Hati-Hati! Kaki Kebas Bisa Berujung Amputasi, Kenali Bahaya Ulkus Diabetik Sebelum Jaringan Mati
January 29, 2026 03:17 PM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Luka atau ulkus kaki diabetik (diabetic foot ulcer/DFU) adalah salah satu komplikasi paling umum dan serius dari penyakit diabetes melitus.

Ulkus ini merupakan luka terbuka atau borok yang muncul di kaki, biasanya di telapak atau sekitar jari, pada penderita diabetes jangka panjang.

Ulkus kaki diabetik terjadi akibat kombinasi dari aliran darah yang buruk (iskemia), kerusakan saraf (neuropati), dan infeksi.

Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat menyebabkan infeksi berat, kematian jaringan, bahkan amputasi.

Penanganan ulkus kaki diabetik membutuhkan perhatian medis yang cermat dan kerjasama antara dokter, perawat, dan pasien.

Ada beberapa alasan mengapa penderita diabetes rentan mengalami ulkus kaki.

Faktor pertama adalah neuropati, yaitu kerusakan saraf akibat kadar gula darah tinggi dalam jangka waktu yang lama.

Neuropati menyebabkan kaki kehilangan sensasi normal/ kebas, sehingga penderita tidak merasakan nyeri akibat luka kecil, lecet, atau tekanan. Karena tidak disadari, luka kecil ini dapat meluas dan menjadi lebih parah.

Faktor kedua adalah kondisi sirkulasi darah yang buruk, dikenal sebagai penyakit arteri perifer (Peripheral Arterial Disease/PAD). Diabetes merusak pembuluh darah, sehingga aliran oksigen dan nutrisi ke jaringan menurun.

Akibatnya, luka kecil menjadi sulit sembuh. Sirkulasi yang buruk juga membuat tubuh lebih lemah dalam melawan infeksi.

Faktor ketiga adalah kelainan bentuk kaki dan titik tekanan.

Kondisi seperti hammertoe, bunion, atau kaki Charcot dapat menyebabkan tekanan tidak merata di beberapa bagian kaki.

Jika dikombinasikan dengan neuropati, tekanan berlebih ini mudah menimbulkan luka.

Faktor risiko lainnya termasuk sepatu yang tidak pas, kebersihan kaki yang buruk, merokok, dan lamanya menderita diabetes.

Ulkus kaki diabetik biasanya tampak sebagai luka terbuka dengan tepi menebal dan dikelilingi oleh kulit yang menebal (kapalan).

Terungkap bahaya fatal ulkus kaki diabetik yang sering tak terasa akibat kerusakan saraf, bisa berujung pada kematian jaringan hingga amputasi.
Terungkap bahaya fatal ulkus kaki diabetik yang sering tak terasa akibat kerusakan saraf, bisa berujung pada kematian jaringan hingga amputasi. (istimewa)

Luka bisa berupa luka dangkal yang bersih hingga infeksi dalam yang mencapai tulang. Karena banyak penderita mengalami neuropati, mereka sering tidak merasakan nyeri meskipun kondisi luka yang parah.

Tanda-tanda infeksi seperti kemerahan, bengkak, bau tidak sedap, atau keluarnya nanah dapat muncul kemudian. Pada kasus lanjut, kulit dan jaringan di bawahnya dapat mati, menyebabkan gangren.

Dokter menggunakan beberapa sistem untuk mengklasifikasikan ulkus kaki diabetik. Salah satu sistem yang digunakan berdasarkan pada kedalaman luka dan adanya infeksi atau iskemia (klasifikasi WIFi).

Tahap awal hanya melibatkan kulit, sedangkan tahap berat bisa mencapai tendon atau tulang. Menentukan tingkat keparahan luka penting untuk memilih terapi yang tepat.

Ketika pasien diabetes datang dengan luka di kaki, dokter akan melakukan pemeriksaan menyeluruh.

Pemeriksaan meliputi penilaian aliran darah, dengan memeriksa denyut nadi di kaki serta beberapa tes seperti ankle-brachial index (ABI) atau USG Doppler.

