TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Sejumlah ibu-ibu rumah tangga di Karangasem, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, telihat sibuk mengumpulkan sisa buah dan sayur rumah tangga yang tak dipakai di Joglo Karangasem, Jumat (23/1/2026).
Rinta Safitri (42), warga RT 2, Karangasem, Kalurahan Wukirsari, mengatakan, sisa buah dan sayur rumah tangga itu sengaja dikumpulkan untuk diolah menjadi ecoenzim.
Ecoenzim merupakan cairan serbaguna hasil fermentasi alami limbah dapur menjadi bahan pembersih rumah, penyubur tanaman, hingga pengusir hama.
"Selama ini, kami sudah memilah sampah. Sampah-sampah pilahan itu kami buang di bank sampah. Sebulan sekali, kita buang sampah di bank sampah itu. Itu enggak bayar, malah kita dapat duit untuk ditabung," kata dia, kepada wartawan.
Kendati demikian, sejumlah warga setempat masih ingin belajar bagaimana caranya sampah bisa memberikan manfaat baik terhadap lingkungan. Salah satunya menjadi cairan ecoenzim yang akan dia gunakan untuk menyirami tanaman di halaman rumahnya.
Ia pun mengaku senang bisa mendapatkan ilmu baru dari Pilah Berkah. Sebab, kegiatan memproduksi ecoenzim baru kali ini ia lakukan. Menurutnya, membuat ecoenzim tidak lah susah, sehingga akan digunakan selama beberapa waktu ke depan.
"Ternyata buat ecoenzim ini mudah. Yang penting sampah sisa buah dan sayur dipilah, dimasukkan ke wadah, diberi tetes tebu, air, dan ditunggu selama tiga bulan. Setelah itu baru dipanen dan dipergunakan sehari-hari," jelas dia.
Ia berharap, kegiatan tersebut dapat menyadarkan masyarakat untuk semakin aktif membersihkan sampah, tidak membuang sampah sembarangan, dan melakukan aktivitas pembakaran sampah.
Ketua RT 2 Karangasem, Subarno, turut merasa senang melihat masyarakat semakin aktif dan sadar dalam mengolah sampah yang bijak. Walau beberapa waktu terakhir ini sudah ada bank sampah di wilayah setempat, namun masyarakat dinilai perlu aktif mengolah sampah menjadi bahan yang bermanfaat.
"Ecoenzim ini kan sangat bagus sekali, sehingga bermanfaat bagi masyarakat. Dengan ecoenzim, masyarakat tidak perlu lagi mencari penyubur tanaman apabila pekarangan rumahnya ada dipergunakan untuk menanam sayur, karena ecoenzim bisa menjadi penyubur tanaman," tuturnya.
Sementara itu, Konsultan Bidang Pemberdayaan Kelompok Swadaya Masyarakat Pilah Berkah, Arif Solikin, berujar, kegiatan itu sengaja digelar untuk menekan pembuangan sampah liar dan mengajak masyarakat aktif mengolah sampah menjadi bahan yang bermanfaat.
"Kami ingin mendukung kebijakan pemerintah dalam upaya tuntas penanganan pengolahan sampah rumah tangga, salah satunya dengan mengolah sampah menjadi ecoenzim," kata dia.
Pihaknya berharap, kegiatan pembuatan ecoenzim yang berlangsung di Karangasem, Kalurahan Wukirsari ini dapat menjadi pilot project dalam penerapan pengolahan sampah berbasis masyarakat.
"Kami ingin, ecoenzim ini menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat. Maka, kami siap memberikan pendampingan tanpa jeda terkait pengolahan sampah libah rumah tangga," tandasnya.(nei)