Jelajahi 5 Desa Adat di Lombok yang Menjaga Napas Tradisi Sasak
January 27, 2026 02:19 PM

TRIBUNLOMBOK.COM - Eksplorasi wisata di Pulau Lombok seolah menjadi petualangan yang tak bertepi.

Namun, pesona Pulau Seribu Masjid ini bukan hanya soal jajaran pantai berpasir putih atau kemegahan air terjunnya.

Kekuatan utama pariwisata Lombok justru terletak pada harmoni antara keindahan alam dan kentalnya napas tradisi masyarakatnya.

Bagi para wisatawan yang mendambakan pengalaman autentik, Lombok menawarkan perjalanan melintasi waktu melalui keberadaan desa-desa adatnya.

Berikut rekomendadi desa adat di Lombok yang wajib dikunjungi.

1. Desa Sade

Inaq Cim, nenek penjual kopi di Dusun Sade, Lombok Tengah
Inaq Cim, nenek penjual kopi di Dusun Sade, Lombok Tengah (TribunLombok.com/Sirtupillaili)

Terletak di Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, perkampungan ini tetap setia mempertahankan wajah aslinya di tengah gempuran zaman. Memasuki Desa Sade, pengunjung akan langsung disambut oleh deretan rumah tradisional Sasak yang khas, lengkap dengan atap ilalang dan dinding anyaman bambu.

Desa Sade menjadi jendela terbaik bagi siapa pun yang ingin melihat bagaimana masyarakat Suku Sasak hidup di masa lampau.

Meski masyarakatnya sangat religius, mereka tetap memegang teguh warisan leluhur, menjadikannya destinasi yang memikat baik bagi turis domestik maupun mancanegara.

Menuju Desa Sade kini jauh lebih praktis. Dari pusat Kota Mataram, Anda hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan melalui jalur cepat Bypass Mataram-Mandalika.

Lokasinya yang sangat strategis hanya berjarak sekitar 11 kilometer atau 15 menit dari Bandara Internasional Lombok membuat desa ini menjadi titik persinggahan favorit.

Terlebih lagi, posisinya searah dengan Sirkuit Mandalika. Tak heran jika setiap perhelatan akbar seperti MotoGP, Desa Sade selalu dipadati wisatawan yang ingin merasakan ketenangan budaya sebelum menikmati keriuhan balapan.

Meski bagian dalam kampung tetap terjaga keasliannya, fasilitas di sekitar kawasan ini sudah sangat mumpuni.

Akses jalan sudah mulus dan dapat ditempuh baik dengan sepeda motor maupun mobil. Di luar gerbang kampung adat, fasilitas modern seperti minimarket pun telah tersedia untuk kenyamanan pengunjung.

Mata pencaharian warga Desa Sade umumnya bersumber dari sektor pertanian dan pariwisata. Di sepanjang gang-gang desa, para ibu tampak terampil menenun kain dengan cara tradisional.

Pengunjung dapat membawa pulang buah tangan khas Sade, mulai dari suvenir unik seharga Rp15.000 hingga kain tenun berkualitas tinggi yang bernilai jutaan rupiah.

Setiap helaian benang yang ditenun bukan sekadar kain, melainkan simbol ketekunan dan warisan budaya yang mereka jaga dengan penuh rasa bangga.

Eksplorasi wisata di Pulau Lombok seolah menjadi petualangan yang tak bertepi.

Namun, pesona Pulau Seribu Masjid ini bukan hanya soal jajaran pantai berpasir putih atau kemegahan air terjunnya.

Kekuatan utama pariwisata Lombok justru terletak pada harmoni antara keindahan alam dan kentalnya napas tradisi masyarakatnya.

Bagi para wisatawan yang mendambakan pengalaman autentik, Lombok menawarkan perjalanan melintasi waktu melalui keberadaan desa-desa adatnya. Salah satu yang paling ikonik dan melegenda adalah Desa Sade.

Terletak di Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, perkampungan ini tetap setia mempertahankan wajah aslinya di tengah gempuran zaman. Memasuki Desa Sade, pengunjung akan langsung disambut oleh deretan rumah tradisional Sasak yang khas, lengkap dengan atap ilalang dan dinding anyaman bambu.

Desa Sade menjadi jendela terbaik bagi siapa pun yang ingin melihat bagaimana masyarakat Suku Sasak hidup di masa lampau.

Meski masyarakatnya sangat religius, mereka tetap memegang teguh warisan leluhur, menjadikannya destinasi yang memikat baik bagi turis domestik maupun mancanegara.

