BERTAMBAH Kapal Perang AS Merapat di Timur Tengah, Presiden Iran Telepon Pangeran Arab Saudi
January 29, 2026 01:54 PM

 

TRIBUN-MEDAN.com - Hubungan Amerika Serikat dan Iran makin memanas dan kini di ambang perang.

AS terus menambah kelompok tempur kapal induk di Timur Tengah. Total jumlah kapal perang AS di kawasan itu menjadi 10, termasuk kelompok kapal induk USS Abraham Lincoln, yang memiliki tiga kapal perusak dan pesawat tempur siluman F-35C. 

Dikutip dari AFP, Rabu (28/1/2026), jumlah kapal di Timur Tengah sekarang hampir sama dengan jumlah kapal yang dikirim ke Karibia menjelang operasi mengejutkan AS untuk menangkap pemimpin Venezuela Nicolas Maduro.

"Seperti halnya dengan Venezuela, armada ini siap, bersedia, dan mampu untuk segera memenuhi misinya, dengan kecepatan dan kekerasan, jika perlu," tulis Trump di platform Truth Social.

"Waktu hampir habis," tambahnya, seraya mendesak Teheran untuk membuat kesepakatan.

Telepon Pangeran Arab Saudi

Setelah kapal induk AS merapat ke Timur Tengah, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menghubungi Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), melalui sambungan telepon pada Selasa (27/1/2026) waktu setempat.

Dalam percakapan tersebut, Pezeshkian secara terbuka mengecam tekanan dan ancaman yang dilontarkan Washington. 

Menurutnya, tindakan AS justru menjadi faktor utama yang merusak stabilitas keamanan regional. 

Berdasarkan pernyataan resmi dari kantor Presiden Iran, Pezeshkian menilai bahwa ancaman itu ditujukan untuk mengganggu keamanan kawasan dan tidak akan menghasilkan apa pun selain ketidakstabilan.

Ia juga menyinggung ketahanan rakyat Iran dalam menghadapi berbagai tekanan eksternal, termasuk sanksi ekonomi. 

“Presiden menunjuk pada tekanan dan permusuhan baru-baru ini terhadap Iran, termasuk tekanan ekonomi dan campur tangan eksternal, dengan menyatakan bahwa tindakan semacam itu gagal melemahkan ketahanan dan kesadaran rakyat Iran,” tulis pernyataan tersebut. 

Respons Arab Saudi 

Menanggapi hal itu, Pangeran MBS menyambut positif inisiatif dialog dari Teheran. 

Riyadh menegaskan posisi mereka untuk tetap menjaga ketenangan di kawasan. 

MBS disebut menyambut dialog tersebut dan menegaskan kembali komitmen Arab Saudi terhadap stabilitas, keamanan, dan pembangunan kawasan, menurut sumber yang sama. 

Lebih lanjut, pemimpin de facto Arab Saudi tersebut menekankan pentingnya solidaritas negara-negara muslim. 

Ia menyatakan bahwa Riyadh menolak segala bentuk agresi terhadap Iran dan siap membangun perdamaian serta keamanan di seluruh kawasan. 

Ketegangan terbaru ini dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang berulang kali mengancam akan menyerang Iran. 

Ancaman ini muncul sebagai respons atas tindakan keras Teheran terhadap demonstran antipemerintah.

Pekan lalu, Trump mengirimkan armada tempur, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln, ke kawasan tersebut. 

Trump menyebutnya sebagai sebuah “armada” yang ia harapkan tidak perlu digunakan, meski kehadirannya memperkuat sinyal konfrontasi militer. 

Di sisi lain, militer Iran mulai mengeluarkan peringatan bagi negara-negara tetangga agar tidak terlibat dalam konflik jika perang pecah. 

Mohammad Akbarzadeh, Deputi Politik Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), menegaskan posisi Iran terhadap negara sekitar. 

Jejak Konflik

Situasi saat ini dibayangi oleh rentetan konflik militer sebelumnya. 

Pada Juni lalu, Israel melancarkan serangan udara masif ke Iran yang menyasar pejabat militer senior, ilmuwan, serta fasilitas nuklir. 

Konfrontasi tersebut meluas menjadi perang selama 12 hari yang melibatkan AS, di mana Washington membombardir tiga lokasi nuklir Iran. 

Meski Trump menuntut Iran menghentikan total pengayaan uraniumnya, hingga kini belum ada tanda-tanda perundingan nuklir akan dimulai kembali. 

Seorang pejabat AS pada Senin mengeklaim bahwa Washington masih terbuka untuk negosiasi, asalkan Iran memenuhi syarat tertentu.

"Mereka menyadari syarat-syaratnya,” ujar pejabat tersebut. 

Namun, Ali Vaez, Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, meragukan Iran akan tunduk. 

Kepada Al Jazeera, ia menyebut peluang Iran menyerah pada tuntutan AS mendekati nol. 

Sebab, para pemimpin Iran percaya bahwa kompromi di bawah tekanan tidak meredakannya, tetapi justru mengundang lebih banyak tekanan. 

Menutup rangkaian peringatan tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengingatkan, dampak konflik tidak akan terlokalisasi di satu negara saja. 

“Negara-negara kawasan sepenuhnya tahu bahwa setiap pelanggaran keamanan di kawasan tidak hanya akan memengaruhi Iran. Ketidakamanan itu menular,” kata Baghaei. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.