TRIBUNMATARAMAN.COM, TRENGGALEK - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur melakukan monitoring keberadaan satwa liar di Gunung Jaas atau Hutan Kota Trenggalek yang berada di Kelurahan Ngantru, Kecamatan/Kabupaten Trenggalek.
Salah satu fokus pemantauan adalah Burung Paok Pancawarna yang diketahui hidup di kawasan tersebut.
BKSDA Jawa Timur berencana memasang kamera jebak (camera trap) di kawasan hutan kota (Huko) untuk mengamati perilaku Burung Paok Pancawarna secara alami di habitatnya.
Polisi Kehutanan BKSDA Jawa Timur, Akhmad David Kurnia, menjelaskan bahwa Burung Paok Pancawarna merupakan burung endemik Pulau Jawa dan Bali yang oleh masyarakat lokal dikenal dengan sebutan punglor.
"Burung ini akan kami monitoring untuk mengetahui perilakunya. Harapannya, ke depan bisa dikembangkan sebagai salah satu atraksi wisata pengamatan burung yang pertama di Trenggalek," ujar David, Rabu (28/1/2026).
David menambahkan, burung dengan nama latin Hydrornis guajanus tersebut termasuk satwa yang dilindungi oleh negara.
Keberadaannya di Huko Trenggalek telah tercatat secara resmi oleh BKSDA Jawa Timur.
Baca juga: Satgas Pangan Kota Blitar Temukan Stok Kacang Tanah Langka di Pasar
Pencatatan tersebut dilakukan melalui kegiatan Festival Galaksi (Gagasan lan Aksi) yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Trenggalek.
Dalam kegiatan itu, BKSDA Jatim melakukan inventarisasi keanekaragaman hayati di kawasan Huko.
"Kami melakukan inventarisasi keanekaragaman hayati di Huko dan Paok Pancawarna sudah kami catat sebagai salah satu jenis yang ada di sana," lanjutnya.
Selain di Huko, BKSDA Jawa Timur juga mencatat keberadaan sejumlah burung endemik di Desa Boto Putih, Kecamatan Bendungan.
Di lokasi tersebut, ditemukan beberapa jenis burung khas pegunungan, salah satunya Burung Walik Kepala Ungu.
"Kami mencatat ada dua individu walik kepala ungu, satu pasang, jantan dan betina. Saat itu mereka sedang kawin dan kami berharap bisa berkembang biak dengan baik di sana," jelas David.
Tak hanya itu, BKSDA Jatim juga menemukan keberadaan Burung Sempur Hujan Rimba di Desa Boto Putih.
Menurutnya, kondisi habitat di wilayah tersebut masih cukup terjaga sehingga mendukung keberlangsungan satwa liar.
"Alhamdulillah, kawasan Boto Putih masih terjaga dengan baik dan semoga ke depan tetap lestari," katanya.
David pun mengajak seluruh masyarakat untuk ikut menjaga dan melestarikan satwa liar, baik yang telah dilindungi maupun yang belum dilindungi.
"Kami mengimbau agar satwa-satwa ini tidak ditangkap dan tidak diburu. Mereka merupakan bagian penting dari rantai makanan. Jika salah satu mata rantai hilang, keseimbangan lingkungan akan terganggu," pungkasnya.
(Sofyan Arif Candra/TribunMataraman.com)
Editor : Sri Wahyunik