TRIBUNTORAJA.COM - Film Indonesia berlatar budaya Toraja, Sulawesi Selatan, Solata, mencatatkan tonggak penting dengan tampil perdana di ajang festival film internasional.
Film tersebut diputar dalam Menar Film Festival di Sofia, Bulgaria, Selasa (27/1/2026) pukul 19.00 waktu setempat, bertempat di Cinema House, dengan dukungan penuh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Sofia.
Menar Film Festival merupakan festival film non-kompetisi di Bulgaria yang berfokus pada karya-karya dari kawasan Timur Tengah dan Afrika.
Indonesia diundang secara khusus oleh penyelenggara festival untuk menayangkan Solata, sebagai bentuk apresiasi terhadap kekuatan narasi serta nilai budaya yang diangkat dalam film tersebut.
Pemutaran Solata menjadi bagian dari upaya diplomasi budaya Indonesia di Bulgaria melalui medium perfilman, sekaligus menandai langkah awal film ini memasuki panggung perfilman internasional.
Film tersebut dinilai mampu merepresentasikan wajah Indonesia yang pluralis, mencerminkan keberagaman budaya, agama, suku, ras, serta tatanan sosial.
Acara pemutaran dihadiri kalangan diplomatik lintas negara, di antaranya duta besar dari Belanda, India, Korea Selatan, Maroko, Mongolia, Pakistan, dan Vietnam.
Selain itu, hadir pula diplomat dari Portugal, Malta, Kuwait, Irak, Serbia, Amerika Serikat, Moldova, Tiongkok, Polandia, Jerman, Albania, Finlandia, dan Kroasia, bersama perwakilan media lokal, akademisi, travel writer, Indonesianist, tokoh agama, LSM, National Gallery of Bulgaria, serta masyarakat umum.
Dalam sambutan pembuka, Duta Besar Republik Indonesia untuk Bulgaria, Listiana Operananta, menyampaikan bahwa Solata mengangkat kisah persahabatan anak-anak dari latar belakang budaya, agama, dan sosial yang berbeda, yang saling mendukung untuk tumbuh dan maju bersama.
“Film ini menyampaikan pesan universal tentang persahabatan, solidaritas, dan harapan—nilai-nilai yang juga mencerminkan Indonesia sebagai bangsa yang majemuk,” ujar Dubes Listiana melalui rilis ke Tribun Toraja.
Solata mengambil lokasi syuting di Lembah Ollon, Toraja, Sulawesi Selatan, dengan hampir seluruh pemerannya merupakan warga lokal Toraja.
Pendekatan ini menghadirkan keautentikan budaya yang kuat dan menjadi salah satu daya tarik utama film tersebut.
Pemutaran film mendapat sambutan hangat dari penonton.
Tingkat keterisian bioskop tercatat lebih dari 90 persen, disertai tepuk tangan meriah saat film berakhir, menandai apresiasi tinggi terhadap karya tersebut.
Sebelum pemutaran film, KBRI Sofia menampilkan tarian empat etnis Sulawesi Selatan, yakni Toraja, Bugis, Mandar, dan Makassar yang dibawakan oleh Sanggar Pesona Mawar Nusantara (PMN) binaan KBRI. Para tamu juga disuguhi hidangan khas Sulawesi Selatan sebagai bagian dari pengenalan budaya Indonesia.
Ke depan, KBRI Sofia berencana mendaftarkan Solata ke sejumlah festival film bersifat kompetisi pada 2026, termasuk Sofia Film Festival dan Kinomania, guna memperluas jangkauan dan eksposur internasional film Indonesia.(*)