TRIBUN-SULBAR.COM, POLMAN- Warga gotong royong bersihkan tumpukan sampah di aliran sungai Sulewatang, Kelurahan Sulewatang, Kecamatan Polewali, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar), Sabtu (24/1/2026).
Sampah menumpuk di sepanjang aliran sungai ini dibersihkan puluhan warga yang ikut hadir.
Mereka mengangkut sampah dari aliran sungai untuk selanjutnya dibawa ke tempat pembuangan.
Baca juga: Harga Tomat dan Lombok Turun, Pedagang Pasar Pasangkayu Waspadai Kenaikan Jelang Ramadan
Baca juga: Polisi Ungkap Kronologi Meninggalnya Influencer Lula Lahfah, Kekasih Reza Arap
Tumpukan sampah terbanyak berada di dekat jembatan perbatasan antara Kelurahan Sulewatang dan Kelurahan Lantora.
Sampah menumpuk lantaran terdapat jaring besi terpasang di bawa jembatan menutup aliran sungai.
Jaring besi itu dipasang Pemerintah Kelurahan Lantora untuk menghalau sampah
Warga Sulewatang, Hafid menyampaikan keluhan lantaran adanya jaring besi di aliran sungai.
"Sampah yang terbawa arus sungai terhenti di dekat jembatan, karena jaring besi ini," kata Hafid kepada wartawan.
Dia menyampaikan pemasangan jaring besi sebagai penghalau sampah ini sempat diprotes warga.
Namun pemerintah enggan melepas jaring besi itu, tujuannya agar sampah tidak mengalir ke Kelurahan Lantora.
Hafid menyebut solusi memasang jaring besi ini dapat memicu banjir luapan sungai Sulewatang.
"Karena sampah akan menumpuk di jembatan, utamanya kayu-kayu dari hutan, ini bisa picu banjir," ungkapnya.
Dia meminta agar pemerintah Kecamatan Polewali segera turun tangan memberi solusi atas pemasangan jaring besi ini.
Jaring besi itu terpasang di bawa jembatan aliran sungai untuk menghalau arus sampah.
Pemasangan jaring besi itu dikerjakan oleh Pemerintah Kelurahan Lantora.
Namun dipasang di wilayah perbatasan antara Kelurahan Lantora dan Kelurahan Sulewatang.
Warag Sulewatang menganggap jaring besi itu akan membuat sampah menumpuk di aliran sungai memicu banjir.
Pantauan Tribun-Sulbar.com, puluhan warga berdatangan melayangkan protes dan hendak melepas jaring besi ini.
Namun Lurah Lantora yang tiba di lokasi melarang warga Sulewatang melepas jaring besi.
Cekcok adu mulut sempat terjadi, beruntung pihak Bhabinkamtibmas setempat ikut datang melerai.
"Yang kami protes ini pemasangan jaring besi di saluran sungai bisa picu banjir," kata kepala Lingkungan Pandebassi, Kelurahan Sulewatang, Hafid Judsen.
Dia menyampaikan pemalangan arus sungai gunakan jaring besi ini dapat berpotensi banjir.
Lantaran sampah dan kayu akan tersendat di jaring besi, dan dapat membuat air sungai meluap.
Hafid menyebut warga melihat pemasangan jaring besi ini sempat geram dan layangkan protes.
Dia meminta kepada pemerintah Kecamatan Polewali agar mencari solusi atas protes dari warga Kelurahan Sulewatang ini.
Sementara itu, Lurah Lantora Andi Hamka mengatakan pemasangan jaring besi ini untuk memblokir sampah kiriman dari Kelurahan Sulewatang.
Andi Hamka menyebut selama ini Kelurahan Lantora dipenuhi sampah kiriman dan menjadi masalah utama.
"Kita pasang besi itu untuk memblokir sampah kiriman dari kelurahan lain, agar tidak menjadi sasaran sampah dari kelurahan lain," ungkap Andi Hamka.
Dia mengaku pemasangan jaring besi di aliran sungai ini sudah dikoordinasikan dengan pemerintah kecamatan setempat.
Serta pemasangan jaring besi ini kata Hamka sebagai upaya edukasi agar warga tidak buang sampah ke aliran sungai.
Untuk menyelesaikan permasalahan aksi protes ini, warga Kelurahan Sulewatang akan melaporkan ke pemerintah kecamatan setempat.(*)
Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Fahrun Ramli