Kronologi 23 Anggota TNI AL Tertimbun Longsor di Bandung Barat, 4 Ditemukan Meninggal
January 26, 2026 09:32 PM

 

SURYA.co.id - Bencana tanah longsor menerjang Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, pada Sabtu (24/1/2026).

Musibah ini membawa duka mendalam bagi Korps Marinir TNI AL, di mana 23 anggotanya turut tertimbun material longsor saat menjalankan tugas latihan.

Hingga Senin (26/1/2026), proses evakuasi terus dilakukan dengan melibatkan teknologi canggih dan koordinasi lintas instansi.

Berikut adalah detail kronologi dan pernyataan resmi pihak terkait.

Baca juga: Sujud Syukur dan Tangis Basarnas, Polri dan TNI Usai 10 Korban Pesawat ATR 42-500 Ditemukan

Pendataan Korban TNI AL Dilakukan Tim Khusus

Proses pendataan 23 anggota Korps Marinir TNI AL yang menjadi korban dilakukan secara terpisah dari pendataan warga sipil yang juga hilang dalam bencana longsor.

Hal ini bertujuan untuk memudahkan koordinasi internal militer.

Incident Commander tanah longsor Desa Pasirlangu, Ade Zakir, menegaskan adanya pembagian tugas tersebut.

"Itu di luar Basarnas kita, di luar. (Data korban TNI masuk ke sini?) Tidak, ada tim khusus yang menangani," kata Ade Zakir, Senin (26/1/2026).

Senada dengan Ade, Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman, menjelaskan bahwa fokus pemerintah daerah adalah warga sipil, namun tetap bersinergi dengan TNI dalam proses pencarian.

"Koordinasinya dengan pihak Kodam, TNI. Kami fokus di pencarian yang 84 warga, meskipun dalam praktiknya kami bersinergi berkoordinasi, itu (datanya) sendiri, silakan dengan TNI," tutur Herman.

Kronologi

Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Muhammad Ali memberikan konfirmasi resmi mengenai keberadaan prajuritnya di lokasi bencana.

Beliau menyebutkan bahwa para anggota Marinir tersebut sedang bersiap untuk penugasan pengamanan wilayah perbatasan.

"Atas izin Bapak Menhan dan Bapak Panglima, saya menyampaikan terkait dengan kejadian bencana alam yang terjadi di Jawa Barat, di Desa Soreang, memang terdapat 23 anggota marinir yang tertimbun longsor," tutur Muhammad Ali dalam konferensi pers di Kompleks Senayan.

Selain itu, cuaca ekstrem menjadi pemicu terjadinya longsor.

"Memang mereka sedang melaksanakan latihan pratugas, untuk dikirim melaksanakan PAM (pengamanan) perbatasan RI-PNG. Memang latihannya di sana, dan saat itu memang kondisinya hujan lebat selama hampir dua malam hujan terus. Mungkin itu yang mengakibatkan longsor. Itu menimpa penduduk satu desa, dan kebetulan ada prajurit kita yang sedang berlatih di sana."

Penggunaan Teknologi Drone dan Thermal

Hingga saat ini, baru empat dari 23 personel yang berhasil ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Laksamana Muhammad Ali menjelaskan bahwa tim pencari menghadapi kendala akses yang cukup berat.

"Saat ini sudah diketemukan baru empat personel dalam kondisi meninggal dunia dan lain belum ditemukan, masih diadakan upaya pencarian terus. Sampai sekarang alat berat memang belum bisa masuk karena kondisi cuaca dan jalan yang kecil, tapi kita akan terus melaksanakan pencarian dengan teknologi, dengan drone, dan juga menggunakan thermal, juga anjing pelacak," jelas Laksamama Muhammad Ali.

Kepala Penerangan Kodam III/Siliwangi, Kolonel Inf Mahmuddin, menjelaskan bahwa kondisi di lapangan masih sangat berisiko bagi para petugas evakuasi karena material tanah yang masih labil

"Upaya pencarian beberapa kali terkendala cuaca ekstrem, berupa hujan lebat disertai angin kencang, yang membuat kondisi di lokasi menjadi tidak aman bagi petugas. Aliran air dan material longsor yang masih bergerak juga menyulitkan penggunaan alat berat," ujar Mahmuddin.

Pencarian terus dilanjutkan dengan memprioritaskan keselamatan tim evakuasi.

Tim juga memaksimalkan penggunaan teknologi pemantau panas tubuh untuk menemukan korban yang masih tertimbun.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.