Pemerintah Bangun Jembatan di Desa-Desa Terpencil Aceh, Permudah Akses Warga
kumparanNEWS January 25, 2026 04:00 PM
Pemerintah terus mempercepat pembangunan infrastruktur dasar di wilayah terpencil Aceh melalui pembangunan jembatan penghubung antar desa. Upaya ini dilakukan untuk membuka keterisolasian wilayah, memperlancar mobilitas warga, serta memulihkan kembali aktivitas perekonomian masyarakat di Provinsi Aceh.
Pembangunan jembatan gantung menjadi salah satu prioritas utama di wilayah pedalaman Aceh. Di Kabupaten Pidie, jembatan gantung dibangun di Desa Tiba Mesjid, Kecamatan Mutiara Timur. Personel TNI bersama warga menggali fondasi, mengumpulkan batu kali untuk dasar pondasi, serta mendirikan tiang penyangga di kedua sisi sungai.
Pembangunan serupa juga dilakukan di Desa Emping, Kecamatan Mutiara Barat, di mana anggota TNI berjibaku mengaduk campuran semen, pasir, dan kerikil untuk pengecoran tiang jembatan, dengan material yang diangkut secara manual menuju lokasi fondasi di tepi sungai.
Pembangunan di desa terpencil di Aceh. Foto: Bakom RI
zoom-in-whitePerbesar
Pembangunan di desa terpencil di Aceh. Foto: Bakom RI
Di Kabupaten Bireuen, pembangunan jembatan gantung dilaksanakan di wilayah Ara Bungong, Kecamatan Peudada, dengan progres pekerjaan mencapai sekitar 15 persen. Pekerjaan lanjutan jembatan gantung juga berlangsung di sejumlah wilayah lain, di antaranya pengecoran pondasi di Dusun Gantung Langit, Kecamatan Silih Nara; Desa Burlah, Kecamatan Ketol, dengan progres sekitar 31,2 persen; serta Desa Kala Ili, Kecamatan Linge, dengan progres sekitar 20 persen.
Pembangunan jembatan gantung juga dilakukan di Desa Sekrak Kanan, serta di Desa Uyam Beriring, Kecamatan Tripe Jaya, dengan progres sekitar 12 persen. Seluruh proses pembangunan tersebut dilaksanakan secara gotong royong antara warga dan personel TNI. Sementara itu, di Desa Gampung Lempuh, Kecamatan Putri Betung, pembangunan dan perbaikan jembatan gantung masih berada pada tahap awal dengan progres sekitar 1 persen, menyusul kerusakan jembatan akibat banjir.
Selain jembatan gantung, pemerintah juga membangun jembatan Armco sebagai akses penghubung yang lebih kokoh dan tahan terhadap kondisi alam. Di Kabupaten Bireuen, perakitan Jembatan Armco dilakukan di Desa Sala Sirung, Kecamatan Jeumpa. Jembatan ini merupakan bagian dari pembangunan jembatan Armco di tiga titik, dengan progres awal pekerjaan mencapai sekitar 15 persen.
Pembangunan di desa terpencil di Aceh. Foto: Bakom RI
zoom-in-whitePerbesar
Pembangunan di desa terpencil di Aceh. Foto: Bakom RI
Pemerintah juga membangun jembatan penghubung Bailey untuk membuka akses antarwilayah yang terpisah oleh sungai. Salah satunya adalah pembangunan jembatan penghubung antara Desa Batu Sumbang dan Desa Pante Kera, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur. Jembatan ini diharapkan dapat memperlancar mobilitas warga serta mempercepat distribusi hasil pertanian dan kebutuhan pokok masyarakat.
Pemerintah menegaskan bahwa pembangunan jembatan di Aceh merupakan bagian dari komitmen pemerataan pembangunan nasional, khususnya di wilayah pedalaman dan rawan bencana. Kehadiran jembatan diharapkan mampu mempercepat pergerakan orang dan barang, memperkuat ketahanan wilayah, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa.
Melalui sinergi antara pemerintah, TNI, dan masyarakat, pembangunan jembatan-jembatan tersebut diharapkan dapat selesai tepat waktu dan memberikan manfaat jangka panjang bagi warga Aceh, terutama di daerah-daerah yang selama ini sulit dijangkau.

