TRIBUNMANADO.CO.ID - Kasus penikaman yang terjadi di wilayah Singkil, Kota Manado, Sulawesi Utara pada Selasa (27/1/2026) menjadi sorotan publik.
Korban yang dikenal bernama Jhero Mamonto atau biasa dipanggil Ello meninggal.
Berdasarkan pantauan Tribun Manado melalui media sosial terlihat sejumlah postingan warganet yang diketahui mengenal korban.
Dimana sebagian postingan dari facebook menyebut Jhero Mamonto dikenal orang baik.
Berikut sejumlah postingan akun facebook yang turut berduka atas meninggalnya Jhero Mamonto
@Echa Manado: "Selamat jalan Jhero Mamonto semoga amal kebaikanmu akan diterima,, aku bersaksi ngana tamang yg baik sekali"
@Jefry Kasim: "Selamat jalan polo, org paling bae-bae yang kita kenal dari masih kacil"
@Jindril Medendehe: "polo Jhero Mamonto, mgana orang bae-bae Polo. Selemat jalan polo. Beristirahatlah dalam Damai elo.
@Yhal: "Oh pirua nya sangka leh, Terakhir bkudpa Tahun lalu, In dengar kamari ngana so ndak ada, selamat jalan tamang, ngana orang bae ta tau"
@Vandy Lnd: "Selamat jalan Jhero Mamonto semoga amal kebaikanmu akan diterima, aku bersaksi kamu orang baik.
Selain itu beredar juga sebuah video yang disebut merupakan keributan disebuah acarah sebelum terjadi penikaman.
Terlihat dari video yang beredar di media sosial, Korban Jhero yang memakai kaos berwarna hijau dan celana panjang jeans berwarna biru tidak terlibat keributan.
Korban diketahui ingin melerai keributan yang terjadi, tapi video selesai sebelum terjadi penikaman.
Berdasarkan unggahan video yang merekam insiden perkelahian tersebut menyebut korban tidak terlibat perkelahian.
Berdasarkan keterangan saksi yakni Rolando Masaling saat dihubungi Tribun Manado melalui pesan messenger.
Saat diacara pernikahan, Rolando hanya datang untuk bermain Keyboard dan bukan warga setempat.
"Saya bukan warga situ, cuma datang main keyboard, terus tiba-tiba kacau" ucap Rolando.
Rolando pun membagikan video di media sosial saat keributan, namun saat terjadi penikaman tidak terlihat jelas karena tertutup pagar.
"Saya yang rekam videonya, tapi saat terjadi penikaman tidak jelas karena tertutup pagar" lanjut Rolando.
Rolando juga mengaku melihat korban yakni Jhero Mamonto hanya menghalangi perkelahian tersebut.
Sementara itu untuk penyebab perkelahian terjadi Rolando mengaku kurang tahu ada masalah apa tiba-tiba sudah berkelahi, karena hanya datang untuk bermain Keyboard.
"Kurang tau drang pe masalah apa, kage-kage so bakalae, dia (Jhero Mamonto) cuma ba pele drg bakalae" ucap Rolando
Kembali terjadi lagi kasus penikaman di wilayah Kota Manado, Sulawesi Utara, Selasa (27/1/2026) dini hari.
Setelah sebelumnya penikaman berujung kematian terjadi di Mahakeret, Kecamatan Wenang.
Kini penikaman yang sebabkan korban jiwa terjadi di Kelurahan Singkil Satu, Kecamatan Singkil.
Jarak lokasi Mahakeret ke Kecamatan Singkil 3,1 km, waktu tempuh sekira 11 menit dengan kendaraan bermotor lewat Jl. Diponegoro.
Kasus kali ini kembali hebohkan warga Manado.
Hal tersebut dikarenakan baru sekitar satu Minggu lebih kasus serupa terjadi di Mahakeret Barat, Lingkungan III, Kecamatan Wenang, Kota Manado.
Kali ini, kasus Pembunuhan Terjadi di Kampung Pancurang, Singkil Satu, Manado.
Kapolsek Singkil Ipda Leonardo Immanuel Simanjuntak didampingi Kasi Humas Polresta Manado Iptu Agus Haryono telah membenarkan peristiwa ini.
"Benar ada kasus penikman ada satu korban meninggal dunia," ujar Ipda Leonardo saat dikonfirmasi via whatsapp.
Kata Leonardo, peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 02.30 Wita, saat berlangsung acara pernikahan di wilayah Singkil Gunung Potong.
"Korban bernama Jero Mamonto (29), seorang pelaut warga Kelurahan Singkil Satu," ujar Leonardo.
Kata Leonardo, Jero dinyatakan meninggal dunia setelah sempat dilarikan ke RS Pancaran Kasih Manado.
Menurutnya, untuk sementara satu pelaku berinisial KW alias Kevin yang dinamakan di Polresta Manado.
