.
Pihak keluarga pun mengelar ibadah pra pemakaman.
"Malam ini kita buat ibadah pra pemakaman dengan jemaat," ujar Nadia salah satu kerabat keluarga.
Menurutnya, sejak pagi hingga malam banyak sekali orang yang datang untuk melihat Florencia yang terkahir kalinya.
Bahkan teman-teman pramugarinya juga datang untuk melayat.
"Florencia orang baik sehingga banyak yang datang," ungkapnya.
Diketahui, Florencia Wibisono menjadi salah satu korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) rute Yogyakarta-Makassar yang jatuh di wilayah antara Kabupaten Maros dan Pangkep, pada Sabtu (17/1/2025).
Baca juga: Sambut Jenazah di Manado, Keluarga Florencia Wibisono Harap Korban Lain Bisa Segera Dipulangkan
Florencia rencananya akan dimakamkan pada, Sabtu (24/1/2026) sekitar pukul 12.00 Wita.
Jenazah korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 PK-THT di Sulsel, Florencia Wibisono, telah tiba di Sulawesi Utara, Jumat (23/1/2026).
Jenazah disambut tangis keluarga di Terminal Kargo Bandara Internasional Sam Ratulangi, Manado.
Kakak kandung dan ipar korban, Natasya Wibisono dan Felix Agoes, beserta anaknya turut menjemput jenazah perempuan yang akrab disapa Olen ini.
Mereka didampingi oleh Rabbi Yakov Baaruch.
Natasya dan Felix tampak lebih tegar, sedangkan sejumlah anggota keluarga lainnya menangis hingga berteriak.
Setibanya di terminal kargo, keluarga sempat mengadakan ibadah singkat.
Natasya menyebut bahwa jenazah Florencia tidak akan langsung dimakamkan.
Jenazah lebih dulu dibawa ke rumah duka di Kelurahan Taler, Kecamatan Tondano Timur, Kabupaten Minahasa, untuk menjalani serangkaian ibadah.
"Sampai di sana ada ibadah penyambutan, kemudian nanti malam akan ada ibadah penghiburan untuk keluarga,” ujar Natasya.
Rangkaian prosesi akan dilanjutkan keesokan harinya dengan ibadah pelepasan sebelum jenazah dimakamkan.
“Baru besok sekitar pukul 12.00 Wita ada ibadah pelepasan dan jenazah akan dimakamkan di pemakaman keluarga di Desa Ranomerut,” katanya.
Jenazah Florencia sendiri ditemukan tak jauh dari bangkai pesawat.
Beruntung jenazahnya masih utuh sehingga mudah diidentifikasi.
Florencia Wibisono menjadi salah satu korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) rute Yogyakarta-Makassar yang jatuh di wilayah antara Kabupaten Maros dan Pangkep, pada Sabtu (17/1/2025).
Kepergian Florencia meninggalkan duka bagi keluarga termasuk teman-teman kelasnya semasa masih bersekolah.
Tesa sahabat dekat Florencia mengungkapkan sosok sahabatnya itu semasa bersekolah di SMA Negeri 1 Tondano.
Tesa mengungkapkan Florencia yang akrab disapa Olen sangat humble dan takut Tuhan.
Bahkan pribadi yang friendly dan dewasa sehingga banyak orang sangat suka terhadapnya.
"Dari postingan orang-orang bisa dilihat pribadinya seperti apa. Bahkan sampai orang tidak dekat pun bisa kenal Olen seperti apa.
Dia baik sekali, friendly, hangat, super care, dewasa, gigih orangnya, terlebih sangat cinta Tuhan," ungkapnya.
Menurutnya, Florencia seorang pekerja keras dan selalu berusaha dengan apa yang ingin diraihnya.
"Apa yg ingin dia capai, pasti dia akan berusaha sekali untuk capai itu," ungkapnya.
Tesa pun merasa kehilangan atas kepergian sahabat terbaiknya itu.
"Sangat terpukul dan tidak percaya kalau Olen telah terbang jauh," tandasnya.
Dia berdoa semoga pihak keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan.
"Kami turut berdukacita semoga keluarga diberikan kekuatan," pungkasnya.
Sosok Florencia Lolita Wibisono dikenal memiliki pengalaman panjang di dunia penerbangan.
Florencia atau Ollen, sapaan akrabnya, diketahui baru sekitar tiga bulan bertugas di pesawat ATR 42-500 milik Air Indonesia Transport.
Informasi tersebut disampaikan oleh Ramos, anggota keluarga Florencia, saat ditemui di rumah orang tua korban di Jalan Donald Isaac Panjaitan, Kelurahan Taler, Kecamatan Tondano Timur, Kabupaten Minahasa, Minggu (19/1/2026).
“Kira-kira baru tiga bulan dia kerja di pesawat itu,” ujar Ramos saat diwawancarai.
Sebelum bergabung dengan Air Indonesia Transport, Florencia tercatat menghabiskan sebagian besar kariernya sebagai pramugari di maskapai Lion Air.
“Kurang lebih 14 tahun dia di Lion Air,” ungkap Ramos.
Tak hanya berpengalaman sebagai pramugari, Olen juga dipercaya menangani pelatihan awak kabin yang baru bergabung.
Perannya kerap dikaitkan dengan pembinaan dan pendampingan kru junior.
“Dia juga jadi trainer untuk pramugari yang baru. Bisa dibilang seperti HRD,” sambungnya.
Hingga kini, pihak keluarga masih menantikan informasi resmi dari pihak berwenang terkait perkembangan pencarian dan penanganan insiden pesawat tersebut.
(TribunManado.co.id)
-
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini