KISAH Insipiratif PNM: Belajar Tak Harus di Atas Meja Tapi Mimpi Tetap Setinggi Langit
January 29, 2026 12:47 PM

TRIBUN-SULBAR.COM – Berawal ruang belajar sederhana, nilai semangat, kesederhanaan dan kebermanfaatan terus ditanamkan kepada anak-anak. 

Nilai-nilai inilah yang juga sejalan dengan semangat pemberdayaan yang dihadirkan PNM, bahwa perubahan besar kerap tumbuh dari ketulusan langkah-langkah kecil yang konsisten dijaga.

Salah satu certia dari lapangan yang menarik datang dari Serang, Banten. Hikayati, seorang perempuan inspiratif binaan PNM Mekaar yang juga berperan sebagai guru MDTA (Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah).

Baca juga: Ramalan Shio Babi 29 Januari 2026: Hindari Makanan Berlemak dan Luangkan Waktu untuk Pasangan

Baca juga: Dicecar DPR Soal Kasus Suami Bela Istri Lawan Jambret, Kapolres Sleman Terbata-bata Jawab KUHP

Setiap hari mengajar dengan penuh keikhlasan. 

Di ruang belajar yang masih sangat sederhana, hanya beralaskan lantai, ia tetap menyalakan semangat belajar bagi murid-muridnya. 

Baginya, kebahagiaan bukan diukur dari materi, melainkan saat melihat anak-anak didiknya mampu membaca, menulis, dan menghafal doa-doa. 

“Kami memang belajar di lantai, tapi saya selalu bilang ke anak-anak, mimpi kita harus setinggi langit,” tutur Hikayati.

Tambah Penghasilan

Di balik perannya sebagai pendidik, Hikayati juga mengembangkan usaha kecil untuk menambah penghasilan keluarga. 

Dukungan tersebut membuatnya dapat tetap mengajar dengan tenang tanpa harus meninggalkan panggilan hatinya sebagai guru. 

Pendekatan pemberdayaan yang tidak hanya menghadirkan modal, tetapi juga pendampingan berkelanjutan, menjadi kekuatan yang membantunya menjaga keseimbangan antara pengabdian dan kemandirian ekonomi.

Hikayat dan anak didik foto bersama
Foto bersama - Hikayati, seorang perempuan inspiratif binaan PNM Mekaar yang juga berperan sebagai guru MDTA (Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah) foto bersama anak didik

Sekretaris Perusahaan PNM, Lalu Dodot Patria Ary, mengatakan kisah Hikayati menunjukkan bahwa saat seorang perempuan diberi akses untuk berdaya, tetap bisa mengabdi sambil menguatkan keluarganya. 

"Kami percaya, ketika seorang ibu tumbuh, dampaknya terasa sampai ke anak-anak yang ia didik dan masa depan yang sedang mereka siapkan," ujar Dodot.

Kisah ini menegaskan bahwa peran guru dan ketangguhan ibu adalah dua kekuatan yang saling menguatkan dalam membangun masa depan. 

Guru menanamkan nilai dan harapan, sementara ibu tangguh membuktikan bahwa pengabdian dan kemandirian bisa berjalan beriringan, menjadi cahaya yang pelan tapi pasti menerangi lingkungan sekitarnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.