Gubernur Jambi Minta Guru SMK 3 Tanjabtim Tes Kejiwaan, Siap Copot Jabatan Jika Terbukti Tak Stabil
January 24, 2026 04:38 AM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Gelombang konflik antara guru dan siswa di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) akhirnya mencapai titik krusial.

Perseteruan yang semula terjadi di lingkungan sekolah kini menggema hingga ke tingkat tertinggi pemerintahan daerah.

Gubernur Jambi Al Haris tak tinggal diam menyikapi situasi yang dinilai sudah berada di luar batas kewajaran.

Demi meredam ketegangan yang terus membara dan mencegah luka sosial yang lebih dalam, ia mengambil langkah tegas bahkan terbilang ekstrem.

Seorang oknum guru berinisial AS resmi dipindahkan dari sekolah tersebut.

Baca juga: Alasan Guru SMK 3 Tanjabtim Nekat Polisikan Rekan dan Pimpinannya Sendiri, Tak Terima Diintimidasi

Tidak berhenti di situ, Gubernur juga memerintahkan pemeriksaan kesehatan mental secara menyeluruh terhadap yang bersangkutan.

Langkah ini diambil setelah kasus pengeroyokan terhadap AS viral di media sosial.

Belakangan, terungkap bahwa peristiwa tersebut dipicu oleh penghinaan terhadap profesi orang tua siswa serta persoalan uang komite sekolah, yang memicu emosi dan konflik berkepanjangan.

Meski upaya mediasi sempat dilakukan oleh Polres Tanjabtim, Gubernur menilai konflik ini telah meninggalkan dampak psikologis dan sosial yang terlalu besar untuk dibiarkan berlarut-larut.

Mutasi sebagai Jalan Tengah yang Tegas

Gubernur Al Haris menegaskan bahwa pemindahan oknum guru tersebut merupakan keputusan final.

Baginya, keberlanjutan proses belajar-mengajar dan stabilitas lingkungan sekolah harus menjadi prioritas utama.

“Yang pasti guru itu kita pindahkan dari situ. Enggak mungkin dia tetap di situ, mesti harus dipindah,” tegas Al Haris, sebagaimana dikutip dari unggahan akun @kabarjambiupdate.

Pernyataan tersebut menegaskan sikap pemerintah provinsi yang tidak ingin konflik serupa kembali terjadi di lingkungan pendidikan.

Mutasi dipandang sebagai langkah paling rasional untuk memutus rantai ketegangan yang telah terlanjur mengeras.

GURU DIKEROYOK - Agus Saputra, Guru SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi, yang dikeroyok siswanya
GURU DIKEROYOK - Agus Saputra, Guru SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi, yang dikeroyok siswanya (Tribunjambi.com/Syrillus Krisdianto)

Tes Kejiwaan Jadi Penentu Masa Depan

Tak hanya berhenti pada sanksi administratif berupa mutasi, Gubernur Al Haris juga memberikan instruksi khusus kepada Dinas Pendidikan Provinsi Jambi.

Ia meminta dilakukan assessment kejiwaan terhadap AS guna menilai kelayakannya sebagai pendidik.

Pemeriksaan ini akan menjadi penentu apakah yang bersangkutan masih pantas menjalankan tugas sebagai guru.

“Saya minta pemeriksaan kejiwaannya juga nanti. Apakah beliau masih layak seorang guru?

Kalau misalnya tidak layak, ya kita pindahkan ke tempat jabatan bukan guru lagi (staf biasa),” pungkasnya.

Pernyataan ini menandai bahwa pemerintah tidak sekadar menyelesaikan konflik di permukaan, tetapi juga berupaya memastikan kualitas dan kesehatan mental tenaga pendidik di sekolah.

Baca juga: Trauma Usai Dikeroyok, Agus Guru SMK 3 Tanjabtim Tak Lagi Mengajar, Gubernur Desak Tes Kejiwaan!

Awal Mula Ketegangan

Sebelumnya, publik hanya melihat satu sisi cerita: seorang guru yang menjadi korban pengeroyokan siswa. Namun, kesaksian dari siswi berinisial Bunga membuka tabir lain dari konflik tersebut.

Menurut pengakuannya, persoalan bermula dari insiden sepele terkait pintu kelas.

Ketegangan kemudian meningkat ketika AS diduga melontarkan makian yang menyentuh ranah personal menyebut nama ayah siswa serta menyindir bahwa gaji guru berasal dari uang komite orang tua.

Ucapan tersebut diduga menjadi pemantik emosi yang berujung pada aksi kekerasan dan konflik terbuka di lingkungan sekolah.

Polemik Belum Usai

Di tengah keputusan mutasi dan pemeriksaan kejiwaan, polemik ini ternyata belum sepenuhnya selesai.

Pihak AS diketahui telah melaporkan kasus ini ke Polda Jambi.

Laporan tersebut bahkan menyeret jajaran pimpinan sekolah atas dugaan pembiaran, menandakan bahwa konflik ini telah berkembang menjadi persoalan hukum yang kompleks.

Kini, publik menanti apakah langkah tegas Gubernur Al Haris mampu memulihkan kepercayaan dan menciptakan kembali ruang belajar yang aman atau justru membuka babak baru dalam polemik panjang dunia pendidikan di Jambi.

***

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.