Ahli Genetika Steve Horvath Yakin Manusia Bisa Mencapai Usia 150 Tahun
January 27, 2026 08:19 AM

 

POS-KUPANG.COM - Tanpa keraguan ahli genetika terkemuka, Steve Horvath mengatakan manusia bisa hidup hingga usia 150 tahun.

Hal tersebut dimungkinkan berkat kemajuan riset jam biologis dan teknologi peremajaan sel. 

Steve Horvath, ilmuwan terkemuka di bidang penelitian penuaan, menjelaskan terobosan dalam mengukur dan bahkan membalikkan proses penuaan biologis telah membuka batas usia manusia ke level yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. 

Kepada Time, Steve Horvath mengatakan manusia hidup hingga 150 tahun suatu hari nanti akan menjadi kenyataan.

“Saya sama sekali tidak ragu itu akan terjadi,” ujar Horvath. Dia merujuk pada pesatnya kemajuan pengukuran dan potensi pembalikan penuaan biologis. 

Baca juga: Opini: Ketika Krisis Iklim dan Beban Ganda Perempuan

Horvath menjelaskan, kemampuan mengukur usia biologis secara presisi telah mengubah arah penelitian umur panjang. 

Para ilmuwan kini dapat menguji apakah suatu terapi benar-benar memperlambat atau bahkan membalikkan proses penuaan, bukan sekadar mengobati penyakit yang muncul seiring bertambahnya usia. 

“Memiliki cara yang andal untuk melacak penuaan adalah hal yang esensial sebelum obat-obatan yang benar-benar memperpanjang usia dapat dibuktikan bekerja,” kata Steve Horvath. 

Ia menyebut teknologi ini sebagai “alat kunci untuk menemukan intervensi peremajaan,” serta fondasi bagi terapi yang bertujuan membalikkan penuaan, bukan hanya memperlambat kerusakannya. 

Tes berbasis mutilasi DNA

Dari metilasi DNA hingga jam GrimAge Dilansir New York Post, Minggu (25/1/2026), terobosan besar tersebut muncul pada awal 2010-an, ketika Horvath mengembangkan tes berbasis metilasi DNA—modifikasi kimia yang membantu mengatur gen menyala atau mati. 

Tes ini memungkinkan estimasi usia biologis seseorang di berbagai jaringan tubuh, sehingga peneliti dapat mengukur penuaan itu sendiri, bukan hanya menghitung usia kronologis. 

Penelitian tersebut berkembang menjadi jam biologis yang lebih canggih, termasuk yang dikenal sebagai GrimAge. 

Horvath menyebut GrimAge sebagai prediktor risiko kematian paling akurat hingga saat ini, yang dirancang untuk memperkirakan “probabilitas bahwa Anda akan meninggal dalam satu tahun ke depan” berdasarkan sinyal biologis, bukan usia kalender. 

“Namanya diambil dari Malaikat Maut,” kata Horvath kepada Time. Bukan menuju keabadian Meski optimistis soal usia 150 tahun, Horvath secara tegas menolak gagasan bahwa manusia akan segera hidup hingga 1.000 tahun. 

“Kita sama sekali belum dekat ke sana. Itu sepenuhnya fiksi ilmiah,” tegasnya. 

Sebagai peneliti utama di Altos Labs di Inggris, Horvath menekankan bahwa bahkan terobosan paling dramatis pun masih akan jauh dari usia seribu tahun yang pernah ia bayangkan saat remaja. 

Menurutnya, sains saat ini berfokus pada peningkatan usia yang realistis, bukan keabadian. 

“Namun secara matematis, saya memang berpikir bahwa pada suatu titik akan ada perpanjangan usia yang drastis,” katanya. 

Ia menambahkan bahwa inovasi biomedis yang berkelanjutan selama puluhan tahun dapat secara signifikan membentuk ulang batas usia manusia, meski tanpa mencapai tingkat fantasi. 

Horvath juga mengingatkan bahwa semua kemungkinan itu bergantung pada kelangsungan peradaban manusia. 

“Bayangkan jika kita memiliki 100 tahun lagi inovasi biomedis—apa dampaknya bagi kesehatan?” ujarnya. 

“Dalam pengertian abstrak, jika kita tidak saling memusnahkan dalam perang nuklir dan mampu menghindari perang serta pandemi, saya pikir spesies kita suatu hari akan menemukan cara untuk memperpanjang usia secara drastis,” imbuhnya. (*)

Sumber: KOMPAS.COM

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.