"Kita sudah serahkan kasus ini ke Polresta Manado perkembangan dan Kronologi silakan ditanyakan ke Kasat Reskrim," pungkasnya.
Terkait kasus penikaman yang membuat seorang remaja bernama Godbless meninggal dunia di Mahakeret, Kota Manado, Sulawesi Utara.
Diketahui pelaku sudah ditangkap oleh Polresta Manado.
Jarak Mahakeret ke Polresta Manado sekitar 2 km, waktu tempuh sekira 8 menit dengan kendaraan bermotor lewat Jl. Diponegoro
Polresta Manado memberikan klarifikasi terkait dua orang yang diamankan.
Dimana hanya satu yang ditetapkan tersangka, sementara satu lainnya hanya berstatus sebagai saksi
Hingga kini aparat terus melakukan pendalaman.
Hal ini diutarakan pihak Polresta Manado menyusul pernyataan keluarga korban Godbless Solang bersama hukumnya.
"Sudah dua orang diamankan dalam penanganan perkara tersebut," kata Kasat Reskrim Polresta Manado AKP Elwin Kristanto melalui Kasi Humas Polresta Manado Iptu Agus Haryono dalam rilisnya Minggu (25/1/2026).
Sebut dia, satu orang berinisial VP (18) telah ditetapkan sebagai tersangka.
VP sudah ditahan.
"Kini ditempatkan di Rumah Tahanan Polresta Manado,” katanya.
Satu orang lain, kata dia, yakni MVW (15), berdasarkan hasil penyelidikan dan penyidikan sementara, belum ditemukan adanya keterlibatan dalam tindak pidana tersebut.
Karena itulah, MVW ditetapkan berstatus sebagai saksi.
Kepadanya tidak dilakukan penahanan.
"Meski demikian, demi kepentingan pengawasan serta perlindungan terhadap saksi yang masih di bawah umur, MVW untuk sementara waktu belum dipulangkan dan tetap diamankan di Polresta Manado sambil menunggu hasil pendalaman lebih lanjut," kata dia.
Ungkap dia, penyidik tengah memeriksa para saksi untuk mengungkap rangkaian peristiwa itu secara menyuruh.
Dirinya menegaskan Polresta Manado akan bertindak profesional.
"Kami siap menangani setiap perkara secara profesional, transparan dan sesuai aturan," kata dia.
Kepada masyarakat, ia mengimbau agar tenang, tidak mudah terprovokasi serta mempercayakan penanganan sepenuhnya pada aparat.
“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk tidak menyebarkan hoaks atau spekulasi yang dapat memperkeruh suasana. Mari bersama menjaga situasi kamtibmas tetap kondusif. Jika memiliki informasi terkait perkara ini, silakan disampaikan secara resmi kepada Polresta Manado,” katanya.
Baca juga: Sebagian Wilayah di Sulawesi Utara Berpotensi Alami Cuaca Ekstrem Pekan Depan
Shanty Tambajong, ibu dari Godbless Solang, remaja yang ditikam dan ditemukan meninggal di Mahakeret Barat, Kecamatan Wenang, Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara, Selasa (20/1/2026).
Memohon kepada masyarakat dan netizen untuk menjaga perasaan keluarga dengan tidak membagikan foto-foto kondisi Abes saat kejadian.
"Mohon hapus foto Abes waktu kejadian, mohon dengan sangat karena sangat menyiksa hati kami," pintanya.
Ia juga mengklarifikasi anggapan negatif beberapa pihak yang menilai Abes sebagai anak nakal hanya karena penampilan.
"Banyak yang berpikir Abes anak jahat karena pakai anting. Di sini kami ingin meluruskan bahwa yang dipakai hanya anting yang dijepit, bukan ditindik. Dia anak yang baik," pungkas Shanty menutup curahan hatinya.
Shanty secara khusus menitipkan pesan kepada pihak berwajib agar kasus ini diusut tuntas tanpa ada celah bagi pelaku untuk lolos. Keluarga bahkan merelakan jenazah Abes diotopsi demi kelancaran proses hukum.
"Dear pihak berwajib (kepolisian), yang kami butuhkan adalah keadilan buat anak kami Abes, agar pelaku bisa dihukum sesuai dengan perbuatan yang mereka lakukan agar tidak ada lagi Abes selanjutnya," tegasnya.
Meski menuntut keadilan, Shanty memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada aparat kepolisian yang telah bekerja cepat menangkap para pelaku dalam waktu 24 jam, serta memberikan pengawalan dari rumah duka di Teling hingga ke Matungkas dan kembali ke pekuburan di Teling.
"Lanjutkan jerih lelah yang tak dapat kami balas. Hanya doa agar para pak polisi terus diberkati. Yang akan melanjutkan kasus ini, jangan melepaskan orang jahat seperti mereka, beri mereka pengajaran sesuai dengan apa yang mereka lakukan."