Renovasi Rumah hingga Bersihkan Masjid

Personil TNI dan warga gotong royong bersihkan sisa-sisa banjir di Aceh. Foto: Bakom RI
zoom-in-whitePerbesar
Personil TNI dan warga gotong royong bersihkan sisa-sisa banjir di Aceh. Foto: Bakom RI
Tak cuma membangun jembatan, prajurit TNI bersama masyarakat terus bergotong royong melakukan upaya pemulihan pascabencana di sejumlah wilayah Provinsi Aceh. Berbagai kegiatan pembersihan dan perbaikan fasilitas umum dilaksanakan secara serentak guna mempercepat pemulihan aktivitas warga.
Berdasarkan dokumentasi video yang diterima Badan Komunikasi Pemerintah pada Sabtu (24/1), personel TNI tampak melakukan pembersihan lumpur dan puing di sejumlah titik terdampak, khususnya di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh Tamiang, dan Bireuen.
Di Kabupaten Pidie Jaya, personel TNI bersama warga membersihkan kawasan Lorong Seulanga, Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu. Kegiatan serupa juga dilakukan di fasilitas pendidikan, di antaranya pembersihan ruang kelas II TK/PAUD Al-Bayan di Desa Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, agar proses belajar mengajar dapat segera kembali berjalan.
Personil TNI dan warga gotong royong bersihkan sisa-sisa banjir di Aceh. Foto: Bakom RI
zoom-in-whitePerbesar
Personil TNI dan warga gotong royong bersihkan sisa-sisa banjir di Aceh. Foto: Bakom RI
Selain itu, TNI turut membersihkan Pondok Bersalin Desa (Polindes) Pante Beureune, Kecamatan Meurah Dua, serta meratakan halaman Polindes Blang Cut di kecamatan yang sama. Dukungan alat berat dari Yonif TP 857/GG juga dikerahkan di Desa Pante Beureune dan Desa Meunasah Balek, Kecamatan Meureudu, untuk mempercepat proses pembersihan.
Di wilayah Aceh Tamiang, personel TNI terlihat membersihkan tembok kelas dan mengangkut sisa lumpur di SD Rantau Panjang, Desa Rantau Panjang, Kecamatan Karang Baru. Pembersihan juga dilakukan di Balai Desa Rantau Panjang guna mendukung kembali aktivitas pelayanan masyarakat. Bahkan, dalam salah satu dokumentasi, personel TNI turut membantu mengevakuasi kendaraan yang terjebak lumpur di sekitar SD Islam Terpadu Tupah, Desa Tupah, Kecamatan Karang Baru.
Sementara itu, di Kabupaten Bireuen, TNI bersama warga melaksanakan pembersihan di SMK Negeri 1 Peusangan, Gampong Raya Dagang, Kecamatan Peusangan, dengan progres mencapai 98 persen. Di tengah proses pembersihan, aktivitas belajar mengajar mulai kembali berjalan meskipun sekolah belum sepenuhnya bersih dari sisa lumpur.
Pembangunan di desa terpencil di Aceh. Foto: Bakom RI
zoom-in-whitePerbesar
Pembangunan di desa terpencil di Aceh. Foto: Bakom RI
Personel TNI juga membersihkan Perpustakaan SMA Negeri 1 Peusangan di Jalan Banda Aceh–Medan, Matang Glumpang Dua, Kecamatan Peusangan, dengan progres mencapai 96 persen. Upaya ini dilakukan untuk memastikan rak-rak buku kembali tertata rapi dan aman digunakan.
Upaya pemulihan turut menyasar fasilitas keagamaan dan lingkungan permukiman. TNI membersihkan Balai Pengajian di Desa Mesi, Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, serta melakukan pembersihan di SDN 8 Kuta Blang, Parit Desa Ulle di Kecamatan Peusangan Selatan, dan sejumlah rumah warga di wilayah Peusangan.
Gotong royong antara TNI dan masyarakat ini menjadi wujud nyata kepedulian dan komitmen bersama dalam mempercepat pemulihan pascabencana, sekaligus memastikan warga dapat kembali beraktivitas secara aman dan normal.

Desa-desa di Tapanuli Kian Tersambung

Personel TNI membangun jembatan di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Foto: Bakom RI
zoom-in-whitePerbesar
Personel TNI membangun jembatan di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Foto: Bakom RI
Pemerintah terus mempercepat pemulihan wilayah terdampak banjir bandang dan longsor di Sumatra, termasuk di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatra Utara.
Salah satu fokus utama adalah perbaikan dan pembangunan infrastruktur penghubung antarwilayah, khususnya jembatan yang jadi urat nadi aktivitas masyarakat desa.
Langkah ini sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya kehadiran negara secara nyata di wilayah terdampak bencana, tidak hanya pada fase tanggap darurat, tetapi juga dalam pemulihan jangka menengah dan panjang.
Infrastruktur dasar menjadi kunci agar roda ekonomi, pendidikan, dan layanan publik dapat kembali berjalan normal pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Pulau Sumatra pada akhir November lalu.
Personel TNI membangun jembatan di Kampung Mudik, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Foto: Bakom RI
zoom-in-whitePerbesar
Personel TNI membangun jembatan di Kampung Mudik, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Foto: Bakom RI
Pantauan terkini pada Jumat (23/1), di Tapanuli Tengah, berbagai kegiatan pembangunan jembatan tengah dilaksanakan di sejumlah titik strategis. Salah satunya adalah pembangunan Jembatan Armco titik ke-2 di Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, yang telah masuk dalam tahap persiapan. Pekerjaan ini berkolaborasi dengan prajurit TNI dan masyarakat setempat.
Selain itu, pemerintah juga melaksanakan pembangunan jembatan gantung di beberapa desa dan kecamatan. Di antaranya pembangunan jembatan gantung di Bonalumban, Kecamatan Tukka; Kampung Mudik dan Desa Ujung Batu, Kecamatan Barus; serta Desa Sipan, Kecamatan Sarudik.
Personel TNI membangun jembatan di Kampung Mudik, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Foto: Bakom RI
zoom-in-whitePerbesar
Personel TNI membangun jembatan di Kampung Mudik, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Foto: Bakom RI
Rangkaian pembangunan ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana penghubung antarwilayah, tetapi juga menjadi akses vital bagi warga untuk menjangkau pusat ekonomi, sekolah, fasilitas kesehatan, dan layanan pemerintahan.
Dengan terus dibangunnya jembatan-jembatan penghubung, desa-desa di Tapanuli Tengah kian tersambung, sehingga membuka kembali akses, harapan, dan peluang bagi masyarakat untuk bangkit dan menata kehidupan kembali normal.
Personel TNI membangun jembatan di Bonu Lamban, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Foto: Bakom RI
zoom-in-whitePerbesar
Personel TNI membangun jembatan di Bonu Lamban, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Foto: Bakom RI
Pemerintah memastikan proses pembangunan dan penguatan infrastruktur di wilayah rawan bencana terus dilanjutkan secara berkelanjutan.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.