TRIBUNMANADO.CO.ID - Berikut ini hasil mediasi dugaan penganiayaan warga Melonguane, Talaud.
Upaya meredam ketegangan dan mencari keadilan dilakukan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud dengan memfasilitasi dialog terbuka antara Aliansi Masyarakat Singkaramonane Melonguane dan Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Melonguane.
Pertemuan ini digelar menyusul mencuatnya kasus dugaan penganiayaan terhadap warga Melonguane yang diduga melibatkan oknum anggota Lanal.
Baca juga: TNI AL - Kodaeral VIII Bantu Evakuasi Guru SMK Korban Pemukulan ke RS Kandou Manado
Dialog berlangsung pada Sabtu, 24 Januari 2026, di Kantor Bupati Kepulauan Talaud.
Suasana hangat namun sarat harapan.
Hadir dalam pertemuan tersebut jajaran pimpinan daerah dan aparat keamanan, di antaranya Wakil Bupati Kepulauan Talaud Anisya Gretsya Bambungan, Danlanal Melonguane Letkol Laut (P) Yogie Kuswara, Dandim 1312/Talaud Letkol Arh Yanuar Yudistira, serta Wakapolres Talaud Kompol Kretsman Mulalinda.
Pertemuan dibuka oleh Wakil Bupati Talaud.
Dialog dilanjutkan dengan penyampaian sikap dari unsur TNI, Polri, serta pemerintah daerah.
Puncaknya, perwakilan Aliansi Masyarakat Melonguane menyampaikan aspirasi keluarga korban secara langsung, menciptakan dialog dua arah yang penuh keterbukaan.
Aliansi hadir dengan membawa suara keluarga korban melalui sejumlah tokoh masyarakat, adat, pemuda, dan agama.
Mereka di antaranya Godfried Timpua, Joutje Adam, Albert Ladi, Anton Saweduling, Swelleng Adam, Gerson Essing, serta perwakilan pemuda dan organisasi seperti Diston Lindo, Renalto Tumarah, Randy Bayang, dan Bastian Amos, serta tokoh agama Aldy Golung.
Dalam penyampaiannya, Albert Ladi dan Renalto Tumarah menyesalkan tindakan arogansi yang diduga dilakukan oknum anggota Lanal dan berharap proses hukum berjalan tegas serta adil.
Mereka juga menyoroti dugaan kejadian serupa yang disebut telah terjadi berulang kali.
Sementara itu, Anton Saweduling, selaku tokoh adat, menegaskan pentingnya penanganan hukum yang transparan tanpa intimidasi.
Ia juga meminta realisasi janji Lanal terkait pembiayaan pengobatan korban Berkam Saweduling yang dirujuk ke Manado.
Penegasan nilai budaya juga disampaikan Godfried Timpua.
Ia menekankan bahwa Melonguane dibangun di atas adat istiadat yang harus dijaga.
Ia mendorong penyelesaian hukum secara pidana sekaligus adat, demi mengembalikan Melonguane sebagai wilayah yang aman, damai, dan bebas dari intimidasi.
Senada, Joutje Adam dan Swelleng Adam mengingatkan agar negara senantiasa hadir menjamin keamanan masyarakat, sembari tetap memperhatikan kondisi keluarga korban.
Menanggapi seluruh aspirasi tersebut, Danlanal Melonguane Letkol Laut (P) Yogie Kuswara menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat Melonguane dan Kabupaten Kepulauan Talaud.
Ia menegaskan bahwa oknum yang terlibat telah diproses oleh Polisi Militer dan akan ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku di lingkungan TNI AL.
Ia juga memastikan seluruh biaya pengobatan korban menjadi tanggung jawab pihak Lanal, serta menyebut kejadian ini sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan disiplin dan profesionalisme prajurit.
"Saya selaku Komandan Lanal Melonguane pada kesempatan kali ini akan kami sampaikan terkait kejadian yang terjadi pada hari Kamis 22 Januari 2026 pukul 23.30 Wita. Saya atas nama pimpinan Lanal Melonguane memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada masyarakat Melonguane pada khususnya dan pada umumnya Kabupaten Kepulauan Talaud atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan. Kejadian ini menjadi bahan evaluasi agar anggota lebih disiplin dan profesional dalam bertindak. Selanjutnya kami akan menegaskan bahwa di pimpinan TNI AL tidak akan mentolerir tindakan tidak terpuji yang dilakukan oleh anggota. Pada saat ini oknum tersebut sedang menjalani proses pemeriksaan yang intensif oleh Polisi Militer dan akan diproses sesuai dengan hukum yang berlaku. Saya berharap situasi di kota Melonguane ini bisa kembali kondusif. Kami telah melakukan koordinasi dan mediasi dengan tokoh masyarakat tokoh agama serta keluarga yang bersangkutan untuk menyelesaikan permasalahan ini secara kekeluargaan dan hukum," ujar Danlanal.
