SURYA.co.id - Kisah sukses tidak selalu berangkat dari bangku kuliah atau modal yang melimpah.
Di sudut Kota Surabaya, tepatnya di Jalan Ploso Timur, Kecamatan Tambaksari, seorang pemuda bernama Handoko (29) membuktikan bahwa ketekunan dan kerja keras mampu mengubah nasib.
Handoko awalnya bekerja sebagai seorang tukang sampah.
Setelah menyelesaikan pendidikan SMP, Handoko harus merelakan pendidikannya demi membantu ekonomi keluarga.
Baca juga: Usai Pengakuan Kakek Suderajat Ditendang dan Dipukul Viral, Aparat Minta Diselesaikan Kekeluargaan
“Dulu, aku sekolah cuman sampai SMP, sempat SMA tapi baru kelas 1 sudah keluar, ya sekitar 2013. Terus bantu ibu jadi tukang sampah di perumahan-perumahan di dekat rumah,” kenangnya mengingat masa-masa sulit tersebut.
Kondisi ekonomi keluarga memang menuntutnya untuk tangguh sejak dini.
“Ibu dulu kan kerjanya tukang sampah, bapak tukang becak jadi saya harus bekerja buat kebutuhan keluarga,” tambahnya.
Sebelum terjun ke dunia pendingin ruangan, ia bahkan sempat merantau ke Malang untuk berjualan bakso.
Titik balik Handoko dimulai ketika ia memutuskan pulang ke Surabaya dan bekerja pada sebuah penyedia jasa servis AC.
Di sinilah ia menimba ilmu dan pengalaman selama bertahun-tahun.
“Kerja ikut orang di AC itu lumayan lama, beberapa kali pindah,” jelasnya.
Pengalaman ikut orang inilah yang membentuk kemampuannya secara teknis maupun cara menghadapi pelanggan.
Pada tahun 2018, dengan modal keberanian dan pengalaman, Handoko bersama dua rekannya memutuskan untuk mandiri. Ia mendirikan Rizky Teknik.
Namun, memulai bisnis sendiri ternyata tidak semudah yang dibayangkan.
“Awalnya langsung niat serius, cuman sama dua orang saja, saya yang teknisi ada satu membantu, satu lagi cari pelanggan. Ya pastinya kaget pas enggak ada order masuk,” ungkap Handoko mengenai tantangan di awal merintis.
Perlahan tapi pasti, usahanya berkembang pesat hingga sempat mempekerjakan 10 pegawai sebelum pandemi menghantam.
Sama seperti banyak pelaku UMKM lainnya, bisnis Handoko sempat terpuruk akibat pandemi. Pembatasan aktivitas membuat pesanan dari perkantoran dan kampus berhenti total.
“Covid-19 itu parah, sebelumnya yang dapat orderan ratusan AC di kampus, kantor itu hilang semua. Ya gimana, kegiatan enggak ada, orang juga takut rumahnya didatangi,” keluhnya.
Meski harus merumahkan pegawainya kala itu, Handoko menolak untuk menyerah.
Kini, di awal tahun 2026, Rizky Teknik kembali bangkit.
Setiap pagi, Handoko rutin mengarahkan delapan pekerjanya yang berseragam hitam biru sebelum berangkat ke berbagai lokasi seperti Wiyung, Wonokromo, hingga Sidoarjo.
“Hari ini ada yang kerjakan rumah di daerah Jalan Wiyung, terus Jalan Wonokromo. Kalau sudah nanti langsung ke proyek yang di Sidoarjo,” ucap Handoko memberikan instruksi kepada timnya.
Bagi Handoko, keberhasilannya saat ini bukan sekadar tentang keuntungan pribadi, melainkan tentang rasa syukur bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.
“Aku sebelumnya enggak membayangkan bisa punya pegawai, bukan, lebih tepatnya teman yang ikut kerja. Bersyukur, senang, bisa bantu teman-teman yang butuh kerjaan,” tuturnya sambil menatap langit.
Meskipun belum sebesar dulu, Handoko tetap optimis dan memiliki rencana besar untuk menyewa kantor baru demi mengembangkan jasanya.
“Sekarang bersyukur, meski enggak sebanyak dulu tapi masih bisa bertahan, bisa buat teman-teman cari makan. Rencananya sekarang mau sewa kantor lagi,” pungkasnya dengan nada optimis.