Kondisi Terkini Jalan Nasional di Desa Masta Bakarangan Tapin Kalsel Pasca Banjir Surut
January 28, 2026 11:48 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, RANTAU - Inilah kondisi terini Jalan Nasional di Desa Masta, Kecamatan Bakarangan, Kabupaten Tapin, pasca banjir surut

Banjir yang sempat menggenangi Desa Masta, Kecamatan Bakarangan, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, kini dilaporkan telah surut. 

Genangan air yang sebelumnya menutup akses jalan nasional ruas Muara Muning-Balimau, tepatnya di wilayah Desa Masta, sudah tidak lagi menghambat arus lalu lintas, Rabu (28/1/2026). 

Kepala Desa Masta, Hartoni, mengatakan air telah sepenuhnya surut dari badan jalan. 

Baca juga: Pasca Banjir, Disdik Banjar Tekankan Sekolah Siap Beradaptasi, Hak Belajar Siswa Tetap Terpenuhi

Baca juga: Oksigen Sungai Barito Anjlok hingga 0,15 mg/l, DLH Batola Akui Perlu Kajian Mendalam

Namun, dampak banjir masih menyisakan persoalan serius, terutama pada kondisi infrastruktur jalan nasional tersebut. 

“Kondisi saat ini sudah kering, airnya sudah tidak ada di jalan. Cuma jalannya rusak dan banyak berlubang,” ujar Hartoni yang akrab disapa Pembakal Toni. 

Kerusakan berupa lubang-lubang di sejumlah titik jalan dikhawatirkan membahayakan pengguna jalan, khususnya kendaraan roda dua dan angkutan barang. 

Ruas Muara Muning-Balimau sendiri merupakan jalur vital penghubung antarwilayah, yaitu dari Kota Banjarmasin ke Kota Kandangan Hulu Sungai Selatan atau sebaliknya. 

Akses jalan itu setiap harinya dilintasi warga serta kendaraan distribusi hasil pertanian dan kebutuhan pokok. 

Warga berharap pemerintah daerah maupun instansi terkait dapat segera melakukan perbaikan, agar kerusakan jalan tidak semakin parah dan aktivitas ekonomi masyarakat kembali berjalan normal pascabanjir.

Pertanian Kena Dampak
 
Meski banjir yang melanda Desa Masta, Kecamatan Bakarangan, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, telah surut dari sebagian permukiman dan badan jalan, dampaknya masih dirasakan para petani. 

Hingga kini, lahan persawahan di desa tersebut dilaporkan masih terendam air.

Kepala Desa Masta, Hartoni, menyebutkan kondisi tersebut membuat petani belum bisa memulai aktivitas tanam.

“Petani belum ada yang menanam karena persawahan masih terendam,” katanya, Rabu (27/1/2026). 

Sementara itu, para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan Penyuluh Swadaya menggelar pertemuan di Balai Penyuluh Pertanian Kecamatan Bakarangan.  

Mereka membuat laporan kondisi pertanian pascabanjir, membahas rencana tanam dan melakukan upaya membantu petani. 

PPL Desa Masta, Hanil, menjelaskan luas lahan persawahan yang terdampak mencapai sekitar 300 hektar. 

Akibat kondisi lahan yang belum memungkinkan, musim tanam diperkirakan baru akan dimulai pada Juni hingga Agustus 2026. 

“Di Desa Masta luas persawahannya sekitar 300 hektar dan sampai sekarang masih terendam,” ungkap Hanil.

Selain itu, sebagian petani yang sudah lebih dulu menanam benih padi lokal pada musim tanam Oktober hingga Maret turut mengalami kerugian. 

Tanaman padi mereka terendam air cukup lama dan diserang hama keong.

“Tanaman benihnya terendam dan dimakan keong. Kalau lahan pertanian terendam selama 10 hari, akar tanaman padi bisa membusuk,” jelasnya.

Kondisi tersebut memaksa petani menunda musim tanam berikutnya sambil menunggu air benar-benar surut dan lahan kembali bisa diolah.

Para petani berharap adanya perhatian dan langkah penanganan dari pemerintah daerah untuk meminimalkan dampak banjir terhadap sektor pertanian.
 (Banjarmasinpost/ Mukhtar Wahid) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.