TRIBUNKALTIM.CO - Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-129 Kota Balikpapan, Pemerintah Kota melalui Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) menggelar kegiatan sosial yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, khususnya para pecinta hewan.
Program bertajuk “Bhakti Sosial Sterilisasi Kucing dan Vaksinasi Rabies Gratis” ini menjadi bentuk kepedulian pemerintah terhadap kesehatan hewan sekaligus upaya menjaga lingkungan kota tetap aman dan sehat.
Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada Februari 2026 di Klinik Hewan DKP3 Kota Balikpapan, dengan sasaran utama warga yang memiliki KTP Balikpapan.
Selain sebagai rangkaian perayaan ulang tahun kota, program ini juga menjadi langkah strategis dalam mengendalikan populasi kucing serta mencegah penyebaran penyakit rabies yang berbahaya bagi manusia dan hewan.
Baca juga: Kapan Hari Jadi Kota Balikpapan? Ini Sejarah, Logo, dan Tema HUT ke-129 Balikpapan
Antusiasme warga diperkirakan akan tinggi, mengingat seluruh layanan diberikan tanpa biaya, dengan kuota yang terbatas.
Karena itu, DKP3 menerapkan sistem pendaftaran daring melalui tautan resmi.
Sterilisasi kucing adalah tindakan medis untuk menghentikan kemampuan reproduksi kucing melalui operasi.
Tujuan utamanya adalah mengontrol pertumbuhan populasi kucing agar tidak berlebihan.
Populasi yang tidak terkendali sering kali memicu masalah lingkungan, seperti penyebaran penyakit, konflik dengan manusia, hingga meningkatnya jumlah kucing terlantar.
Sementara itu, rabies merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dan menyerang sistem saraf pusat.
Penyakit ini bisa menular dari hewan ke manusia melalui gigitan atau cakaran. Rabies bersifat fatal apabila tidak ditangani segera, sehingga vaksinasi menjadi langkah pencegahan paling efektif.
Melalui program ini, DKP3 ingin mengedukasi masyarakat bahwa menjaga kesehatan hewan berarti juga menjaga keselamatan manusia.
Kegiatan ini dibagi menjadi dua jenis layanan dengan jadwal berbeda:
Sterilisasi Kucing Gratis
Dilaksanakan pada:
9 Februari 2026
10 Februari 2026
11 Februari 2026
Lokasi: Klinik Hewan DKP3 Kota Balikpapan
Vaksinasi Rabies Gratis
Dilaksanakan pada:
Kamis, 12 Februari 2026
Waktu: 08.00 – 12.00 WITA
Lokasi: Klinik Hewan DKP3 Kota Balikpapan
DKP3 menegaskan bahwa seluruh peserta wajib mendaftar secara online. Tidak ada pendaftaran secara langsung di lokasi.
Link pendaftaran resmi:
https://taplink.cc/baksos_hut_bpn
Jadwal pembukaan pendaftaran:
Dibuka: 2 Februari 2026 pukul 09.09 WITA
Ditutup: 4 Februari 2026 pukul 15.03 WITA
Namun, link bisa tertutup otomatis jika kuota sudah penuh.
Ketentuan Sterilisasi Kucing Gratis
Program sterilisasi memiliki beberapa syarat ketat demi keselamatan hewan:
Ketentuan Vaksinasi Rabies Gratis
Syarat untuk mengikuti vaksinasi rabies:
Hewan yang bisa ikut:
Anjing
Kucing
Monyet/Kera
Musang
Jangan lupa ikutan ya!
Hari Jadi Kota Balikpapan diperingati setiap 10 Februari, yang pada tahun 2026 ini menandai usia 129 tahun sejak pertama kali ditemukan sumber minyak komersial di wilayah tersebut pada tahun 1897.
Sebagai bagian dari peringatan resmi, Pemerintah Kota Balikpapan juga telah merilis logo dan tema HUT ke-129 Balikpapan yang dapat digunakan oleh seluruh instansi, organisasi, hingga masyarakat umum.
