PANGKALPINANG, BABEL NEWS - Aroma bekas kepulan asap terasa menyengat ketika masuk ke dapur rumah warga bernama Rosia (66) di Kelurahan Lontong Pancur, Kecamatan Pangkalbalam, Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, Minggu (25/1/2026) siang.
Dinding dapur hingga atap rumahnya pun terlihat kusam akibat asap yang dihasilkan pembakaran kayu bakar untuk memasak.
Rosia terpaksa beralih ke kayu bakar untuk memasak menyusul kelangkaan elpiji 3 kilogram yang terjadi di wilayah Kota Pangkalpinang sejak beberapa waktu terakhir.
Kesulitan mendapat elpiji bersubsidi atau biasa disebut gas melon tersebut, memaksa Rosia mencari kayu bakar di tepi pelabuhan hingga sungai untuk kebutuhan memasak sehari-hari bagi dirinya dan keluarga.
"Sulit, kemarin keliling dari toko depan sampai ke Kampung Seberang tidak ada elpiji 3 kilogram. Mereka bilang habis, makanya saya lebih memilih cari kayu bakar daripada tidak bisa masak," kata Rosia kepada Bangka Pos.
"Biasanya saya beli gas itu Rp25 ribu (per tabung) di toko, kemarin ada beli itu terakhir Rp30 ribu, tetapi itu pun tidak ada lagi penjual yang memiliki stok untuk dijual dan saya terpaksa masak pakai kayu bekas kapal," tuturnya.
Rosia mengaku tidak mengetahui penyebab kelangkaan gas melon di ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tersebut.
"Tidak tahu ini kenapa, kemarin-kemarin aman-aman saja elpiji (3 kg),” ujar ibu sembilan anak ini.
“Tetapi, awal tahun kemarin susah mendapatkan gas dan warga di sini pun tidak dapat gas. Mau beli, tetapi tidak ada yang jual dan barangnya kosong," lanjut Rosia.
Dia pun harus menggunakan waktu istirahat siangnya untuk mencari kayu bakar dan terkadang ada yang mengantarkan kayu bekas ke rumahnya.
"Mau gimana lagi, kalau menunggu gas tidak bisa masak, ya saya mending cari kayu. Pernah datang ke pangkalan gas sudah menyerahkan KTP (kartu tanda penduduk), tetapi malah tidak dapat gas," tutur Rosia.
"Daripada saya antre panjang, mendingan saya mencari kayu bakar karena sampai saat ini orang yang jualan gas bilang stok tidak ada dan belum datang," sambungnya.
Lebih lanjut, Rosia berharap pemerintah memberikan solusi atas kelangkaan elpiji 3 kilogram tersebut.
"Tentu, kami harap segera ada solusi karena masyarakat banyak yang mengeluh elpiji 3 kilogram kosong dan susah didapatkan di pasaran maupun toko kelontong," ujarnya. (v1)