Sikap PGRI Jambi dalam Kasus Kekerasan Fisik Guru vs Murid di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur
January 26, 2026 09:48 PM

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Konflik antara guru dan siswa di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, menjadi perhatian serius Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Jambi. Peristiwa itu dinilai sebagai cerminan tantangan dunia pendidikan saat ini, khususnya dalam menghadapi perubahan karakter siswa di era digital.

Ketua PGRI Provinsi Jambi, Nanang Sunarya, mengatakan persoalan tersebut tidak bisa dilepaskan dari pengaruh kuat media digital terhadap generasi Z dan generasi Alpha. 

Menurutnya, siswa kini memiliki keterikatan yang intens dengan dunia maya, sehingga pola komunikasi dan ekspresi di ruang nyata kerap terpengaruh oleh apa yang mereka konsumsi di media sosial.

Nanang menilai insiden itu berawal dari kesalahpahaman dalam komunikasi antara guru dan siswa. Pilihan kata dan bahasa yang digunakan kedua belah pihak dinilai menjadi pemicu terjadinya konflik. Karena itu, ia menekankan pentingnya kepekaan guru terhadap kondisi psikologis dan latar belakang digital siswa dalam proses pembelajaran.

PGRI Provinsi Jambi telah menjalin komunikasi dengan pengurus cabang setempat serta pihak-pihak terkait guna mencari penyelesaian terbaik. Ia menegaskan PGRI mengecam segala bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan dan mendorong penyelesaian secara kekeluargaan agar proses belajar mengajar dapat kembali berlangsung kondusif.

Bagaimana PGRI menyikapi persoalan ini? Berikut petikan wawancara Ketua PGRI Provinsi Jambi, Nanang Sunarya, bersama Jurnalis Tribun Jambi, M Yon Rinaldi, dalam Saksi Kata.

Tribun: Terima kasih sudah hadir, Bang Nanang.

Nanang Sunarya: Alhamdulillah, terima kasih. Senang bisa berdiskusi.

Tribun: Bang Nanang, bagaimana PGRI Provinsi Jambi memandang kasus yang terjadi di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur ini?

Nanang Sunarya: Ya, ini memang persoalan yang kita hadapi dalam konteks dunia pendidikan hari ini. Kita berhadapan dengan siswa dari generasi Z dan generasi Alpha, yang memiliki keterikatan sangat kuat dengan dunia digital. 

Apa yang terjadi di dunia maya sering kali tidak melalui proses penyaringan yang matang, dan itu memengaruhi cara mereka berekspresi di dunia nyata.

Tribun: Artinya, faktor digital cukup berpengaruh?

Nanang Sunarya: Sangat berpengaruh. Kondisi seperti ini kerap memancing reaksi spontan ketika siswa menghadapi persoalan. Di sisi lain, guru juga harus kita akui perlu memiliki kepekaan terhadap situasi digital tersebut. 

Siswa hari ini cenderung mengekspresikan diri sesuai dengan apa yang mereka tonton dan konsumsi di media sosial.

Tribun: Lalu bagaimana seharusnya guru menyikapi kondisi tersebut?

Nanang Sunarya: Idealnya, setiap guru memiliki kemampuan mengelola pembelajaran yang relevan dengan tren kekinian.

Pembelajaran harus dibuat menyenangkan dan kolaboratif, agar terbangun hubungan yang sehat antara guru dan siswa. Karena itu, kasus ini perlu dilihat secara utuh, baik dari sudut pandang siswa maupun guru.

Tribun: Jika ditarik ke akar persoalan, apa yang sebenarnya terjadi?

Nanang Sunarya: Kalau kita lihat dari awal, ini berangkat dari persoalan komunikasi. Ada kesalahpahaman dalam penggunaan bahasa atau pilihan kata yang dianggap tidak berterima oleh guru, Pak Agus.