Peringatan HUT ke-129 Kota Balikpapan tahun 2026 mengusung tema “Harmoni Menuju Kota Global”, sebuah refleksi atas visi besar Balikpapan sebagai kota modern yang berdaya saing nasional dan internasional, namun tetap menjaga keseimbangan antara pembangunan, lingkungan, serta nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat.
Logo resmi HUT ke-129 Balikpapan beserta pedoman penggunaannya kini dapat diunduh oleh masyarakat, instansi pemerintah, BUMN, BUMD, organisasi, maupun pihak swasta melalui tautan resmi yang telah disediakan oleh Pemerintah Kota Balikpapan.
Baca juga: HUT ke-129 Balikpapan, Ini Daftar Wali Kota dan Fotonya dari Masa ke Masa
Dikutip dari Instagram @pemkot_balikpapan, logo HUT ke-129 Balikpapan dirancang dengan konsep Keselarasan Modern, yang menggambarkan perjalanan kota dari masa ke masa.
Elemen angka “129” divisualisasikan secara dinamis dengan perpaduan warna.
Konsep keselarasan modern mencerminkan Balikpapan sebagai kota yang terus berkembang secara inovatif dan rapi, namun tetap nyaman, inklusif, dan berakar pada jati diri masyarakat.
Logo tersebut juga menjadi simbol harmonisasi antara pembangunan fisik, pelayanan publik, kehidupan sosial, dan pelestarian lingkungan.
Wajah Balikpapan hari ini digambarkan sebagai kota global yang maju dan berdaya saing, namun tidak kehilangan nilai-nilai lokal yang menjadi fondasi kekuatannya.
Tagline
“Harmoni Menuju Kota Global”
Harmoni
Keseimbangan hidup yang nyaman dan damai, di mana pembangunan fisik berjalan selaras dengan pelestarian lingkungan dan nilai-nilai spiritual masyarakat (Madinatul Iman).
Menuju
Menandakan perjalanan bersama. Setiap langkah pembangunan mengikuti rencana yang terarah dalam RPJMD secara bertahap, berkelanjutan, dan melibatkan semua pihak.
Kota Global
Cita-cita Balikpapan menjadi kota yang maju, modern, dan tangguh, yang memiliki standar pelayanan dan inovasi setara dengan kota-kota besar di dunia.
Surat Edaran Wali Kota Balikpapan tentang Pedoman Peringatan HUT ke-129
Sebagai dasar pelaksanaan peringatan HUT ke-129, Wali Kota Balikpapan menerbitkan Surat Edaran Nomor 100.2.1/19/E/SETDA tentang Pedoman Peringatan Hari Jadi ke-129 Kota Balikpapan Tahun 2026.
Surat edaran ini ditetapkan di Balikpapan pada 6 Januari 2026 dan ditujukan kepada pimpinan instansi pemerintah, BUMN, BUMD, organisasi, swasta, serta seluruh masyarakat Kota Balikpapan.
Dalam surat edaran tersebut ditegaskan bahwa logo dan tema HUT ke-129 Balikpapan dapat diunduh melalui situs web resmi Pemerintah Kota Balikpapan dan agar diperbanyak serta disosialisasikan secara luas kepada masyarakat sebagai identitas visual peringatan hari jadi kota.
Penyelenggaraan kegiatan peringatan HUT ke-129 Balikpapan diminta berlandaskan pada logo dan tema yang telah ditetapkan.
Seluruh rangkaian kegiatan diharapkan dapat dilaksanakan secara sederhana namun tetap meriah, dengan pembiayaan yang efisien serta menyesuaikan situasi dan kondisi setempat.