Ditengah rasa duka, Shanty melontarkan pertanyaan mendalam bagi para pelaku yang tega merenggut nyawa anaknya. Berdasarkan foto-foto yang beredar, ia melihat tidak adanya rasa penyesalan dari pihak pelaku.
"Buat pelaku, apakah kalian tak merasakan apa yang Abes punya orang tua dan keluarga rasakan? Kalian tidak punya rasa penyesalan atas perbuatan yang dilakukan. Secara manusia, kami tak mampu menerima rasanya kami juga akan membalas perbuatan kalian," ungkapnya jujur.
Namun, di tengah kemarahan tersebut, pihak keluarga memilih jalan iman.
Mengutip pesan Bunda Pdt Cleopatra Turangan, Shanty menyatakan bahwa mereka telah melepaskan pengampunan.
"Penguatan iman kepada kami, sehingga kami sudah melepaskan pengampunan karena yang kami aminkan pembalasan adalah milik Tuhan."
Fakta-fakta kasus penikaman yang berujung kematian seorang remaja di Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut).
Korban diketahui bernama Godbless Solang (13).
Sementara terduga pelaku, yakni warga Kecamatan Pineleng, Minahasa, Sulut, berinisial VP (18).
Korban Godbless Solang ditemukan tak bernyawa pada Selasa (20/1/2026) siang.
Sejumlah fakta kasus kematian Godbless Solang di wilayah Kelurahan Mahakeret Lingkungan Satu, Kecamatan Wenang, Kota Manado, mulai terungkap.
Terkait hasil autopsi jenazah korban hingga penangkapan terduga pelaku.
Korban Alami Luka Tusuk di Punggung
Hasil autopsi menunjukkan korban meninggal dunia akibat luka tusuk di bagian punggung sebelah kiri.
Kasat Reskrim Polres Manado AKP Elwin Kristanto mengungkapkan bahwa luka tusuk tersebut menjadi temuan utama dalam hasil otopsi.
“Dari hasil otopsi, ditemukan luka tusuk di punggung sebelah kiri korban,” ujar AKP Elwin saat dikonfirmasi Tribun Manado, Rabu (21/1/2026).
Barang Bukti
Berdasarkan penyelidikan sementara, korban sempat berusaha menyelamatkan diri meski mengalami luka serius, sebelum akhirnya meninggal dunia di tempat kejadian perkara.
AKP Elwin menjelaskan, dalam pemeriksaan awal, terduga pelaku mengakui perbuatannya.
Polisi juga mengamankan satu orang lain yang masih berstatus sebagai saksi, serta sebilah senjata tajam yang diduga digunakan untuk menusuk korban.
Tim Bravo Resmob Polres Manado berhasil mengamankan terduga pelaku berinisial V.P (18) di Desa Munte, Kabupaten Minahasa Selatan, setelah bergerak cepat dan sekitar 12 jam setelah kejadian.
Lokasi Korban saat Ditemukan
Korban ditemukan di wilayah Kelurahan Mahakeret Lingkungan I, Kecamatan Wenang, Manado.
Jasad korban tergeletak tangga-tangga di sebuah lorong sempit.
Diketahui, korban Godbless Solang sempat berusaha menyelamatkan diri meski mengalami luka tusuk serius, sebelum akhirnya meninggal dunia di lokasi kejadian.
Mahakeret adalah salah satu kelurahan di kecamatan Wenang, Kota Manado, Sulawesi Utara, Indonesia.
Jarak Mahakeret ke Pusat Kota Manado Pasar 45 adalah 6,5 km atau bisa ditempuh dengan naik kendaraan 17 menit lewat Jl. Arie Lasut.
Terancam 15 tahun penjara
Pelaku berinisial VP (18) yang melakukan penikaman hingga korban Godbless Solang (13) meninggal dunia ditahan di Polresta Manado.
Korban ditemukan warga di sebuah gang permukiman di Mahakeret Barat, Lingkungan III, Kecamatan Wenang, Kota Manado, Sulawesi Utara, pada Selasa (20/1/2026).
Mahakeret adalah salah satu kelurahan di Kecamatan Wenang, Kota Manado, Sulawesi Utara, Indonesia.
Jarak Mahakeret ke Pusat Kota Manado Pasar 45 adalah 6,5 km atau bisa ditempuh dengan naik kendaraan 17 menit lewat Jalan Arie Lasut.
Pelaku saat ini dipastikan akan menjalani hukumanan kurangan penjara yang cukup lama.
Kasat Reskrim Polresta Manado AKP Elwin Kristanto menjelaskan, pasal yang dilangar kekerasan terhadap anak yang mengakibatkan mati.
Sebagaimana dimaksud dalam pasal 80 ayat (3) undang-undang no 35 tahun 2014 tentang perubahan undang-undang no 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.
"Sehingga pelaku terancam 15 tahun penjara," pungkasnya.
(TribunManado.co.id/Art/Cin)
-
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini