PROHABA.CO - Pihak berwajib Singapura menangkap seorang remaja laki-laki asal negara tersebut yang diduga terpapar ISIS, Rabu (28/1/2026).
Penangkapan remaja yang baru berumur 14 tahun tersebut dilakukan setelah membagikan unggahan terkait keinginannya melakukan kekerasan bersenjata di luar negeri dan mati syahid di bawah panji ISIS
Di unggahan miliknya tersebut, pelaku juga mengaku akan menyiapkan aksi terorisme di Bali demi meraih keinginannya untuk gugur sebagai martir bagi ISIS.
Akibat unggahannya tersebut, sang remaja dijatuhi Perintah Pembatasan aktivitas di bawah Undang-Undang Keamanan Internal Singapura (ISA).
Melalui perintah pembatasan yang dikeluarkan pada November 2025 tersebut, sang pelaku kini dilarang bepergian ke luar Singapura atau mengakses media sosial tanpa persetujuan pihak berwajib.
Departemen Keamanan Internal Singapura (ISD) menekankan bahwa keluarga dan teman sekolah remaja tersebut sebenarnya mengetahui pandangan ekstremisnya, namun tidak ada yang melapor kepada otoritas.
Dikutip dari Straits times, pelajar kelas 3 SMP ini menjadi remaja berusia 14 tahun ketiga yang ditindak Singapura melalui UU ISA dalam dua tahun terakhir karena aktivitas terkait terorisme.
Baca juga: Setelah Klaim Bertanggung Jawab, ISIS Kini Rilis Video Penembakan Konser Moskwa di Akun Medsos
Baca juga: Penjara Rusak Akibat Gempa Disuriah, Napi ISIS Kabur
Sejak tahun 2020, ISD telah menangani sembilan warga Singapura yang terpapar radikalisme ISIS, di mana delapan di antaranya adalah pemuda berusia 20 tahun ke bawah.
ISD mengimbau masyarakat untuk segera mencari bantuan dari pihak berwenang jika mencurigai orang terdekat mereka terpapar radikalisme.
ISD menyatakan pada Rabu ini bahwa proses radikalisasi remaja tersebut bermula pada awal 2023, saat ia masih berusia 12 tahun, melalui ideologi ekstremis kelompok militan ISIS secara daring.
Ia awalnya menonton video pejuang ISIS yang bertempur melawan tentara Amerika di Al-Fallujah, Irak.
Ia memandang kelompok teroris tersebut sebagai pembela warga sipil melawan penindas dari Amerika dan Irak.
Seiring pencariannya, algoritma media sosial terus menyodorkan konten serupa.
Baca juga: Perempuan Amerika Pimpin Batalion ISIS Khusus Wanita, Dikecam Anak-Anaknya
Ia bahkan menghabiskan waktu sekitar sembilan jam setiap hari untuk mengonsumsi konten ekstremis di situs pro-ISIS.
Hanya dalam setahun, remaja tersebut menjadi pendukung setia ISIS, mengikrarkan sumpah setia, dan menganggap dirinya sebagai anggota kelompok tersebut.
Untuk menunjukkan dukungannya, ia membuat video pro-ISIS menggunakan cuplikan permainan gim daring seperti Roblox dan Gorebox.
Konten ISIS yang ia buat tersebut mencakup:
* Rekonstruksi eksekusi mati ala ISIS.
* Permainan peran (role-play) sebagai pejuang ISIS yang membunuh "orang kafir".
* Simulasi serangan terhadap pangkalan militer menggunakan bom mobil, serangan penembak jitu (sniper), dan simulasi bom bunuh diri.
Rencana lakukan serangan di Bali
Orang-orang mengunjungi situs peringatan bagi para korban untuk menandai peringatan 20 tahun bom Bali yang menewaskan lebih dari 200 orang, di Kuta di pulau resor Indonesia
Selain ISIS, pelaku ternyata juga mendukung organisasi teroris lainnya seperti Al-Qaeda.
Pihak berwajib juga mengaku bahwa pelaku ternyata juga mengidolakan seperti Osama bin Laden dan pelaku Bom Bali 2002 yakni Imam Samudra, Amrozi, dan Ali Gufron.
Baca juga: Pemimpin ISIS Ledakkan Diri Saat Dikepung Milisi Suriah
Menyadari usianya masih terlalu muda untuk angkat senjata, sebagai persiapan ia berlatih simulasi pertempuran jarak dekat di rumah selama berjam-jam setiap hari menggunakan senapan mainan AK-47.
Ia juga aktif mengunggah setidaknya satu video pro-ISIS setiap hari di media sosial untuk menggalang dukungan.
Pelaku juga berencana untuk pergi menimba ilmu militer ke Suriah, Afganistan, Afrika, atau Irak sekitar 10 tahun ke depan.
Setelah menimba ilmu di negara-negara tersebut, pelaku mengaku akan melakukan serangan terorisme di Bali.
Pada Februari 2024, ia sempat menyusun draf rencana serangan terhadap sebuah klub malam di Bali menggunakan peta yang ia unduh.
Namun demikian, ISD mencatat ide serangan tersebut belum berkembang menjadi persiapan serangan yang konkret.(*)