Imbauan Pengibaran Bendera dan Publikasi Peringatan
Melalui surat edaran tersebut, Wali Kota Balikpapan juga mengimbau seluruh instansi pemerintah, BUMN, BUMD, organisasi, swasta, dan masyarakat untuk mengibarkan Bendera Merah Putih selama tiga hari berturut-turut, yakni pada 9 hingga 11 Februari 2026, sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan terhadap Kota Balikpapan.
Selain itu, seluruh pihak diharapkan turut mempublikasikan peringatan HUT Kota Balikpapan melalui pemasangan spanduk, baliho, umbul-umbul, lampu hias, dan dekorasi lainnya di kantor maupun lokasi strategis.
Publikasi dan dekorasi peringatan ini dilaksanakan pada rentang waktu 25 Januari hingga 28 Februari 2026.
Kegiatan Masyarakat dan Kerja Bakti Massal
Peringatan HUT ke-129 Balikpapan juga diarahkan sebagai momentum pendidikan dan hiburan bagi masyarakat.
Pemerintah Kota mendorong partisipasi aktif warga dalam berbagai kegiatan, lomba, dan acara hiburan yang digelar, sehingga peringatan hari jadi benar-benar menjadi perayaan dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat.
Kreativitas serta swadaya masyarakat, baik secara moril maupun materil, sangat diharapkan dalam menyemarakkan peringatan HUT.
Kegiatan yang menampilkan hiburan khas daerah dan tradisional juga didorong agar nilai budaya lokal tetap terjaga.
Dalam rangka mendukung terwujudnya Balikpapan Bersih dan Balikpapan Nyaman, camat dan lurah diminta mengoordinir Kerja Bakti Massal secara serentak di seluruh RT se-Kota Balikpapan yang akan dilaksanakan pada Minggu, 8 Februari 2026.
Koordinasi dan Informasi Panitia
Penyelenggara kegiatan, lomba, maupun acara hiburan diimbau untuk berkoordinasi dengan aparat keamanan guna memastikan seluruh rangkaian acara berlangsung tertib, aman, dan lancar. Panitia juga bertanggung jawab menjaga kebersihan lingkungan lokasi kegiatan.
Koordinasi dan pelaporan kegiatan dapat disampaikan kepada Panitia Pelaksana HUT ke-129 Kota Balikpapan melalui Sekretariat Panitia di Bagian Kerja Sama dan Perkotaan Sekretariat Daerah Kota Balikpapan, Jalan Jenderal Sudirman Nomor 1, Kelurahan Klandasan Ulu, Kecamatan Balikpapan Kota.
Link Download Logo HUT ke-129 Balikpapan
Logo dan materi resmi HUT ke-129 Kota Balikpapan Tahun 2026 dapat diunduh melalui tautan berikut:
s.id/hut129bpn
s.id/hut129bpn2
Logo ini dapat digunakan sebagai identitas visual resmi dalam seluruh rangkaian kegiatan peringatan Hari Jadi Kota Balikpapan Tahun 2026.
Pada era kolonial Balikpapan merupakan sebuah desa kecil di pesisir timur Kalimantan.
Namun, pada tahun 1897, seorang ahli geologi Belanda bernama J.H. Menten menemukan deposit minyak di sekitar Sungai Balikpapan.
Penemuan ini membuka awal eksploitasi minyak di daerah tersebut.
Berlanjut dengan eksploitasi minyak, perusahaan-perusahaan minyak asing mulai beroperasi di Balikpapan.
Shell dan Standard Oil Company of California (sekarang Chevron) adalah dua perusahaan pertama yang memulai eksploitasi minyak di Balikpapan.
Hal ini mengubah wajah Balikpapan dari sebuah desa nelayan menjadi pusat industri minyak dan gas.
Berdasarkan informasi dari laman Kemdikbud, Naskah Salasilah Kutai mencatat bahwa Balikpapan merupakan bagian dari Kerajaan Kutai Kartanegara yang berdiri sejak tahun 1300.
Namun, sedikit informasi yang tercatat selama beberapa abad berikutnya.
