GERD Vs Serangan Jantung, Fakta Medis di Balik Kematian Lula Lahfah yang Ramai Dispekulasikan
January 29, 2026 01:32 PM

 

SURYA.co.id – Kabar meninggalnya selebgram Lula Lahfah pada usia 26 tahun kembali memantik perbincangan publik soal kesehatan, khususnya dugaan hubungan antara Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) dan serangan jantung.

Diskusi ini mengemuka setelah beredar informasi bahwa almarhumah sempat mengalami gangguan kesehatan sebelum ditemukan meninggal dunia di apartemennya di kawasan Jakarta Selatan.

Spekulasi pun berkembang luas di media sosial.

Sebagian warganet menduga GERD yang pernah diungkap Lula Lahfah berpotensi memicu henti jantung, sementara lainnya menilai keduanya merupakan kondisi medis yang sepenuhnya berbeda.

Perdebatan ini sekaligus membuka kembali persoalan klasik, masih kaburnya pemahaman masyarakat tentang perbedaan penyakit lambung dan gangguan jantung, terutama karena gejalanya sering kali mirip.

Muncul Anggapan GERD Bisa Berujung Henti Jantung

Gelombang komentar warganet menunjukkan adanya dua pandangan besar.

Di satu sisi, GERD dianggap berbahaya dan bisa berujung fatal. 

Di sisi lain, sebagian netizen menilai anggapan tersebut berlebihan dan tidak berdasar medis.

Kondisi ini memperlihatkan betapa mudahnya kesimpulan ditarik hanya dari kemiripan gejala, tanpa pemahaman klinis yang memadai.

Nyeri dada, sesak napas, dan rasa tidak nyaman di area dada sering langsung dikaitkan dengan jantung, meski faktanya keluhan serupa juga bisa berasal dari saluran cerna.

Tidak Ada Hubungan Langsung GERD dan Serangan Jantung

Dokter spesialis penyakit dalam, dr Rizki Adrian Hakim, Sp PD, menegaskan bahwa hingga kini dunia medis belum menemukan hubungan sebab-akibat langsung antara GERD dan serangan jantung.

“Saat ini belum ditemukan hubungan langsung antara serangan jantung dengan GERD," ujar dokter yang bertugas di RS Kemenkes Surabaya itu, Rabu (28/1/2026) pagi, dikutip SURYA.co.id dari Kompas.com.

Ia menjelaskan, salah satu penyebab kesalahpahaman adalah kemiripan gejala kedua kondisi tersebut.

"Salah satu gejala utama GERD, yaitu rasa terbakar di dada hingga kerongkongan, memiliki kemiripan dengan gejala serangan jantung, yaitu rasa nyeri dan/atau tidak nyaman di dada.”

Menurut dr Rizki, kemiripan inilah yang kerap memicu kekhawatiran berlebihan di masyarakat.

“GERD juga dapat menimbulkan gejala sulit bernapas sehingga penderita sering mengaitkan keduanya,” katanya.

Dalam praktik klinis, penderita GERD bisa merasakan sensasi panas, tekanan di dada, hingga sesak napas, gejala yang sekilas menyerupai serangan jantung.

Sebaliknya, gangguan jantung tertentu juga bisa menimbulkan nyeri ulu hati yang kerap disalahartikan sebagai sakit lambung.

Riset Belum Membuktikan GERD Menyebabkan Serangan Jantung

Meski tidak ada hubungan langsung, dr Rizki mengakui adanya sejumlah penelitian yang menemukan peningkatan risiko serangan jantung pada penderita GERD.

Namun, ia menekankan bahwa temuan tersebut tidak otomatis membuktikan kausalitas.

“Ada sejumlah penelitian yang menemukan bahwa penderita GERD memiliki risiko lebih tinggi mengalami serangan jantung daripada individu tanpa GERD, namun adanya hubungan belum tentu menandakan kausalitas,” imbuhnya.

Ia menegaskan, dalam ilmu kedokteran, hubungan statistik tidak selalu berarti satu penyakit menyebabkan penyakit lain.

Faktor gaya hidup seperti obesitas, pola makan tidak sehat, kebiasaan merokok, dan kurang aktivitas fisik bisa menjadi faktor bersama yang meningkatkan risiko GERD maupun penyakit jantung.

“Masih diperlukan penelitian2 lebih lanjut untuk semakin me menguatkan, atau membantah hubungan ini. Sehingga hingga saat ini posisi dunia kedokteran adalah memisahkan antara keduanya (GERD dengan serangan jantung),” katanya lagi.

Cara Kerja GERD dan Faktor Pemicu yang Perlu Diwaspadai

Secara medis, GERD terjadi akibat gangguan mekanisme antara kerongkongan dan lambung.

Saat makan, makanan melewati esofagus menuju lambung, dengan bantuan katup bernama Lower Esophageal Sphincter (LES).

"LES berperan mencegah makanan dan asam lambung yang sudah berada di lambung agar tidak kembali naik ke kerongkongan."

"Fungsi ini dibantu oleh diafragma, otot pemisah antara rongga dada dan perut," ujar dokter yang juga bertugas di RS Sheila Medika Sidoarjo itu.

Namun, jika fungsi LES melemah, asam lambung dapat naik kembali ke kerongkongan dan memicu gejala GERD.

Karena itu, keluhan GERD umumnya muncul setelah makan dan cenderung membaik saat perut kosong.

"Penyebab pasti mengapa seseorang mengalami GERD sementara yang lain tidak, masih belum sepenuhnya diketahui," imbuhnya.

Meski demikian, sejumlah faktor risiko telah dikenali.

"Namun, beberapa faktor risiko telah diidentifikasi, antara lain obesitas, hernia hiatal (kondisi ketika sebagian lambung masuk ke rongga dada melalui diafragma), kehamilan yang biasanya membaik setelah melahirkan serta konsumsi makanan dan minuman tertentu," ujarnya lagi.

Ia menambahkan, beberapa jenis makanan dan kebiasaan dapat memperparah GERD.

"Makanan pedas, makanan berlemak termasuk gorengan, cokelat, peppermint seperti permen pedas, rokok, kafein, serta alkohol diketahui dapat memperburuk gejala GERD," dr Rizki.

Nyeri Dada Jangan Disepelekan, Pemeriksaan Medis Jadi Kunci

Menutup penjelasannya, dr Rizki menekankan pentingnya edukasi publik agar masyarakat tidak salah menarik kesimpulan saat mengalami nyeri dada.

Setiap keluhan di area dada, menurutnya, harus dievaluasi secara medis untuk memastikan sumber masalahnya.

"Pemeriksaan yang tepat akan membantu menentukan apakah keluhan berasal dari saluran cerna atau sistem kardiovaskular, sehingga penanganan dapat diberikan secara cepat, tepat, dan sesuai kondisi pasien," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.