Imbas Penutupan Rinjani, Kunjungan Wisatawan ke Agrowisata Kakao Wanasaba Turun Drastis
January 26, 2026 05:20 PM

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Rozi Anwar 

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TIMUR - Penutupan jalur pendakian Gunung Rinjani sejak awal Januari 2026 berdampak signifikan terhadap sektor pariwisata di sekitarnya.

Salah satu yang paling terdampak adalah destinasi Agrowisata Kakao di Desa Bebidas, Kecamatan Wanasaba, Kabupaten Lombok Timur.

Pengelola Agrowisata Kakao, Sanusi Ardi, mengungkapkan bahwa kunjungan wisatawan mancanegara ke tempatnya menurun drastis. Sebagai wilayah penyangga kawasan Sembalun, Agrowisata Kakao biasanya menjadi destinasi singgah favorit para pendaki.

“Biasanya tamu-tamu yang ke Rinjani atau Sembalun, baik setelah turun maupun sebelum naik, tetap mampir ke sini. Mereka melepas penat di tempat wisata sekitar Sembalun, salah satunya berkunjung ke agrowisata kakao untuk melihat proses pembuatan cokelat hingga mencicipinya langsung,” ujar Sanusi, Senin (26/1/2026).

Setelah melakukan pendakian, wisatawan biasanya mencari penginapan di sekitar Sembalun, seperti di Sapit, Bebidas, Suela, dan sekitarnya. Namun, sejak penutupan jalur pendakian Rinjani, kunjungan wisatawan ke desa-desa penyangga tersebut terpantau sepi.

Bahkan, penurunan kunjungan wisatawan mancanegara ini sudah terjadi sejak akhir tahun 2025 hingga pertengahan Januari 2026. Bulan Desember yang seharusnya menjadi puncak kunjungan wisatawan justru tidak menunjukkan peningkatan.

“Di bulan Desember saya hanya menerima empat orang tamu saja. Setelah itu tidak ada sama sekali. Padahal, pada bulan-bulan sebelumnya setiap Minggu pasti ada tamu yang berkunjung,” katanya.

Ia mengungkapkan, musim hujan dalam beberapa waktu terakhir juga berdampak signifikan terhadap kunjungan wisatawan, sekaligus memengaruhi harga dan kualitas kakao.

Pada musim penghujan ini, harga kakao kering hanya dijual sekitar Rp60 ribu per kilogram, turun dari harga sebelumnya yang mencapai lebih dari Rp100 ribu per kilogram.

“Sejak musim hujan, harga kakao turun dan kualitasnya juga menurun karena petani kesulitan menjemur kakao,” tambahnya.

Sanusi menjelaskan, pada musim panas proses penjemuran biji kakao biasanya memakan waktu lima hingga enam hari. Namun saat musim hujan, waktu penjemuran bisa mencapai tujuh hingga delapan hari, bahkan lebih lama.

“Ini mengakibatkan kualitas kakao kurang bagus. Banyak biji kakao yang rusak saat musim penghujan seperti sekarang,” terangnya.

Penutupan pendakian wisata dan cuaca buruk ini juga membuat banyak biji kakao petani tidak laku terjual.

Untuk menyiasatinya, petani mencoba menjual kakao secara daring dengan sistem cash on delivery (COD).

“Kalau COD harganya memang sedikit lebih mahal, tapi kalau dihitung dengan ongkos kirim, tetap lebih rugi dibandingkan jika tamu datang langsung ke tempat,” ujarnya.

Jika wisatawan datang langsung, biji kakao dijual dalam bentuk paket wisata, mulai dari berkeliling kebun kakao, memilih dan memanen buah, hingga proses pembuatan minuman dari biji kakao.

“Bijinya menjadi suvenir. Kami hanya menyiapkan 100 gram untuk dibawa pulang, tapi biasanya mereka membayar lebih,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.