Permohonan maaf serupa, kata dia, juga disampaikan langsung oleh Kepala Staf Angkatan Laut kepada masyarakat Talaud.
Itikad baik tersebut mendapat apresiasi dari aliansi masyarakat.
Godfried Timpua menilai respons cepat Danlanal sebagai langkah positif yang menjawab harapan warga, seraya mengajak masyarakat Melonguane untuk tetap tenang dan mengawal proses hukum secara transparan.
Hasil pertemuan ini akan disampaikan kembali kepada keluarga korban dan masyarakat luas.
Melalui dialog terbuka ini, seluruh pihak berharap tercapai penyelesaian yang adil dan transparan, demi menjaga kondusivitas wilayah serta memulihkan rasa aman masyarakat Melonguane.
Berkam Saweduling, Guru SMK di Talaud korban pemukulan di Melonguane kini dirujuk ke RS Kandou, Kota Manado, Sulawesi Utara.
Berkam dibawa dari RS Mala yang berada di Talaud, menuju Kota Manado menggunakan kapal KM Barcelona IIIA.
Menempuh jarak 464 kilometer.
Begitu tiba di Pelabuhan Manado, Minggu 25 Januari 2026 pagi, Berkam langsung dievakuasi oleh Tim Kesehatan dari Komando Daerah TNI Angkatan Laut (Kodaeral) VIII yang dipimpin oleh Kadiskes Kodaeral VIII Letkol Laut (K) OYS.Karundeng mewakili Dankodaeral VIII Laksda TNI Dery Triesananto Suhendi, S.E., M.Tr.Opsla.
Berkam dibawa dengan ambulance Kodaeral VIII menuju RS Kandou yang berada di Jalan Raya Tanawangko, Malalayang, Kota Manado.
Di mana RS tersebut berjarak sekitar 7 kilometer dari pelabuhan Manado.
"Dankodaeral VIII Laksda TNI Dery Triesananto Suhendi, S.E., M.Tr.Opsla., diwakili Kadiskes Kodaeral VIII bersama Tim Kesehatan Kodaeral VIII membantu mengevakuasi seorang korban pemukulan yang terjadi akibat kesalahpahaman di wilayah Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, Minggu (25/1/2026)," terang Kadispen Kodaeral VIII Letkol Laut (P) Rudi Tandirerung, S.H.
Korban mengalami luka akibat peristiwa yang terjadi pada Kamis 22 Januari 2026 malam dan segera mendapatkan penanganan awal sebelum dievakuasi menggunakan kapal Penumpang dari Talaud ke Manado.
Korban dibawa ke Rumah Sakit Prof. Dr. R. D. Kandou Manado untuk mendapatkan perawatan medis lanjutan.
Proses evakuasi dilakukan dengan cepat dan aman oleh tim Kodaeral VIII bekerja sama dengan pihak terkait, mengingat kondisi korban yang memerlukan penanganan medis lebih intensif.
"Selama proses evakuasi, korban berada dalam kondisi stabil dan terus dipantau oleh petugas kesehatan Kodaeral VIII," terang dia.
Sebelumnya, Komandan Kodaeral VIII, Laksamana Muda TNI Dery Triesananto Suhendi, S.E., M.Tr.Ops memastikan kelima pelaku pemukulan terhadap korban akan diproses hukum.
"Atas nama pemimpin TNI AL, kami tidak mentolerir segala bentuk tindakan tidak terpuji dan melanggar hukum yang dilakukanoleh anggota TNI AL," tegas dia.
Saat ini, oknum-oknum TNI AL yang terlibat langsung dengan kejadian ini, sedang menjalani pemeriksaan intensif oleh Polisi Militer TNI Angkatan Laut dan akan diproses sesuai hukum yang berlaku.
"Saat ini, situasi di Melonguane telah kembali kondusif," ujar dia.
Ungkap dia, pihak Lanal Melonguane sendiri telah menyerahkan bantuan pengobatan dan tali asih kepada korban.
Selanjutnya, Danlanal Melonguane melakukan koordinasi dan mediasi dengan Pemerintah Daerah, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta keluarga korban, untuk menyelesaikan permasalahan ini secara kekeluargaan.
"Namun proses hukum tetap berlanjut," kata dia.
Dirinya mengimbau masyarakat di Kabupaten Kepulauan Talaud untuk tetap tenang.
"Kami memastikan bahwa proses hukum terhadap oknum aparat TNI AL tersebut dilakukan secara transparan sesuai ketentuan hukum yang berlaku," ujar dia.
Dirinya juga mengimbau kepada seluruh masyarakat kepulauan Talaud untuk bersama-sama menjaga ketertiban serta kondusifitas di kepulauan Talaud.
-
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini