Besok Operasi Modifikasi Cuaca Berakhir, 2.011 Korban Banjir Kudus Masih Tinggal di Pengungsian
January 24, 2026 01:14 AM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Sedikitnya 2.011 jiwa masih tinggal di pengungsian akibat banjir terdampak bencana hidrometeorologi di Kabupaten Kudus hingga Jumat (23/1/2026) pukul 12.00 WIB.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah mencatat dampak bencana hidrometeorologi di Kabupaten Kudus masih cukup luas mencapai 48 desa di sembilan kecamatan terdampak.

Kondisi tersebut mendorong modifikasi cuaca masih diperpanjang dari semula 20 Januari menjadi Sabtu (24/1/2026) besok.

Baca juga: Suparman Korban Banjir Kendal Senang Dapat Layanan Kesehatan Gratis

Kepala Bidang Pengendalian Operasi dan Pengelolaan Data Informasi BPBD Jateng, Armin Nugroho, menyebutkan sebanyak 4.604 kepala keluarga atau 13.995 jiwa terdampak bencana tersebut.

“Jumlah pengungsi saat ini mencapai 791 KK atau 2.011 jiwa, sementara rumah terdampak tercatat 2.956 unit, dengan 1.172 unit di antaranya masih terendam,” kata Armin dalam laporan situasi BPBD Jateng, Jumat (23/1/2026). 

Selain banjir, bencana tanah longsor juga terjadi di 135 titik yang tersebar di berbagai lokasi di Kabupaten Kudus. 

Kemudian banjir juga berdampak pada sektor pertanian dan fasilitas umum. 

Sebanyak 2.888 hektar sawah terdampak, serta 11 fasilitas ibadah dan 75 fasilitas pendidikan mengalami kerusakan.

Dari sisi korban jiwa, BPBD mencatat empat orang meninggal dunia dan lima orang mengalami luka-luka akibat bencana tersebut. 

Tanggap Darurat hingga 26 Januari

Untuk penanganan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menetapkan status tanggap darurat yang berlaku mulai 20 hingga 26 Januari 2026. 

Sejumlah langkah penanganan terus dilakukan, mulai dari pendistribusian logistik, asesmen dan pendataan rumah rusak, pembersihan sungai, hingga pengoperasian dapur umum di delapan titik. 

“Selain itu, sebanyak empat unit alat berat dari PUPR dan BBWS dikerahkan untuk penanganan sleding di Sungai Wulan,” lanjutnya. 

Adapun kondisi terkini, cuaca di Kabupaten Kudus masih hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang.

Debit Sungai Wulan terpantau sekitar 77 meter kubik per detik dan dinilai masih relatif aman. 

Namun, genangan air setinggi 10 hingga 60 sentimeter masih ditemukan di sejumlah ruas jalan dan permukiman warga. 

Lebih lanjut, BPBD mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi bencana susulan, terutama di tengah cuaca ekstrem yang masih berlangsung.

MODIFIKASI CUACA - BNPB melakukan operasi modifikasi cuaca untuk menangani darurat bencana banjir dan longsor yang beberapa hari ini melanda wilayah Muria Raya meliputi Kudus, Pati dan Jepara. Operasi ini dipusatkan dari Lapangan Udara Ahmad Yani, Kota Semarang, pada Kamis (15/1).
MODIFIKASI CUACA - BNPB melakukan operasi modifikasi cuaca untuk menangani darurat bencana banjir dan longsor yang beberapa hari ini melanda wilayah Muria Raya meliputi Kudus, Pati dan Jepara. Operasi ini dipusatkan dari Lapangan Udara Ahmad Yani, Kota Semarang, pada Kamis (15/1). (TRIBUN JATENG/DOK BNPB)

Modifikasi Cuaca Diperpanjang

Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Jawa Tengah diperpanjang hingga 24 Januari 2026.

Operasi ini sebelumnya sudah dilakukan sejak 15 Januari untuk mengatasi bencana banjir dan tanah longsor di wilayah Muria Raya, Pekalongan dan Kendal.

"Operasi modifikasi cuaca seharusnya berakhir pada tanggal 20 Januari tetapi diperpanjang sampai tanggal 24 Januari. Selepas itu, kami melihat situasi cuaca berikutnya," ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah (Jateng), Bergas Catursasi kepada Tribunjateng di komplek Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kota Semarang (22/1/2026).

Bergas melanjutkan, operasi modifikasi cuaca ini tergantung dengan situasi di langit Jawa Tengah, semisal cuaca tetap tidak mendukung maka OMC bisa saja diperpanjang.

"Ya OMC tentunya bisa dilakukan kembali ketika situasi cuaca masih seperti sekarang," paparnya.

BPBD Jawa Tengah mencatat, akibat bencana banjir di Muria Raya dan Pekalongan menyebabkan ribuan orang mengungsi.

Menurut Bergas, jumlah pengungsi di Kabupaten Pekalongan mencapai sekitar 1.800 orang, Kota Pekalongan masih 2.000 orang, Kudus sebanyak 2.200 orang dan Kabupaten Pati terdapat 1.100 orang. 

"Soal kerugian kami belum melakukan penghitungan secara rinci. Tapi paling tidak ketika banjir terjadi satu rumah bisa alami kerugian rata-rata Rp2 juta, tinggal kalikan saja rumah yang terdampak," ungkapnya kepada Tribun. 

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengatakan, dampak dari OMC cukup membantu dalam mengendalikan cuaca di langit Jawa Tengah.

"Alhamdulillah, ada operasi modifikasi cuaca ini yang difasilitasi BNPB," katanya.

Ia mengatakan, modifikasi ini menyasar ke wilayah yang sedang dilanda bencana seperti Pati, Kudus, Jepara, Kendal, dan Pekalongan. 

Baca juga: Jembatan Gantung Penghubung Jepara-Pati Nyaris Roboh Diterjang Banjir, Warga Harus Mutar 2 Desa

"Kami terus pantau situasi cuaca lewat BMKG, rencana diperpanjang tergantung situasi cuaca yang dilaporkan," terangnya.

Pemprov Jawa Tengah kini juga sedang menyiapkan skema penanganan banjir dengan beragam proyek infrastruktur. Yasin mengungkap, pengajuan dana ke pusat sudah dilakukan dengan acuan penanggulangan kebencanaan di Kabupaten Demak dalam mengahadapi banjir rob senilai Rp1,7 triliun.

"Untuk Pekalongan, kemarin ngobrol dengan walikotanya diperkiraan butuh anggaran antara Rp1,5 sampai Rp 1,7 triliun untuk penanggulangan bencana Rob dan banjir di kawasan Pekalongan," tandasnya. (Iwn)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.