Menuju Desa Sade kini jauh lebih praktis. Dari pusat Kota Mataram, Anda hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan melalui jalur cepat Bypass Mataram-Mandalika.

Lokasinya yang sangat strategis hanya berjarak sekitar 11 kilometer atau 15 menit dari Bandara Internasional Lombok membuat desa ini menjadi titik persinggahan favorit.

Terlebih lagi, posisinya searah dengan Sirkuit Mandalika. Tak heran jika setiap perhelatan akbar seperti MotoGP, Desa Sade selalu dipadati wisatawan yang ingin merasakan ketenangan budaya sebelum menikmati keriuhan balapan.

Meski bagian dalam kampung tetap terjaga keasliannya, fasilitas di sekitar kawasan ini sudah sangat mumpuni.

Akses jalan sudah mulus dan dapat ditempuh baik dengan sepeda motor maupun mobil. Di luar gerbang kampung adat, fasilitas modern seperti minimarket pun telah tersedia untuk kenyamanan pengunjung.

Mata pencaharian warga Desa Sade umumnya bersumber dari sektor pertanian dan pariwisata. Di sepanjang gang-gang desa, para ibu tampak terampil menenun kain dengan cara tradisional.

Pengunjung dapat membawa pulang buah tangan khas Sade, mulai dari suvenir unik seharga Rp15.000 hingga kain tenun berkualitas tinggi yang bernilai jutaan rupiah.

Setiap helaian benang yang ditenun bukan sekadar kain, melainkan simbol ketekunan dan warisan budaya yang mereka jaga dengan penuh rasa bangga.

2. Desa Ende

Rumah-rumah tradisional Suku Sasak di Dusun Ende, Lombok Tengah.
Rumah-rumah tradisional Suku Sasak di Dusun Ende, Lombok Tengah. (TRIBUNLOMBOK.COM/SINTO)

Jika Anda merencanakan kunjungan ke Lombok Tengah, sempatkanlah menepi sejenak dari keriuhan sirkuit.

Hanya berjarak sekitar 7 kilometer dari Sirkuit Mandalika, terdapat sebuah dusun bersahaja yang tetap teguh memegang mandat leluhur, Desa Adat Sasak Ende.

Terletak di wilayah Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Desa Ende menawarkan atmosfer masa lalu yang kontras dengan kemegahan aspal Mandalika.

Destinasi ini berada di jalur lama penghubung Bandara Lombok menuju kawasan pesisir selatan, menjadikannya persinggahan yang sangat mudah dijangkau dengan sepeda motor maupun mobil sewaan.

Desa ini menjadi rumah bagi sekitar 150 penduduk yang menempati 30 bangunan tradisional yang berderet rapi menghadap ke arah matahari terbit.

Bangunan utama yang disebut Bale Tani ini bukan sekadar tempat berteduh, melainkan simbol filosofi hidup Suku Sasak.

Satu hal yang langsung terasa saat memasuki rumah adalah kesejukannya. Atap yang terbuat dari jalinan rumput ilalang berfungsi sebagai pengatur suhu alami.

Meski terik menyengat di luar, di dalam sini tetap adem karena ilalang menyaring sirkulasi udara dengan baik.

Tak hanya soal atap, pintu Bale Tani sengaja dibuat rendah, hanya setinggi sekitar 140 centimeter.

Arsitektur ini adalah bentuk edukasi tata krama, setiap tamu yang masuk dipaksa menunduk. Gerakan ini secara simbolis bermakna bahwa siapa pun yang datang harus mengedepankan kesopanan dan rasa hormat kepada sang pemilik rumah.

Tradisi paling unik yang masih lestari hingga kini adalah kebiasaan warga melumuri lantai rumah dengan kotoran sapi segar.

Jauh dari kesan kotor, teknik yang diwariskan turun-temurun ini terbukti efektif memperkuat rekatan lantai tanah serta menghalau serangga.

Prosesnya dilakukan secara manual dengan mencampurkan sedikit air, lalu dipoleskan ke seluruh permukaan lantai menggunakan tangan.

Desa Ende tidak hanya menawarkan keunikan arsitektur. Pengunjung juga bisa menyaksikan atraksi budaya yang memacu adrenalin seperti Peresean (pertarungan dua pria bersenjatakan rotan), melihat keahlian para ibu saat Nyensek (menenun), hingga mendengarkan dentuman megah alat musik tradisional Gendang Beleq.

