Jakarta (ANTARA) - Global Alliance for Vaccines and Immunization (Gavi) dalam panel diskusi di ajang World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, menyatakan posisi Indonesia di sistem kesehatan dunia semakin strategis.

Head New Investors, Resource Mobilization, Private Sector & Sovereign Engagement and Innovation Gavi, Masao Takahashi dalam pernyataan diterima di Jakarta, Sabtu menyampaikan bahwa Indonesia kini tidak lagi hanya menjadi penerima dukungan, tetapi telah bertransformasi menjadi mitra strategis.

‎"Indonesia telah menjadi salah satu negara yang berperan penting dalam konteks ini. Mulai tahun 2026, Indonesia bertransformasi dari negara penerima dukungan Gavi menjadi negara donor Gavi. Perubahan ini mencerminkan peran Indonesia yang semakin aktif dan strategis dalam upaya memperkuat sistem kesehatan, baik di tingkat nasional maupun global," kata dia.

Dalam sesi diskusi Transforming Health Systems: Building Resilient, Inclusive Care Models for Emerging Markets di Indonesia Pavilion, WEF, Kamis (22/1), Masao Takahashi menyatakan transformasi sistem kesehatan Indonesia dinilai tidak hanya berdampak di dalam negeri, tetapi juga makin menempatkan Indonesia sebagai aktor strategis dalam memperkuat ketahanan kesehatan global.

‎Pergeseran peran tersebut menegaskan bahwa penguatan sistem kesehatan Indonesia berjalan seiring dengan kontribusi aktif di tingkat global.

Diskusi juga menggarisbawahi bahwa transformasi sistem kesehatan di negara berkembang tidak dapat dilakukan dengan pendekatan seragam, mengingat perbedaan kapasitas fiskal, struktur pembiayaan, serta kebutuhan masyarakat di masing-masing negara.

‎Dari perspektif tata kelola dan pengambilan keputusan, Professor Decision Science and Ethics INSEAD, Marc Le Menestrel, menilai bahwa negara berkembang memiliki peluang untuk membangun sistem kesehatan yang lebih tangguh dengan mengambil jalur yang berbeda dari negara maju.

‎"Indonesia mengambil pendekatan yang berada di garis depan, menjawab tantangan sistem kesehatan tanpa mengulang kesalahan yang dialami banyak negara maju. Pendekatan ini memungkinkan negara berkembang menghindari krisis yang baru akan muncul 10 atau 15 tahun ke depan," katanya.

Dalam konteks pembiayaan jangka panjang, Marc juga menyoroti pentingnya peran institusi dalam memastikan arah investasi yang berpihak pada kepentingan publik.

“Danantara memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem di mana kapitalisme berfungsi sebagai pelayan bagi masyarakat, bukan sebaliknya. Tantangannya adalah memastikan bahwa modal diarahkan untuk memperkuat sistem dan melayani kepentingan publik dalam jangka panjang," ucapnya.

‎‎Sementara itu, dari sisi pemanfaatan teknologi dan investasi, Founder and Managing Partner Luma Group, Joshua Fink, menekankan pentingnya data dalam mengubah desain dan operasional sistem kesehatan.

‎“Selama ini, banyak sistem kesehatan dibangun untuk merespons krisis. Dengan pemanfaatan data yang tepat, sistem kesehatan dapat beralih ke pendekatan yang lebih prediktif sehingga memungkinkan intervensi lebih dini dan pengelolaan risiko yang lebih baik," katanya.

‎‎Presiden Prabowo Subianto mengatakan Cek Kesehatan Gratis (CKG) mampu menghemat hingga miliaran dolar AS dalam jangka panjang, melalui peningkatan produktivitas dan penguatan sistem kesehatan.

‎Dalam keterangan di Jakarta, Sabtu, Presiden Prabowo menekankan kebijakan CKG bukan merupakan program populis, melainkan langkah rasional untuk meningkatkan produktivitas nasional melalui deteksi dini penyakit.

"Ini adalah program peningkatan produktivitas. Para ahli saya menyatakan bahwa dalam jangka panjang, kita akan menghemat miliaran dolar AS,” kata Presiden dalam pidatonya di World Economic Forum (WEF) 2026