Kesaksian Anggota Mapala 45 Pakai Parang Nanjak 5 Meter Lepaskan Black Box ATR 42-500
January 26, 2026 12:22 PM


TRIBUN-TIMUR.COM, PANGKEP – Achmad Kadim dari organisasi Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) 45 Universitas Bosowa (Unibos) Makassar menjadi salah satu anggota tim yang menemukan black box pesawat ATR 42-500 di Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

‎Achmad tergabung dalam Search and Rescue Unit (SRU) 1.

‎Tim ini terdiri dari unsur Mapala 45, UKM SAR Unibos, personel TRC PT Semen Tonasa, Basarnas, Riders 700 TNI, serta personel Kodam XIV Hasanuddin.

‎Penemuan black box terjadi pada Rabu (21/1/2026), hari kelima operasi pencarian. Tim SRU 1 berangkat dari Posko SAR Gabungan di Kantor Desa Tompobulu sekitar pukul 07.30 Wita.

‎Perjalanan menuju pos 9 memakan waktu hingga pukul 10.00 Wita. 

‎Dari pos tersebut, tim melanjutkan perjalanan menuju titik penemuan black box dan tiba sekitar pukul 12.00 Wita. Black box berhasil dievakuasi sekitar pukul 13.30 Wita.

‎Achmad menceritakan, saat ditemukan, black box masih terpasang di bagian ekor pesawat.

‎“Masih terpasang erat,” ucapnya kepada Tribun-Timur.com, Sabtu (24/1/2026).

‎Posisi ekor pesawat tersebut tersangkut di pohon dengan ketinggian sekitar lima meter dari permukaan tanah.

‎Selain posisi yang tinggi, kendala lain adalah tim tidak membawa alat perkakas untuk membuka baut yang menempelkan black box ke bagian ekor pesawat.

‎Berbekal pengalaman memanjat saat aktif di Mapala, Achmad kemudian berinisiatif memanjat pohon untuk melepaskan black box.

‎Ia membawa sebuah parang berukuran sejengkal yang sejatinya merupakan perlengkapan dasar untuk membuka jalur dan memotong semak-semak.

‎Sesampainya di atas, Achmad menggunakan parang tersebut untuk memotong bagian perekat black box. Ia mengayunkan parang ke arah perekat sambil menahan badan black box dengan satu tangan.

‎“Sekitar sepuluh menit saya memotongnya, alhamdulillah akhirnya terlepas,” kata Achmad.

‎Ia menjelaskan, black box harus ditahan agar tidak terjatuh ke bawah. Jika terlepas, black box berpotensi jatuh ke jurang yang berada tepat di bawah lokasi dengan kemiringan sekitar 90 derajat.

‎Achmad mengakui, tindakan tersebut terbilang nekat. Jika ekor pesawat bergoyang saat proses pemotongan, ia berisiko ikut terjatuh ke jurang.

‎“Modal nekat, tapi alhamdulillah bisa dituntaskan,” ujarnya.

‎Setelah berhasil dilepaskan, black box kemudian dibawa ke Posko SAR Gabungan oleh personel TNI. 

‎Sementara itu, Achmad bersama anggota SRU 1 lainnya kembali melanjutkan penyisiran untuk mencari korban.

‎Achmad mengaku bangga dapat terlibat dalam operasi pencarian tersebut. Ia juga bangga menjadi bagian dari tim penemu black box dan bisa memegang langsung benda tersebut.

‎“Baru saya tahu posisinya di mana, bagaimana bentuknya. Selama ini hanya lihat di TV. Ternyata ini barang yang disebut sangat penting di pesawat,” ucapnya.

‎Ia mengaku baru pertama kali terlibat dalam operasi pencarian pesawat.

‎ Namun sebelumnya, ia pernah mengikuti sejumlah operasi pencarian dan evakuasi, di antaranya evakuasi korban banjir di Aceh, gempa bumi di Mamuju, serta banjir bandang di Masamba.

‎Achmad merupakan alumni Universitas Bosowa, Fakultas Teknik, angkatan 2009. Ia bergabung dengan Mahasiswa Pencinta Alam sejak tahun yang sama dan mengambil divisi panjat tebing.

‎Achmad bercerita, Gunung Bulusaraung merupakan lokasi pendidikan dan latihan Mapala 45 sehingga medan di kawasan tersebut sudah sangat familiar baginya.

‎“Boleh dibilang, kita sudah tahu seluk-beluknya, kondisi medan, dan strukturnya,” ucapnya.

‎Dalam kesahariannya, Achmad bekerja sebagai pembersih gedung tinggi di Makassar. 

‎Selain Achmad, sebanyak delapan anggota Mapala 45 Makassar turut terlibat dalam operasi pencarian pesawat ATR 42-500 tersebut.

‎“Kalau di Mapala, setiap ada kegiatan evakuasi kami pasti ikut karena itu sudah menjadi panggilan jiwa,” ujarnya.

‎Achmad Kadim lahir di Enrekang pada 24 April 1986 dan berdomisili di Jalan Batua Raya 5 Nomor 38, Makassar.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.