TRIBUN-TIMUR.COM, PANGKEP – Achmad Kadim dari organisasi Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) 45 Universitas Bosowa (Unibos) Makassar menjadi salah satu anggota tim yang menemukan black box pesawat ATR 42-500 di Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
Achmad tergabung dalam Search and Rescue Unit (SRU) 1.
Tim ini terdiri dari unsur Mapala 45, UKM SAR Unibos, personel TRC PT Semen Tonasa, Basarnas, Riders 700 TNI, serta personel Kodam XIV Hasanuddin.
Penemuan black box terjadi pada Rabu (21/1/2026), hari kelima operasi pencarian. Tim SRU 1 berangkat dari Posko SAR Gabungan di Kantor Desa Tompobulu sekitar pukul 07.30 Wita.
Perjalanan menuju pos 9 memakan waktu hingga pukul 10.00 Wita.
Dari pos tersebut, tim melanjutkan perjalanan menuju titik penemuan black box dan tiba sekitar pukul 12.00 Wita. Black box berhasil dievakuasi sekitar pukul 13.30 Wita.
Achmad menceritakan, saat ditemukan, black box masih terpasang di bagian ekor pesawat.
“Masih terpasang erat,” ucapnya kepada Tribun-Timur.com, Sabtu (24/1/2026).
Posisi ekor pesawat tersebut tersangkut di pohon dengan ketinggian sekitar lima meter dari permukaan tanah.
Selain posisi yang tinggi, kendala lain adalah tim tidak membawa alat perkakas untuk membuka baut yang menempelkan black box ke bagian ekor pesawat.
Berbekal pengalaman memanjat saat aktif di Mapala, Achmad kemudian berinisiatif memanjat pohon untuk melepaskan black box.
Ia membawa sebuah parang berukuran sejengkal yang sejatinya merupakan perlengkapan dasar untuk membuka jalur dan memotong semak-semak.
Sesampainya di atas, Achmad menggunakan parang tersebut untuk memotong bagian perekat black box. Ia mengayunkan parang ke arah perekat sambil menahan badan black box dengan satu tangan.
“Sekitar sepuluh menit saya memotongnya, alhamdulillah akhirnya terlepas,” kata Achmad.
Ia menjelaskan, black box harus ditahan agar tidak terjatuh ke bawah. Jika terlepas, black box berpotensi jatuh ke jurang yang berada tepat di bawah lokasi dengan kemiringan sekitar 90 derajat.
Achmad mengakui, tindakan tersebut terbilang nekat. Jika ekor pesawat bergoyang saat proses pemotongan, ia berisiko ikut terjatuh ke jurang.
“Modal nekat, tapi alhamdulillah bisa dituntaskan,” ujarnya.
Setelah berhasil dilepaskan, black box kemudian dibawa ke Posko SAR Gabungan oleh personel TNI.
Sementara itu, Achmad bersama anggota SRU 1 lainnya kembali melanjutkan penyisiran untuk mencari korban.
Achmad mengaku bangga dapat terlibat dalam operasi pencarian tersebut. Ia juga bangga menjadi bagian dari tim penemu black box dan bisa memegang langsung benda tersebut.
“Baru saya tahu posisinya di mana, bagaimana bentuknya. Selama ini hanya lihat di TV. Ternyata ini barang yang disebut sangat penting di pesawat,” ucapnya.
Ia mengaku baru pertama kali terlibat dalam operasi pencarian pesawat.
Namun sebelumnya, ia pernah mengikuti sejumlah operasi pencarian dan evakuasi, di antaranya evakuasi korban banjir di Aceh, gempa bumi di Mamuju, serta banjir bandang di Masamba.
Achmad merupakan alumni Universitas Bosowa, Fakultas Teknik, angkatan 2009. Ia bergabung dengan Mahasiswa Pencinta Alam sejak tahun yang sama dan mengambil divisi panjat tebing.
Achmad bercerita, Gunung Bulusaraung merupakan lokasi pendidikan dan latihan Mapala 45 sehingga medan di kawasan tersebut sudah sangat familiar baginya.
“Boleh dibilang, kita sudah tahu seluk-beluknya, kondisi medan, dan strukturnya,” ucapnya.
Dalam kesahariannya, Achmad bekerja sebagai pembersih gedung tinggi di Makassar.
Selain Achmad, sebanyak delapan anggota Mapala 45 Makassar turut terlibat dalam operasi pencarian pesawat ATR 42-500 tersebut.
“Kalau di Mapala, setiap ada kegiatan evakuasi kami pasti ikut karena itu sudah menjadi panggilan jiwa,” ujarnya.
Achmad Kadim lahir di Enrekang pada 24 April 1986 dan berdomisili di Jalan Batua Raya 5 Nomor 38, Makassar.