TRIBUNJATENG.COM, KAJEN - Memasuki hari ke-12 sejak banjir merendam sejumlah wilayah di Kabupaten Pekalongan, warga yang masih bertahan di pengungsian tercatat masih tinggi.
Hingga Kamis (29/1/2026) pukul 09.00, ada sekira 499 kepala keluarga (KK) atau 1.517 jiwa masih mengungsi di berbagai titik penampungan.
Banjir yang terjadi pada 17 Januari 2026 itu melanda enam kecamatan. Yakni Kecamatan Wiradesa, Tirto, Sragi, Siwalan, Wonokerto, dan Buaran.
Ketinggian air berkisar 20 hingga 120 sentimeter. Hal ini lantas membuat sebagian warga belum dapat kembali ke rumah masing-masing.
Baca juga: Layanan di Puskesmas Tirto II Pekalongan Sementara Dialihkan, Terendam Banjir 90 Sentimeter
• Pemkot Pekalongan Percepat Penanganan Sampah, Bentuk Satgas Khusus
Kabid Penanggulangan Bencana PMI Kabupaten Pekalongan, Bambang Sujatmiko mengatakan, kondisi di lapangan masih dinamis karena dipengaruhi cuaca yang belum menentu.
"Tim PMI terus melakukan evakuasi dan pendataan. Ada titik pengungsian yang jumlahnya bertambah, ada juga yang berkurang, tergantung kondisi genangan di wilayah masing-masing," kata Bambang, Kamis (29/1/2026).
Bambang menjelaskan, ribuan pengungsi tersebut tersebar di 18 lokasi pengungsian, mulai dari gedung pertemuan, tempat ibadah, sekolah, hingga rumah warga yang dijadikan penampungan sementara.
Lokasi dengan jumlah pengungsi terbesar berada di Gedung Kopindo dan Masjid At Taqwa Al Bayan Wiradesa.
Di pengungsian, banyak kelompok rentan yang membutuhkan perhatian khusus.
Data PMI mencatat terdapat lansia, balita, anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, serta penyandang disabilitas di sejumlah titik. Beberapa pengungsi juga dilaporkan mengalami gangguan kesehatan.
"Selain kebutuhan pangan, para pengungsi sangat membutuhkan selimut, kasur lantai, terpal, serta pakaian dalam dan pampers untuk bayi maupun lansia."
"Obat-obatan, salep gatal, minyak kayu putih, serta perlengkapan kebersihan diri juga menjadi kebutuhan mendesak di banyak lokasi."
"Banyak pengungsi tidur beralaskan lantai, jadi selimut dan alas tidur sangat dibutuhkan. Obat-obatan dan kebutuhan bayi juga masih kurang," ujar Bambang.
Di beberapa posko, pengungsi juga memerlukan air mineral, makanan ringan untuk anak-anak, serta kebutuhan khusus perempuan seperti pembalut.
"Kami mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap cuaca ekstrem dan menjaga kesehatan selama berada di pengungsian," pungkasnya.
Baca juga: Empat Kepala Daerah di Pekalongan Raya Satu Suara, Sampah Diubah Jadi Energi Listrik
• Persiku Kudus Pastikan Turunkan Trio Brazil di Laga Pamungkas Kontra Persipura Jayapura
Sementara itu, Faisol warga terdampak banjir di Desa Karangjompo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan mulai mengeluhkan berkurangnya pasokan logistik dari dapur umum.
Faisol, menyebut, bantuan makanan tidak lagi tersedia pada siang hari selama dua hari terakhir karena persediaan bahan pokok di dapur umum menipis.
"Sudah dua hari kalau siang tidak ada suplai makanan dari dapur umum di balai desa. Katanya stok seperti telur, minyak, dan beras sudah menipis. Air mineral juga tidak ada," ujar Faisol, Kamis (29/1/2026).
Menurutnya, ketinggian air di dalam rumah masih berkisar 50 hingga 60 sentimeter.
Sementara itu, genangan di sejumlah fasilitas umum masih lebih parah. Di SMP Negeri 3 Tirto, misalnya, kedalaman air dilaporkan masih hampir setinggi dada orang dewasa.
Faisol mengatakan, hanya ibunya yang mengungsi ke rumah kerabat, sedangkan dirinya memilih bertahan untuk menjaga rumah yang kosong.
"Ibu ngungsi di tempat adik. Saya tetap di rumah karena tidak ada orang," katanya.
Di tengah kondisi tersebut, upaya penyedotan air mulai dilakukan.
Tiga pompa air telah didatangkan dan saat ini masih dioperasikan untuk mengurangi genangan di permukiman warga. (*)