Harga Minyak Melonjak ke Level Tertinggi, Ketegangan AS-Iran Bayangi Pasokan
kumparanBISNIS January 30, 2026 08:57 AM
Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Kamis (29/1), menembus level tertinggi dalam lima bulan terakhir, di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar atas potensi gangguan pasokan global akibat memanasnya ketegangan antara AS dan Iran.
Mengutip Reuters pada Jumat (30/1), minyak mentah Brent menguat USD 2,31 atau 3,4 persen dan ditutup di level USD 70,71 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik USD 2,21 atau 3,5 persen ke posisi USD 65,42 per barel.
Lonjakan harga terjadi setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran untuk segera mencapai kesepakatan nuklir atau menghadapi kemungkinan serangan militer. Iran sendiri merupakan salah satu produsen minyak terbesar di OPEC, sehingga eskalasi konflik berpotensi mengganggu pasokan global.
Di tengah reli harga itu, mengutip Bloomberg, OPEC+ diperkirakan tetap mempertahankan kebijakan jeda produksi minyak yang telah disepakati untuk kuartal pertama tahun ini. Delapan negara anggota yang dipimpin Arab Saudi dan Rusia dijadwalkan menggelar pertemuan daring pada Minggu (1/2) untuk meninjau kebijakan pasokan bulan Maret, yang merupakan bulan terakhir dari masa pembekuan produksi.
Sejumlah delegasi menyebutkan bahwa sejauh ini aliansi masih berencana mengonfirmasi kebijakan tersebut. Namun, mereka juga mengisyaratkan bahwa gangguan pasokan yang signifikan dapat memaksa OPEC+ untuk mengambil langkah penyesuaian.
Secara historis, OPEC+ dikenal berhati-hati dalam merespons risiko geopolitik, dengan cenderung menunggu dampak nyata terhadap pasokan sebelum mengubah kebijakan produksi. Sikap ini terlihat kembali meski harga minyak sempat menyentuh USD 70,35 per barel di London, level tertinggi sejak September.
Kebijakan jeda produksi yang disepakati pada November lalu bertujuan mengantisipasi perlambatan musiman permintaan bahan bakar. Hal ini diambil setelah delapan negara OPEC+ sebelumnya sempat meningkatkan produksi secara agresif untuk merebut kembali pangsa pasar dari produsen non-OPEC, terutama minyak serpih AS.
Meski demikian, prospek pasar minyak global masih dibayangi ketidakpastian. Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan potensi surplus pasokan akibat melambatnya pertumbuhan permintaan, sementara produksi dari negara-negara non-OPEC seperti AS, Brasil, Kanada, dan Guyana terus meningkat.
Sejumlah lembaga keuangan, termasuk JPMorgan Chase & Co. dan Morgan Stanley, menilai OPEC+ kemungkinan perlu memangkas produksi guna mencegah penurunan harga yang lebih dalam.
Tekanan ini semakin terasa setelah harga minyak anjlok 18 persen sepanjang tahun lalu, yang memukul kondisi fiskal sejumlah negara anggota, termasuk Arab Saudi yang terpaksa memangkas belanja proyek strategis dan mencari sumber pendanaan alternatif.