Di sisi lain, siswa juga merasa ada kata-kata yang kurang berkenan bagi mereka. Pilihan idiom dan kosakata inilah yang akhirnya memicu insiden tersebut.

Tribun: Jadi bisa disimpulkan bahwa akar masalahnya ada pada pola komunikasi?

Nanang Sunarya: Betul. Pola komunikasi yang terganggu akibat pilihan kata dari kedua belah pihak.

Tribun: Apakah PGRI sudah berkomunikasi dengan pihak sekolah, guru, maupun siswa?

Nanang Sunarya: Sudah. Pengurus cabang PGRI setempat telah berkomunikasi dan memberikan informasi kepada kami.

Dengan pihak-pihak terkait, komunikasi masih terus berjalan, sebagian melalui media, sebagian lagi secara kekeluargaan. Tujuannya satu, mencari solusi terbaik agar proses pembelajaran bisa kembali berjalan dengan baik.

Tribun: Bagaimana respons dari pihak sekolah dan lingkungan sekitar?

Nanang Sunarya: Mereka menyayangkan terjadinya peristiwa ini, apalagi berlangsung di lingkungan pendidikan. 

SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur sendiri merupakan sekolah dengan jumlah siswa yang tidak terlalu besar dan memiliki pola pembelajaran yang cukup intens, termasuk praktik pertanian. Karena itu, persoalan ini harus disikapi secara bijak dengan mempertimbangkan sudut pandang guru dan siswa.

Tribun: Sikap resmi PGRI Jambi terhadap insiden kekerasan yang terjadi?

Nanang Sunarya: PGRI Jambi mengecam dan menyayangkan segala bentuk kekerasan. Apa pun persoalannya, saluran ekspresi tidak boleh diwujudkan dalam tindakan kekerasan.

Tribun: Langkah apa yang seharusnya dilakukan ke depan?

Nanang Sunarya: Yang utama adalah menyelamatkan proses pembelajaran di sekolah tersebut.

Karena sudah ada saling melapor, kami berharap pihak kepolisian, khususnya Polda Jambi, dapat memfasilitasi mediasi kedua belah pihak. 

Di sisi lain, suasana belajar harus tetap kondusif. Siswa berhak mendapatkan pendidikan yang baik, dan guru juga harus mendapatkan jaminan keamanan, kenyamanan, serta keselamatan dalam menjalankan tugasnya.

Tribun: Apa harapan PGRI Jambi secara lebih luas?

Nanang Sunarya: Secara nasional, PGRI sudah berkomunikasi dengan Komisi X DPR RI dan menyerahkan naskah akademik kepada kementerian terkait untuk mendorong lahirnya Undang-Undang Perlindungan Guru. 

Harapannya, guru yang menjalankan tugas mendidik tanpa niat melakukan kejahatan harus mendapatkan perlindungan hukum.

Tribun: Apa pesan terakhir Bang Nanang?

Nanang Sunarya: Guru dan siswa sama-sama harus menjaga emosi dan ego. Kondisi fisik dan psikologis anak-anak kita hari ini juga perlu menjadi perhatian, apalagi dengan kebiasaan bermain gawai hingga larut malam. 

Ke depan, siswa perlu diberikan saluran yang sehat untuk menyampaikan kritik demi kemajuan pendidikan, sehingga kejadian serupa tidak terulang.

Tribun: Terima kasih banyak atas waktunya, Bang Nanang.

Nanang Sunarya: Sama-sama, terima kasih. (Tribunjambi.com/M Yon Rinaldi)

Baca juga: Semringah Hamdan Dilantik jadi PPPK Paruh Waktu Batang Hari setelah 20 Tahun Mengabdi

Baca juga: Di Balik Restorative Justice Kasus Guru Honorer Muaro Jambi, Tri Wulansari: Saya Malah Tidak Tahu

Baca juga: Top 6 Jambi Fakta Terbaru Guru vs Murid di SMKN 3 Tanjabtim

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.