Data mengenai Balikpapan lebih banyak ditemukan pada masa penjajahan Belanda.
Pada periode tersebut, Belanda berhasil menguasai wilayah Balikpapan yang dikenal sebagai penghasil minyak bagi Kerajaan Kutai Kartanegara.
Melalui perjanjian dengan Kerajaan Kutai Kartanegara, Belanda memperoleh hak untuk melakukan penelitian dan eksplorasi di sektor kehutanan, kelautan, dan pertambangan dalam wilayah tersebut.
Sebagai hasilnya, Mr. Adams dari Firma Samuel & Co. London diangkat sebagai pemegang hak konsesi oleh pemerintah Hindia Belanda.
Eksplorasi dimulai di kaki Gunung Komendur, dan pada 10 Februari 1897, pengeboran pertama menghasilkan minyak komersial pada kedalaman 220 meter.
JH Menten, yang bertanggung jawab atas pengeboran tersebut, menamai sumur tersebut Mathilda, sesuai dengan nama putrinya.
Hari tersebut kini diakui sebagai hari jadi Kota Balikpapan yaitu 7 Februari.
Pertumbuhan Balikpapan terkait erat dengan penemuan dan pengeboran minyak.
Minat ini menarik banyak pendatang dari berbagai wilayah, terutama pekerja pengebor dari Jawa, serta imigran dari China dan India.
Mereka menjadi penduduk awal di desa Tukung (Klandasan) dan Jumpi (Kampung Baru), membentuk akar sebagian besar masyarakat Balikpapan.
Selain itu, keberadaan minyak khususnya minyak tanah atau "lantung" menjadi dorongan bagi pedagang dari Kerajaan Banjar di Banjarmasin dan Bone di Sulawesi Selatan untuk berdagang dan menetap di Balikpapan.
Hingga saat ini, Balikpapan telah tumbuh menjadi Kota Minyak yang menghasilkan sekitar 86 juta barel minyak per tahun.
Beberapa versi cerita menjelaskan asal-usul nama Balikpapan, salah satunya mengaitkannya dengan kata Bilipapan, yang diasosiasikan dengan sebuah komunitas pedesaan di Teluk Balikpapan.
Cerita lain memberikan beberapa versi tambahan tentang asal-usul nama tersebut.
Salah satu versi mencatat peristiwa pada tahun 1739, saat Sultan Muhammad Idris dari Kerajaan Kutai memerintahkan penduduk sepanjang Teluk Balikpapan untuk menyumbangkan bahan bangunan guna pembangunan istana baru di Kutai Lama.
Penduduk menyumbangkan 1.000 lembar papan yang diikat menjadi rakit untuk dibawa ke Kutai Lama.
Namun, 10 keping papan lepas dalam perjalanan dan hanyut ke tempat yang sekarang disebut Jenebora.
Nama Balikpapan kemudian diberikan, bermakna "Baliklah-papan itu" atau papan yang kembali yang tidak ikut disumbangkan dalam Bahasa Kutai.
Versi lain menjelaskan bahwa asal-usul nama Balikpapan berasal dari legenda rakyat Suku Pasir Balik, juga dikenal sebagai Suku Pasir Kuleng.
Orang-orang Suku Pasir Balik yang tinggal di pantai Teluk Balikpapan berasal dari keturunan Kayung Kuleng dan Papan Ayun.
Mereka memberi nama kampung nelayan di Teluk Balikpapan sebagai "Kuleng-papan" yang artinya "Balik-papan."
Dengan begitu, asal-usul nama Balikpapan memiliki variasi cerita yang menarik, tetapi banyak versi mencerminkan keterkaitannya dengan sejarah dan geografis kawasan tersebut.
Referensi:
Koentjaraningrat. (2002). Manusia dan Kebudayaan di Indonesia Cetakan ke-19. Jakarta: Djambatan.
Kompas.com