Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung — Suasana haru menyelimuti prosesi pemakaman Praka Marinir Muhammad Kori, prajurit TNI AL yang menjadi korban tanah longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada Sabtu 24 Januari 2026 sekitar pukul 03.00 WIB.
Jenazah almarhum dimakamkan di TPU Dusun 9, Desa Kibang, Kecamatan Metro Kibang, Kabupaten Lampung Timur, pada Senin (26/1/2026).
Sang istri tampak tak kuasa menahan kesedihan saat mengantar kepergian suaminya ke liang lahat.
Mengenakan pakaian serba hitam, istri Praka Marinir Kori menangis di pusaran makam. Ia sempat mencium foto mendiang suaminya yang diletakkan di atas kuburan.
“Ayah tidur, Nak,” ucapnya lirih kepada sang anak saat berada di pusara, Senin (26/1/2026).
Praka Marinir Muhammad Kori mengembuskan napas terakhir saat mengikuti kegiatan pra-satgas sebagai persiapan penugasan ke perbatasan Papua Nugini. Ia meninggal dunia di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Sabtu (24/1/2026).
Almarhum meninggalkan seorang istri dan satu orang anak yang masih berusia 2 tahun 6 bulan.
Ibu almarhum, Samrah, mengenang putranya sebagai sosok penyayang dan bertanggung jawab terhadap keluarga.
“Sedih sekali. Begitu dapat kabar, saya semalaman tidak bisa tidur. Tidak ada firasat apa-apa, hanya sempat kejatuhan cicak,” ujar Samrah.
Samrah mengatakan, sejak kecil almarhum menempuh pendidikan hingga sekolah dasar selama enam tahun di Palembang.
“Di mata keluarga, almarhum itu anaknya baik, sayang sama adiknya dan orang tuanya,” katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa komunikasi dengan anaknya selalu terjalin baik, termasuk saat almarhum berangkat ke Bandung untuk mengikuti latihan.
“Kori selalu pamit sama ibunya dan selalu mengabari keluarga. Dia juga tulang punggung keluarga,” ungkap Samrah.
Perjalanan almarhum menjadi prajurit TNI AL tidaklah singkat. Ia sempat mengikuti tes di Bombaru, Palembang, sebanyak empat kali hingga akhirnya dinyatakan lulus. Setelah itu, ia mengikuti pendidikan dan pelatihan lanjutan di Surabaya.
Momen terakhir yang paling berkesan bagi keluarga adalah saat Lebaran tahun lalu. Menurut Samrah, almarhum tidak pulang ke Palembang dan hanya berkomunikasi melalui telepon.
“Sebelum berangkat ke Bandung, dia pamit sama saya. Katanya, setelah lulus dari Bandung, dia akan berangkat tugas ke Papua,” ujar Samrah.
Almarhum juga sempat menyampaikan rencananya untuk membeli rumah di Lampung sepulang dari Papua.
“Nanti saya dan bapaknya mau dibawa ke Lampung, setelah punya rumah di sana,” katanya.
Sementara itu, ayah mertua almarhum, Dedi Suwarta, menilai Praka Marinir Muhammad Kori sebagai sosok menantu yang baik dan bertanggung jawab.
“Sehari-hari dia tinggal sama saya. Saya tahu kabar almarhum lalu disuruh pulang,” ujarnya.
Dedi mengatakan, meski bekerja di luar daerah, ia selalu mendapatkan kabar dari almarhum. Komunikasi terakhir mereka terjadi sekitar tiga minggu sebelum kejadian.
“Kori itu anaknya baik, tidak pernah menyusahkan orang tua, rajin salat, dan tutur katanya tidak pernah kasar,” kata Dedi.
Menurutnya, almarhum juga memiliki sejumlah prestasi di bidang olahraga, seperti lari, renang, dan menembak.
“Dia pernah bilang, kalau sudah pulang dari Papua, ingin main ke rumah kakeknya di Jawa bareng-bareng,” pungkas Dedi.
Diketahui, Praka Marinir Muhammad Kori merupakan salah satu korban meninggal dunia dalam tragedi tanah longsor yang terjadi di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada Sabtu 24 Januari 2026 sekitar pukul 03.00 WIB.
Musibah ini terjadi akibat cuaca ekstrem dan hujan deras yang mengguyur lokasi latihan selama dua malam berturut-turut.
Praka Muhammad Kori bersama rekan-rekannya sedang mengikuti latihan pratugas sebelum dijadwalkan berangkat untuk pengamanan perbatasan RI-Papua Nugini (Pam Satgas Perbatasan RI-PNG).
(Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra)