Bersama Kita Bisa, Kolaborasi Merawat Ruang Publik dan Kesadaran Lingkungan di Maumere NTT
January 27, 2026 06:47 PM

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE- Persoalan sampah di Kota Maumere tidak lagi sekadar urusan kebersihan. 

Ia telah berkelindan dengan kualitas ruang publik, perilaku masyarakat, dan ketahanan sistem pengelolaan lingkungan. 

Timbulan sampah yang terus meningkat, kebiasaan membuang sampah sembarangan, serta keterbatasan pengolahan di hilir memperlihatkan bahwa masalah ini tak bisa diselesaikan secara parsial.

Di tengah situasi itu, peringatan Hari Ulang Tahun ke-4 Tribun Flores dimaknai berbeda. Mengusung tema “Kita Bangkit Kita Bisa”, Tribun Flores memilih tidak merayakan hari jadinya secara seremonial. 

Media lokal tersebut justru turun ke ruang publik, menyatu dengan pemerintah daerah, akademisi, dunia usaha, dan komunitas masyarakat dalam gerakan sadar lingkungan di kawasan Monumen Tsunami Maumere, Jumat (23/1/2026).

Baca juga: Sampah 7 Ton Terkumpul Di Pulau Padar Labuan Bajo, Komitmen PHC Menuju Zero Waste

Ruang Publik yang Tergerus

Monumen Tsunami Maumere merupakan ruang publik strategis sekaligus simbol ingatan kolektif kota. Namun dalam beberapa waktu terakhir, kawasan ini menghadapi persoalan kebersihan, rumput liar, serta penumpukan sampah plastik yang menggerus fungsi sosial dan ekologisnya.

Rektor Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere, Jonas K. G. D. Gobang, menilai persoalan lingkungan di Maumere tak bisa diselesaikan oleh satu pihak. 

“Kolaborasi ini berangkat dari kepedulian bersama terhadap kondisi lingkungan di daerah, sekaligus menyongsong dua peringatan, yakni Tahun Baru Imlek dan hari jadi Tribun Flores,”ujar Jonas.

Menurut dia, menjaga Monumen Tsunami bukan semata membersihkan taman.

“Ini adalah upaya merawat ingatan kolektif dan menjadikannya ruang belajar bagi generasi muda,” katanya.

Praktik Pentahelix di Lapangan

Gerakan sadar lingkungan tersebut memperlihatkan praktik nyata pendekatan pentahelix. Pemerintah Kabupaten Sikka, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sikka, komunitas Tionghoa Maumere, civitas akademika Unipa, serta Tribun Flores terlibat langsung dalam aksi kerja bakti.

Peserta memungut sampah plastik, memangkas rumput liar, menata ranting dan dahan pohon, serta membersihkan sudut taman yang selama ini luput dari perhatian. 

HUT KE 4 TRIBUNFLORES -
HUT KE 4 TRIBUNFLORES - (TRIBUNFLORES. COM/GGMerayakan HUT ke 4, Tribun Flores, pemerintah, kampus, dunia usaha, dan komunitas turun langsung membersihkan Monumen Tsunami Maumere sebagai ruang publik dan simbol ingatan kolektif.)

Sebagai tindak lanjut, mahasiswa pencinta alam Unipa dijadwalkan berkemah sekitar satu bulan di area monumen. Selama periode tersebut, mereka akan melakukan edukasi publik, perawatan taman, serta pembagian bibit tanaman kepada masyarakat.

“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti pada satu momentum. Dengan keberadaan mahasiswa di sini, ada proses pendampingan dan edukasi yang berkelanjutan,” ujar Jonas.
Kesadaran dari Hulu

Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago menegaskan bahwa kebersihan kota tidak cukup diselesaikan dengan menambah armada atau tempat sampah.

“Masalah utama ada di hulu, yaitu perilaku kita sebagai penghasil sampah. Sampah itu milik kita, maka tanggung jawab membuang pada tempatnya juga ada pada kita,” kata Juventus saat mengikuti kerja bakti.

Ia mengapresiasi kolaborasi lintas pihak dan menekankan pentingnya merawat Monumen Tsunami sebagai aset sejarah dan ruang publik. Terkait wacana penetapan status darurat sampah, Juventus menilai istilah tersebut belum tepat.

“Kondisi kita masih terkendali. Persoalan utama saat ini adalah drainase yang bermasalah, sehingga ketika hujan, sampah dari saluran meluap. Ini sedang kami tangani bersama Dinas PUPR,” ujarnya.

Sistem Pengelolaan Masih Tradisional

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sikka, Putu Botha mengakui sistem pengelolaan sampah di wilayahnya masih dilakukan secara tradisional. Sampah dari lima kecamatan yang terlayani hingga kini masih diangkut dan dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) tanpa pengolahan modern.

“Kalau mau bicara sistem pengolahan sampah di lima kecamatan, layanan penanganan sampah yang dilaksanakan oleh DLH itu sebenarnya masih dengan cara tradisional. Jadi dikuburkan, diangkut, lalu dibuang ke TPA,” kata Putu Botha, Senin (26/1/2026).

Menurut dia, ke depan pengelolaan sampah harus beralih ke sistem yang memberi nilai tambah melalui prinsip reduce, reuse, recycle (3R).