Dokter juga memeriksa apakah terdapat kehilangan sensasi dengan menggunakan monofilament atau garpu tala untuk menilai neuropati.

Jika dicurigai ada infeksi, dilakukan pengambilan sampel luka atau jaringan untuk kultur dan uji kepekaan antibiotik.

Dalam beberapa kasus, foto rontgen atau MRI digunakan untuk mendeteksi infeksi tulang (osteomielitis) atau abses tersembunyi.

Kadar gula darah pasien juga diperiksa karena kontrol glukosa yang buruk akan memperlambat penyembuhan luka.

Penanganan ulkus kaki diabetik harus mengatasi penyebab utamanya, bukan hanya lukanya saja.

Tujuan utama terapi adalah mempercepat penyembuhan, mencegah infeksi, dan mengurangi tekanan pada area yang luka.

Perawatan luka: Luka harus dibersihkan secara teratur dan jaringan mati diangkat melalui proses debridement. Jenis balutan dipilih sesuai kondisi luka — misalnya balutan lembap seperti hydrogel, foam, atau alginat untuk menciptakan lingkungan yang mendukung penyembuhan.

Mengurangi tekanan (Offloading): Mengurangi tekanan pada luka sangat penting. Ini dapat dilakukan dengan alas kaki khusus, total contact cast, atau alat ortotik yang membantu mendistribusikan berat tubuh agar tidak menekan luka.

Pengendalian infeksi: Antibiotik diberikan bila terdapat infeksi. Infeksiringan dapat diobati dengan antibiotik oral, sedangkan infeksi berat memerlukan rawat inap di rumah sakit dan antibiotik intravena.

Peran bedah vaskular adalah dalam memperbaiki sirkulasi darah. Pada pasien dengan aliran darah yang buruk, mungkin dibutuhkan tindakan revaskularisasi.

Prosedur ini bisa berupa angioplasti, pemasangan stent, atau bedah bypass untuk memulihkan aliran darah dan membantu penyembuhan.

Pengendalian gula darah: Menjaga kadar gula darah dalam batas normal sangat penting bagi penyembuhan luka. Pasien disarankan mengikuti pola makan diabetes, meminum obat sesuai anjuran, dan rutin memeriksa kadar gula darah.

Pendekatan multidisiplin: Penanganan ulkus kaki diabetik biasanya melibatkan pendekatan tim yang terdiri dari ahli bedah vaskular, dokter penyakit dalam, podiatris, perawat, dan profesional perawatan luka. Edukasi kepada pasien dan keluarga juga merupakan bagian penting dari perawatan.

Pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Penderita diabetes harus memeriksa kaki setiap hari untuk mendeteksi luka, lecet, atau perubahan warna.

Kaki harus dibersihkan secara teratur, dikeringkan dengan baik, dan menggunakan sepatu yang nyaman. Kunjungan rutin ke tenaga kesehatan dapat membantu menemukan masalah sejak dini.

Berhenti merokok, menjaga kadar gula darah, dan mengontrol tekanan darah juga mengurangi risiko terjadinya ulkus.

Ulkus kaki diabetik merupakan komplikasi serius yang sering terjadi pada penderita diabetes dan dapat menurunkan kualitas hidup secara signifikan.

Namun, dengan perawatan yang tepat, edukasi yang baik, dan deteksi dini, sebagian besar kasus dapat dicegah atau disembuhkan sebelum berujung pada amputasi.

Buku Rutherford’s Vascular Surgery and Endovascular Therapy menekankan bahwa keberhasilan pengobatan bergantung pada penanganan seluruh faktor penyebab — neuropati, gangguan sirkulasi, dan infeksi — melalui perawatan yang terkoordinasi oleh tim multidisiplin.

Memberdayakan pasien agar aktif menjaga kesehatan kakinya tetap menjadi kunci utama dalam mencegah kondisi yang berpotensi menyebabkan kecacatan ini.

-dr. Budhi Arifin Noor, Sp.B, Subsp.BVE(K)/Spesialis Bedah Vaskular dan Endovaskular (Konsultan), Ahli Bedah Kaki Diabetes-

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.