Terima Kasih Man United, Man City dan Villa Bisa Bersaing Lagi  
January 26, 2026 04:01 PM

 

Inggris Tribunjogja.com -- Suasana di Emirates Stadium sejak menit awal terasa tegang. Arsenal, sang pemuncak klasemen, tampil percaya diri dengan dominasi bola, Minggu (25/1/2026).  

Tekanan demi tekanan dilancarkan, hingga akhirnya sebuah celah di lini belakang Manchester United membuat tuan rumah membuka skor.

Namun, bukannya runtuh, Man United justru bangkit. Perlahan mereka menemukan ritme, menahan gempuran, dan mulai menguasai tempo. 

Atmosfer berubah sorakan publik Emirates berganti dengan gumaman khawatir.

Kebangkitan Man United

Di tengah lapangan, Casemiro tampil seperti komandan perang. Ia memutus serangan, mengatur blok pertahanan, dan memberi rasa aman bagi rekan-rekannya.

Di sampingnya, Kobbie Mainoo menjadi maestro muda. Sentuhan elegan, keberanian duel, dan visi permainan membuatnya mengalahkan Declan Rice. 

Puncaknya, Mainoo merebut bola liar lalu mengirim umpan manis yang berujung pada gol spektakuler Matheus Cunha.

Man United bermain dengan disiplin, saat menyerang, mereka menggunakan formasi 4-2-3-1 yang cair.

Saat bertahan, mereka turun ke 4-4-2, menutup jalur tengah Arsenal.

Amad dan Patrick Dorgu membuat pergerakan diagonal yang membingungkan, salah satunya berbuah gol kedua.

Bryan Mbeumo juga tak kalah penting. Gol pembuka yang ia cetak setelah kesalahan Zubimendi menunjukkan naluri besar seorang striker di laga krusial.

Babak Kedua: Gol Cunha dan Keheningan Emirates

Ketika laga memasuki menit-menit akhir, tensi semakin tinggi. 

Arsenal mencoba bangkit lewat set-piece, namun United tetap solid. Lalu datanglah momen yang mengubah segalanya.

Matheus Cunha menerima umpan Mainoo, menggiring bola, dan melepaskan tembakan keras yang menghujam gawang Arsenal.

Seisi Emirates terdiam. United merayakan dengan penuh emosi, sementara wajah-wajah kecewa terlihat di tribun tuan rumah.

• Profil Lengkap Michael Carrick Pelatih Interim Manchester United Hingga Akhir Musim

Arsenal Kehilangan Momentum

Arsenal tampak kehabisan ide. Dominasi bola tak berbuah peluang berbahaya. 

Gol mereka hanya lahir dari situasi bola mati. Pola serangan kaku, minim improvisasi, dan ketergantungan pada set-piece membuat mereka kehilangan tajamnya permainan.

Kini, Arsenal mencatat tiga laga tanpa kemenangan. Hasil ini membuka pintu bagi Manchester City dan Aston Villa mendekat ke puncak klasemen.

Sudah lama rasa cemas bisa mencengkeram Arsenal, tiga musim berturut-turut finis sebagai runner-up menciptakan tekanan yang mengekang gerakan dan berujung pada poin-poin krusial yang hilang.

Dan benar saja, Arsenal kembali menunjukkan sisi rapuhnya. Dalam empat laga terakhir Premier League, mereka sudah dua kali melakukan kesalahan yang berujung pada gol lawan lebih banyak daripada 19 laga pertama musim ini.

Sedangkan Manchester United mencetak 38 persen dari seluruh gol yang Arsenal kebobolan di Emirates musim 2025/26 (3 dari 8 gol). 

Angka itu bukan sekadar statistik; ia menambah  ketegangan menjelang laga tandang sulit ke Leeds United pekan depan.

Statistik vs Realitas

Jika hanya melihat angka, Arsenal seharusnya bisa mengendalikan laga. Mereka menguasai bola, menciptakan peluang, dan secara xG (expected goals) unggul. 

Namun sepakbola bukan sekadar data. 

Dua gol jarak jauh luar biasa dari Man United menjadi variabel yang tak bisa diprediksi. 

Mereka mengubah jalannya pertandingan, menyalakan semangat tim tamu, dan membuat Emirates Stadium terdiam. 

Inilah sepakbola, tidak semua variabel bisa dikontrol. Kadang, pertandingan berayun hanya karena momen kualitas individu yang menakjubkan. (iwe)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.