Mengenal 'Sumeleh': Seni Ketenangan Hati ala Leluhur Jawa untuk Atasi Stres
Pojok Renungan January 28, 2026 03:38 PM
Di era di mana notifikasi ponsel seolah tak pernah berhenti menjerit, kita generasi modern seringkali terjebak dalam pusaran kecemasan (anxiety) yang tak berkesudahan. Tuntutan untuk selalu produktif, terlihat sukses di media sosial, dan ketakutan akan tertinggal (FOMO) telah menjadi menu sarapan sehari-hari. Akibatnya, banyak dari kita yang mencari "obat" ketenangan jauh ke luar sana, dari mulai staycation mahal hingga terapi meditasi impor.
​Padahal, jika kita mau menengok ke belakang, leluhur kita di Nusantara, khususnya dalam budaya Jawa, telah mewariskan sebuah teknologi batin yang sangat canggih untuk menjaga kewarasan. Teknologi itu bernama: Sumeleh.

​Bukan Sekadar Pasrah

​Seringkali, kata "sumeleh" disalahartikan sebagai sikap pasrah yang lemah, menyerah sebelum berperang, atau apatis terhadap keadaan. Padahal, makna sejatinya jauh lebih dalam dan aktif.
​Secara harfiah, sumeleh berasal dari kata dasar seleh yang berarti 'meletakkan'. Dalam konteks spiritual-psikologis, sumeleh berarti seni meletakkan beban hati pada tempat yang seharusnya. Ini adalah sebuah sikap mental di mana seseorang telah berusaha semaksimal mungkin (ikhtiar), lalu dengan sadar melepaskan kemelekatan terhadap hasil akhirnya.
​Falsafah ini mengajarkan bahwa tugas manusia hanyalah di wilayah "usaha". Sementara wilayah "hasil" adalah hak prerogatif Sang Pencipta. Ketika kita mencoba mengontrol apa yang di luar kendali kita, di situlah stres dan kecemasan lahir.

​Relevansi Sumeleh di Era Digital

​Lantas, apa hubungannya dengan stres digital hari ini? Sangat erat.
​Kita sering stres karena overthinking tentang masa depan yang belum terjadi, atau menyesali masa lalu yang sudah lewat. Kita cemas melihat pencapaian orang lain di Instagram, lalu merasa diri kita kurang.
​Sikap sumeleh adalah antitesis dari semua itu. Ia adalah rem pakem di saat pikiran kita melaju terlalu kencang. Ketika kita mempraktikkan sumeleh, kita sedang berkata pada diri sendiri:
​"Saya sudah melakukan bagian saya hari ini. Selebihnya, saya letakkan beban ini. Biar Semesta yang bekerja."

​Menurunkan Frekuensi Otak

​Secara ilmiah, kondisi sumeleh mirip dengan keadaan mindfulness atau flow. Saat seseorang benar-benar bisa 'meletakkan' bebannya, frekuensi gelombang otaknya cenderung turun dari Beta (kondisi siaga/stres tinggi) menuju Alpha (kondisi rileks/tenang). Di frekuensi inilah kreativitas, ketenangan batin, dan kejernihan berpikir justru muncul.
​Jadi, sumeleh bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda kedewasaan spiritual dan mental. Ini adalah kemampuan untuk tetap tenang di tengah badai, kemampuan untuk berdamai dengan ketidakpastian.
​Di tengah hiruk-pikuk dunia digital yang bising ini, mungkin sudah saatnya kita kembali duduk sejenak, menarik napas, dan belajar ilmu tua ini. Mari 'meletakkan' apa yang tak perlu kita panggul terus-menerus. Karena bahu kita diciptakan bukan untuk menanggung beban dunia, tapi untuk bersujud dan bekerja secukupnya.
​Rahayu.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.