Dikenal Pendiam dan Sering ke Masjid, Warga Monjok Tak Percaya Rio Bakar Ibu Kandung
January 29, 2026 03:20 PM

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Ahmad Wawan Sugandika

TRIBUNLOMBOK.COM, KOTA MATARAM – Peristiwa pembunuhan yang dilakukan Bara Primario terhadap ibu kandungnya, Yeni Rudi Astuti, warga Monjok Barat Mataram, memicu keprihatinan sosial mendalam.

Tragedi ini mengejutkan banyak pihak lantaran terjadi di lingkungan yang dikenal aktif dan memiliki interaksi sosial yang kuat.

Berdasarkan pantauan TribunLombok.com, lingkungan tempat kejadian perkara (TKP) setiap harinya selalu ramai dengan aktivitas warga, terutama kegiatan olahraga sore yang berlangsung secara rutin.

Terduga pelaku diketahui kerap ikut serta dalam berbagai kegiatan keluarga dan sosial di lingkungan tersebut.

Sementara itu, korban, Yeni Rudi Astuti, dikenal sebagai sosok yang aktif bersosialisasi dan rajin mengikuti berbagai kegiatan kelompok di masyarakat.

Bahkan, sesaat sebelum kejadian, tepatnya pada Sabtu sore, terduga pelaku masih terlihat beraktivitas seperti biasa.

Ia sempat bermain pingpong, kemudian pergi ke masjid. Namun di balik interaksi sosial tersebut, terduga pelaku dikenal sebagai pribadi yang tertutup terkait persoalan internal.

Didik, tetangga pelaku dan korban, mengakui bahwa terduga pelaku yang akrab disapa Rio oleh warga sekitar, tidak pernah mau bercerita atau mencurahkan isi hatinya kepada orang lain.

“Dia (Rio) tidak pernah mau curhat. Saya juga tidak punya hak untuk tahu lebih dalam karena itu ranah privasi. Tapi memang kami berharap para pemuda di sini bisa lebih terbuka dan mau bertukar keluh kesah agar peristiwa seperti kemarin tidak terulang,” ujar Didik, Kamis (29/1/2026).

Meski lingkungan tempat tinggal terduga pelaku dan korban terlihat harmonis selama puluhan tahun, dari penuturan warga diketahui bahwa keluarga Rio memiliki riwayat perselisihan yang jarang diketahui publik.

Rio juga dikabarkan pernah kabur dari rumah, yang diduga dipicu oleh adanya konflik keluarga.

Selain itu, terduga pelaku diketahui merupakan residivis kasus narkotika jenis ganja. Ia pernah ditangkap pada tahun 2019 dalam operasi penyergapan terkait pengiriman barang melalui jasa ekspedisi.

Warga sekitar mengaku sangat terpukul dan tidak menyangka kejadian tersebut akan terjadi. Pasalnya, keluarga itu telah tinggal di lingkungan tersebut sejak tahun 2001. Selama sekitar 25 tahun menetap, warga tidak pernah melihat adanya perilaku mencurigakan.

“Selama ini situasi di rumah tersebut selalu aman-aman saja,” kata seorang warga.

Tokoh masyarakat Monjok Barat yang juga mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Mataram, H. Lalu Makmur Said, turut mengungkapkan rasa kagetnya atas peristiwa tersebut. Ia mengaku telah tinggal di lingkungan itu selama 25 tahun dan mengenal dekat keluarga Rio.

Menurutnya, tidak ada indikasi perilaku menyimpang atau kenakalan berlebihan dari pemuda tersebut.

“Sebagai warga, khususnya saya sebagai takmir masjid, tentu masih kaget. Saya mengenal anak ini, sering bergaul, bahkan pernah memakai mobilnya. Anaknya pendiam. Makanya kalau ditanya, hampir semua warga di sini pasti kaget,” ujarnya.

Meski demikian, Said menduga adanya pengaruh pergaulan di luar lingkungan yang tidak terpantau oleh warga sekitar.

Menyikapi kejadian ini, para tokoh masyarakat, Kepala Lingkungan (Kaling), serta pihak kepolisian berencana meningkatkan pengamanan dan pembinaan remaja di wilayah tersebut.

Upaya ini dilakukan untuk membangun kembali empati dan kepekaan sosial antarwarga agar setiap permasalahan dapat dikomunikasikan dengan baik dan tidak dipendam sendiri.

Rencananya, momentum bulan Ramadan akan dimanfaatkan untuk melakukan sosialisasi kepada keluarga-keluarga di lingkungan tersebut.

“Saya sudah bicara dengan Pak Kapolsek dan Pak Kaling untuk memanfaatkan bulan Ramadan sebagai momen berkumpul dan memberikan sosialisasi kepada keluarga. Cukuplah ini menjadi yang terakhir, jangan sampai terulang lagi, baik kejadiannya maupun aktivitas negatif lainnya,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.