Harga Emas Antam Tembus Rp 3,1 Juta per Gram, Dipicu Ketegangan Politik Antara Amerika dan Iran
January 29, 2026 09:35 PM

Laporan Fikri Firmansyah

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Kenaikan harga emas dalam beberapa waktu terakhir menjadi sorotan publik di berbagai wilayah di Indonesia.

Logam mulia kini mencatatkan rekor baru per hari ini, Kamis (29/1/26), dengan harga menembus angka Rp 3 juta lebih per gram.

Dikutip dari logammulia.com, harga terbaru emas Antam hari ini tembus Rp 3.168.000 per gramnya.

Meroket dari hari sebelumnya sebanyak Rp 165.000 per gram. Sementara harga buyback emas hari ini juga naik pesat dari hari sebelumnya sebanyak Rp135.000 per gram.

Pakar ekonomi dan keuangan, Achmad Saiful Ulum SAB MAB, menyebutkan bahwa kenaikan harga emas bukanlah fenomena yang terjadi tanpa sebab.

Dosen Program Studi S1 Manajemen Universitas Hayam Wuruk Perbanas Surabaya yang fokus pada bidang Business and Finance ini menjelaskan, terdapat sejumlah faktor utama yang mendorong harga emas terus melambung.

Baca juga: Harga Emas Naik hingga Rp 3,1 Juta per Gram, Warga Surabaya Berburu untuk Investasi Jangka Panjang

“Emas sejak dulu dikenal sebagai instrumen investasi yang relatif stabil dan menguntungkan, terutama untuk jangka panjang."

"Dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu, emas selalu menjadi pilihan utama investor,” ujar Achmad Saiful Ulum saat diwawancarai SURYAMALANG.COM, Kamis (29/1/26).

Geopolitik dan Ketidakpastian Global

Ia menjelaskan, salah satu faktor paling dominan yang mendorong kenaikan harga emas saat ini adalah ketegangan geopolitik global.

Isu konflik di berbagai wilayah dunia, termasuk meningkatnya tensi politik internasional yang melibatkan negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Iran, menciptakan ketidakpastian ekonomi global.

“Ketika isu perang dan konflik geopolitik menguat, investor cenderung menghindari aset berisiko."

"Mereka akan memindahkan dananya ke aset yang lebih aman atau safe haven, salah satunya emas. Permintaan meningkat, otomatis harga ikut terdorong naik,” jelasnya.

Selain faktor geopolitik, Achmad juga menyoroti peran inflasi dalam menentukan arah harga emas.

Menurutnya, emas memiliki fungsi sebagai lindung nilai (hedging) terhadap penurunan daya beli uang.

“Ketika inflasi naik, nilai uang akan tergerus. Dalam kondisi seperti ini, menyimpan dana dalam bentuk emas jauh lebih aman dibandingkan menyimpan uang tunai, deposito, atau bahkan mata uang asing,” katanya.

Achmad mengungkapkan, kenaikan harga emas yang terjadi saat ini juga sejalan dengan pengalaman pribadinya sebagai investor.

Ia mengaku pernah mengikuti program cicil emas di salah satu bank BUMN sejak tahun 2024, saat harga emas masih berada di kisaran Rp 900 ribu per gram. Pada 2025, emas tersebut ia jual dengan harga sekitar Rp2,1 juta per gram.

“Itu membuktikan bahwa emas memang sangat menguntungkan untuk investasi jangka panjang. Nilainya cenderung naik seiring waktu,” ujarnya.

ILUSTRASI EMAS - Pada hari Kamis (29/1/2026), harga emas Antam menyentuh angka Rp 3.168.000 per gram. Emas kini dianggap sebagai objek investasi yang menjanjikan
ILUSTRASI EMAS - Pada hari Kamis (29/1/2026), harga emas Antam menyentuh angka Rp 3.168.000 per gram. Emas kini dianggap sebagai objek investasi yang menjanjikan (ISTIMEWA)

Menanggapi harga emas yang kini telah menembus Rp 3 juta lebih per gram, Achmad menilai bahwa emas masih menarik sebagai instrumen investasi, namun dengan catatan tertentu.

Menurutnya, keputusan membeli emas harus disesuaikan dengan tujuan dan jangka waktu investasi.

“Kalau investasi jangka pendek, misalnya kurang dari satu tahun, emas saat ini cukup berisiko karena harganya bersifat fluktuatif atau volatile. Bisa naik dan turun dalam waktu singkat,” jelasnya.

Namun, bagi investor jangka panjang, emas masih dinilai layak dipertimbangkan. Achmad menyarankan masyarakat untuk tidak terlalu terpaku pada waktu terbaik membeli emas, melainkan fokus pada konsistensi investasi.

“Dalam investasi itu tidak ada waktu yang benar-benar paling tepat. Yang terpenting adalah niat dan konsistensi."

"Bisa melalui pembelian tunai jika punya dana lebih, atau memanfaatkan program cicil emas dan tabungan emas yang ditawarkan perbankan,” ujarnya.

Ia juga menilai bahwa skema cicil emas atau tabung emas menjadi solusi yang aman bagi masyarakat dengan dana terbatas, terutama di tengah kondisi ekonomi global yang belum stabil.

“Program cicil emas masih worth it. Biasanya harga sudah disepakati di awal, lalu dicicil secara flat setiap bulan."

"Ini jauh lebih aman dan terencana, apalagi di tengah isu geopolitik yang belum mereda,” kata Achmad.

Terkait kekhawatiran akan isu perang dunia, Achmad menilai bahwa masyarakat tidak perlu panik berlebihan.

Menurutnya, isu perang global masih sebatas spekulasi dan belum tentu benar-benar terjadi.

“Isu-isu seperti perang dunia ketiga sering kali digoreng dan dibesar-besarkan. Tapi justru karena isu itu, harga emas cenderung naik. Maka dari itu, investasi emas tetap relevan sebagai langkah antisipasi,” pungkasnya.

Dengan berbagai faktor tersebut, emas diperkirakan masih akan menjadi primadona investasi di tengah ketidakpastian ekonomi global. Ia juga menghimabua agar masyarakat diimbau berinvestasi secara bijak.

"Tentu yang perlu diterapkan ialah menyesuaikan dengan kemampuan finansial, serta mempertimbangkan tujuan jangka panjang," tutupnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.