“Ini yang diharapkan ke depannya, bahwa pengolahan sampah itu sudah dilakukan secara modern, ada recycle, reduce, dan reuse,” ujarnya.

Ketika TPA Wairi’i Kembali ke Open Dumping

Awal Januari 2026, Tribun Flores mendapati TPA Wairi’i di Desa Kolisia, Kecamatan Magepanda, kembali beroperasi dengan sistem open dumping. Kondisi ini terjadi setelah kebakaran merusak lapisan geomembran sanitary landfill.

“TPA Wairi’i saat ini kembali menggunakan sistem open dumping akibat kebakaran yang merusak geomembran sanitary landfill,” ujar Putu Botha.

Ia menegaskan kondisi tersebut tidak ideal dan tidak sejalan dengan kebijakan kementerian pengampu.

“Ini memang tidak disetujui oleh kementerian pengampu, karena sebelumnya TPA sudah menggunakan sistem sanitary landfill,” katanya.

Pemerintah daerah, lanjut dia, tengah mengupayakan percepatan perbaikan agar TPA kembali menggunakan sistem pengurugan yang lebih aman.

“Kita berharap dalam tahun ini sudah bisa kembali ke pengurugan sampah dengan sistem sanitary landfill,” ujarnya.

Sampah Rumah Tangga Mendominasi

DLH Sikka mencatat timbulan sampah di Maumere mencapai sekitar 42,8 ton per hari. Komposisi sampah didominasi sisa makanan lebih dari 40 persen, disusul plastik sekitar 20 persen.

“Sampah dari rumah tangga itu sebesar 51 persen, disusul kawasan, pasar, perniagaan, fasilitas publik, dan perkantoran,” kata Putu Botha.

Pendidikan Lingkungan dari Rumah dan Sekolah

Akademisi menempatkan rumah tangga sebagai titik awal pengelolaan sampah. Ketua Program Studi Agroteknologi Unipa Yovita Yasintha Billy menegaskan bahwa sampah tidak terlepas dari aktivitas sehari-hari.

“Bicara soal sampah sebenarnya bicara soal keseharian kita setiap hari. Karena setiap manusia akan menghasilkan sampah,” ujarnya.

Melalui pendampingan kelompok tani, dasawisma, dan komunitas, Unipa mendorong pengolahan sampah organik menjadi pupuk. 

Edukasi juga menyasar sekolah dasar, salah satunya melalui program ecobrick di SDK Yos Sudarso Maumere.

Trash Hero Maumere Menjaga Lingkungan dari Akar Rumput

Trash Hero Maumere, gerakan berbasis relawan yang konsisten mendorong kesadaran lingkungan dari tingkat paling dasar.Komunitas ini muncul dari kegelisahan warga atas kondisi pantai dan ruang publik yang kian dipenuhi sampah plastik.

Bagi Trash Hero Maumere, persoalan sampah tidak berhenti pada soal ke mana sampah dibuang, tetapi berakar pada bagaimana sampah itu dihasilkan sejak awal. Karena itu, setiap aksi bersih selalu dibarengi pesan perubahan perilaku: membawa botol minum sendiri, mengurangi kemasan plastik sekali pakai, serta membiasakan pemilahan sampah dari rumah. 

Pendekatan ini menempatkan warga bukan sekadar sebagai pembersih lingkungan, tetapi sebagai pelaku perubahan.

Konsistensi menjadi kekuatan utama gerakan ini. Trash Hero Maumere secara rutin menggelar aksi bersih atau clean up dua kali dalam sepekan, setiap Sabtu dan Minggu. Pantai, ruang terbuka hijau, hingga kawasan permukiman yang luput dari layanan persampahan menjadi lokasi kegiatan. 

Keberadaan Trash Hero Maumere juga memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan tidak selalu menunggu kebijakan besar. Gerakan akar rumput, dengan aksi kecil namun berulang, mampu memantik kesadaran kolektif. 

Sebagaimana tercermin dalam laporan-laporan sebelumnya, inisiatif ini kini kerap menjadi titik temu kolaborasi dengan komunitas lain, sekolah, hingga pemerintah daerah, memperkuat pesan bahwa pengelolaan sampah adalah tanggung jawab bersama.

Media dan Kerja Kolektif

Melalui peringatan HUT ke-4, Tribun Flores menegaskan perannya sebagai penggerak kolaborasi sosial. 

Aksi bersama di kawasan Monumen Tsunami Maumere menunjukkan bahwa media dapat menjembatani kepedulian pemerintah, akademisi, komunitas, dan masyarakat.

Pesannya sederhana: menjaga lingkungan bukan tanggung jawab satu pihak. 

Dari ruang publik itu, komitmen kolektif digaungkan bahwa perubahan dimungkinkan ketika semua pihak bergerak bersama.

Liputan khusus ini didukung oleh: Universitas Nusa Nipa Maumere, STIPER Bajawa, UNIKA Santo Paulus Ruteng, SMAK Frateran Maumere, SMK Negeri 3 Maumere, SDK Yos Sudarso Maumere, KSP Kopdit Obor Mas, CU Bahtera Sejahtera, LPK Musubu Bali, Yayasan Kuali Merah Putih, Kapolres Ende, PLN ULP Ende, Fraksi PDI-P Ende. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.