TRIBUNLOMBOK.COM - Lombok Timur tidak hanya menawarkan kemegahan Gunung Rinjani, tetapi juga menyimpan rahasia peradaban Suku Sasak yang masih terjaga murni di Desa Adat Limbungan.
Terletak di Desa Perigi, Kecamatan Suela, perkampungan ini diyakini oleh tetua adat setempat (Mangku) sebagai salah satu pemukiman tradisional tertua, yang menjadi cikal bakal filosofi arsitektur rumah adat di seluruh Pulau Lombok.
Salah satu pemandangan paling menyentuh di Limbungan adalah keseragaman bangunan yang berderet rapat. Setiap rumah dibangun secara gotong royong dengan material dan bentuk yang identik.
Tata letak yang berdekatan ini bukan tanpa alasan, ini melambangkan kerukunan, kebersamaan, dan kesetaraan derajat antar penduduk yang mayoritas menggantungkan hidup sebagai petani dan peternak.
Rumah adat di Limbungan memiliki karakteristik bangunan yang sangat spesifik untuk beradaptasi dengan lingkungan perbukitan yang dingin:
Lantai dan Pondasi: Lantai dibuat dari campuran tanah, getah kayu, dan kotoran sapi untuk memperkuat struktur sekaligus memberikan suhu sejuk alami.
Pintu Penghormatan: Keunikan utama terletak pada pintu masuk setinggi kurang dari satu meter yang dibuka dengan cara digeser. Desain ini memaksa setiap tamu untuk menunduk saat masuk, sebuah simbol fisik dari rasa hormat dan sopan santun kepada tuan rumah.
Pada bagian atap, terdapat ornamen menyerupai dua tanduk yang melambangkan filosofi ketaatan seorang istri kepada suami dalam tatanan keluarga Sasak.
Untuk menghalau udara dingin perbukitan yang menusuk, rumah ini sengaja dibangun tanpa jendela. Menariknya, suasana di dalam rumah tetap terasa dingin meski di siang hari karena penggunaan lantai tanah dan atap ilalang yang tebal.
Bagi wisatawan yang ingin merasakan sensasi "menginap di masa lalu", perjalanan menuju Limbungan menempuh jarak sekitar 72 kilometer dari Kota Mataram.
Melalui jalur utama Mataram menuju Lombok Timur. Setibanya di persimpangan Aikmel, ambil arah kanan melewati Wanasaba hingga mencapai Peringgabaya Utara. Setelah melihat gapura selamat datang Desa Perigi, ikuti jalan Budaya Limbungan hingga tiba di Dusun Adat Limbungan Barat atau Timur.
Estimasi Waktu: Mobil: Sekitar 2 jam 18 menit (tersedia angkutan umum dengan tarif kurang lebih Rp50.000).
Motor: Sekitar 2 jam dengan konsumsi BBM rata-rata 2 liter.
Disarankan bagi pengunjung untuk membawa jaket tebal, mengingat lokasi desa yang berada di area perbukitan dengan suhu yang cukup rendah, terutama saat malam hari.