Sebelum beranjak pulang, pastikan Anda melihat-lihat galeri suvenir mereka. Tersedia beragam pilihan oleh-oleh khas Lombok yang dikerjakan dengan tangan, mulai dari kain tenun dan songket yang elegan, kaos khas Lombok, hingga aksesori mutiara yang cantik.

3. Desa Adat Bayan

Ritual Menutu Mulud atau menumbuk padi di acara Maulid Adat Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, Senin, (10/10/2022).
Ritual Menutu Mulud atau menumbuk padi di acara Maulid Adat Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, Senin, (10/10/2022).

Jika Lombok Tengah memiliki Sade dan Ende, maka Lombok Utara menyimpan permata sejarah yang tak kalah memukau, Desa Adat Bayan.

Berada kokoh di lereng utara Gunung Rinjani, perkampungan ini bukan sekadar destinasi wisata, melainkan salah satu desa tertua yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang kebudayaan di Pulau Lombok.

Secara administratif, desa yang membentang seluas 2.600 hektare ini dihuni oleh lebih dari lima ribu jiwa.

Mayoritas penduduknya adalah petani yang hidup harmonis dengan alam, menjaga warisan leluhur di tengah arus modernisasi.

Salah satu magnet utama di desa ini adalah Masjid Bayan Beleq. Bangunan cagar budaya yang telah berdiri selama lebih dari tiga abad ini merupakan tonggak sejarah masuknya ajaran Islam di Pulau Lombok.

Konstruksinya yang sederhana namun kokoh melambangkan keteguhan iman dan kearifan lokal yang tetap terjaga hingga detik ini.

Filosofi Kehidupan dan Kelestarian Alam
Masyarakat Adat Bayan hidup dalam tatanan sosial yang sangat tertata. Kehidupan mereka diatur oleh hukum adat yang mengatur keseimbangan antara hubungan manusia dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan yang paling menonjol adalah hubungan manusia dengan alam.

Kearifan lokal mereka sangat visioner, terutama dalam menjaga sumber daya air. Melalui hukum adat, warga Bayan berkomitmen menjaga kelestarian sungai dari hulu hingga hilir demi menjamin kelangsungan hidup anak cucu di masa depan.

Praktik ini merupakan bentuk nyata dari konsep pembangunan berkelanjutan yang sudah mereka terapkan jauh sebelum istilah tersebut populer di dunia modern.

Salah satu momen paling sakral di sini adalah ritual Maulid Adat, di mana warga melakukan tradisi Menutu atau menumbuk padi secara bersama-sama, sebuah simbol gotong royong dan rasa syukur yang mendalam.

Panduan Rute Menuju Bayan

Bagi Anda yang berangkat dari Kota Mataram, terdapat dua pilihan jalur dengan sensasi pemandangan yang berbeda:

Jalur Pusuk Pas (Cepat & Sejuk): Melewati rute Mataram-Pemenang melalui hutan Pusuk. Anda akan disambut udara pegunungan dan kawanan monyet jinak di pinggir jalan. Jalurnya berkelok namun lebih efisien secara waktu.

Jalur Senggigi (Eksotis & Pantai): Melewati rute pesisir Mataram-Senggigi. Meskipun lebih jauh dan banyak tanjakan tajam, mata Anda akan dimanjakan oleh deretan pantai biru yang memesona sepanjang perjalanan.

Waktu tempuh rata-rata menuju Bayan adalah sekitar 1 jam lebih. Mengingat minimnya transportasi umum yang langsung menuju lokasi, sangat disarankan untuk menggunakan kendaraan pribadi atau menyewa jasa travel.

4. Desa Senaru

TRADISIONAL: Rumah-rumah tradisional di kampung adat Senaru, Kecamatan Bayan, Lombok Utara.
TRADISIONAL: Rumah-rumah tradisional di kampung adat Senaru, Kecamatan Bayan, Lombok Utara. (TribunLombok.com/Sirtupillaili)

Bagi para pendaki dan pecinta alam, nama Senaru tentu sudah tidak asing lagi. Desa yang terletak tepat di bawah kaki Gunung Rinjani, Kabupaten Lombok Utara ini, bukan sekadar titik awal pendakian, melainkan sebuah permata wisata budaya yang memadukan keindahan alam dengan kekayaan sejarah.

Tak hanya tersohor karena lanskap pegunungannya yang memukau, Desa Adat Senaru merupakan simbol keberhasilan masyarakat Sasak dalam menjaga marwah tradisi nenek moyang di tengah arus modernisasi.

Tak heran jika pada tahun 2021, desa ini terpilih mewakili Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam ajang bergengsi Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI).

Salah satu daya tarik utama desa ini adalah deretan rumah tradisionalnya yang memiliki nilai historis mendalam.

Selain wisata budaya, Senaru adalah rumah bagi dua air terjun paling ikonik di Lombok, yakni Sendang Gile dan Tiu Kelep.

Tersembunyi di balik rimbunnya hutan tropis yang asri, kedua air terjun ini menawarkan kesegaran air pegunungan yang jernih. Bagi wisatawan yang ingin menginap, kawasan ini sudah dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang, mulai dari penginapan dengan view pegunungan hingga restoran yang menyajikan kuliner lokal.

Berjarak sekitar 93,8 kilometer dari pusat Kota Mataram, perjalanan menuju Senaru memakan waktu kurang lebih 2 jam 18 menit. Wisatawan memiliki dua pilihan rute yang sama-sama memanjakan mata:

Rute Pesisir (Mataram-Senggigi): Sangat cocok bagi Anda yang ingin menikmati pemandangan garis pantai Lombok Utara.

Rute Pusuk (Mataram-Pusuk Pas): Jalur alternatif yang lebih sejuk dengan nuansa hutan pegunungan dan kehadiran monyet-monyet liar di sepanjang jalan.

5. Desa Limbungan

Rumah Adat Limbungan di Desa Perigi Lombok Timur merupakan salah satu objek wisata Lombok yang layak dikunjungi.
Rumah Adat Limbungan di Desa Perigi Lombok Timur merupakan salah satu objek wisata Lombok yang layak dikunjungi. (Ruhul Qudus)

Lombok Timur tidak hanya menawarkan kemegahan Gunung Rinjani, tetapi juga menyimpan rahasia peradaban Suku Sasak yang masih terjaga murni di Desa Adat Limbungan.

Terletak di Desa Perigi, Kecamatan Suela, perkampungan ini diyakini oleh tetua adat setempat (Mangku) sebagai salah satu pemukiman tradisional tertua, yang menjadi cikal bakal filosofi arsitektur rumah adat di seluruh Pulau Lombok.

Salah satu pemandangan paling menyentuh di Limbungan adalah keseragaman bangunan yang berderet rapat. Setiap rumah dibangun secara gotong royong dengan material dan bentuk yang identik.

Tata letak yang berdekatan ini bukan tanpa alasan, ini melambangkan kerukunan, kebersamaan, dan kesetaraan derajat antar penduduk yang mayoritas menggantungkan hidup sebagai petani dan peternak.

Rumah adat di Limbungan memiliki karakteristik bangunan yang sangat spesifik untuk beradaptasi dengan lingkungan perbukitan yang dingin:

Lantai dan Pondasi: Lantai dibuat dari campuran tanah, getah kayu, dan kotoran sapi untuk memperkuat struktur sekaligus memberikan suhu sejuk alami.

Pintu Penghormatan: Keunikan utama terletak pada pintu masuk setinggi kurang dari satu meter yang dibuka dengan cara digeser. Desain ini memaksa setiap tamu untuk menunduk saat masuk, sebuah simbol fisik dari rasa hormat dan sopan santun kepada tuan rumah.

Pada bagian atap, terdapat ornamen menyerupai dua tanduk yang melambangkan filosofi ketaatan seorang istri kepada suami dalam tatanan keluarga Sasak.

Untuk menghalau udara dingin perbukitan yang menusuk, rumah ini sengaja dibangun tanpa jendela. Menariknya, suasana di dalam rumah tetap terasa dingin meski di siang hari karena penggunaan lantai tanah dan atap ilalang yang tebal.

Bagi wisatawan yang ingin merasakan sensasi "menginap di masa lalu", perjalanan menuju Limbungan menempuh jarak sekitar 72 kilometer dari Kota Mataram.

Melalui jalur utama Mataram menuju Lombok Timur. Setibanya di persimpangan Aikmel, ambil arah kanan melewati Wanasaba hingga mencapai Peringgabaya Utara. Setelah melihat gapura selamat datang Desa Perigi, ikuti jalan Budaya Limbungan hingga tiba di Dusun Adat Limbungan Barat atau Timur.

Estimasi Waktu: Mobil: Sekitar 2 jam 18 menit (tersedia angkutan umum dengan tarif kurang lebih Rp50.000).

Motor: Sekitar 2 jam dengan konsumsi BBM rata-rata 2 liter.

Disarankan bagi pengunjung untuk membawa jaket tebal, mengingat lokasi desa yang berada di area perbukitan dengan suhu yang cukup rendah, terutama saat malam hari.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.