Anggota DPR Kecewa Terhadap LPSK Lamban Tangani Kasus Nenek Saudah di Sumbar
January 30, 2026 10:38 AM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi XIII DPR RI Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Arisal Aziz mengaku kecewa terhadap Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), dalam menangani korban penganiyaan Nenek Saudah di Lubuk Aro, Nagari Padang Matinggi, Kecamatan Rao, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat pada awal tahun 2026 lalu. 

Anggota DPR dari Daerah Pemilihan (Dapil) Sumatera Barat II ini mengungkapkan, telah mengunjungi korban pada Jumat (23/1/2026), dan Nenek Saudah mengungkapkan kalau LPSK belum datang menemuinya.   

“Saya tanya ke korban, apakah sudah ada LPSK yang datang menemui nenek Saudah. Dijawabnya tidak ada dan tidak kenal dengan LPSK,” kata Arisal kepada wartawan di Jakarta, Jumat (30/1/2026).

Josal panggilan akrab Arisal Aziz, meminta kepada LPSK untuk segera turun menanggani kasus Nenek Saudah karena korban mengalami penganiyaan, yang dinilai sudah masuk pelanggaran HAM oleh oknum Pekerja Tambang Emas Ilegal (PETI) di tanah milik korban.  

“Saya kecewa kepada LPSK karena diwaktu kejadian tidak ada untuk melindungi nenek Saudah yang dianiya-aniya, diusir dan diintimidasi. Seharusnya LPSK cepat terhadap memberikan perlindungan Saksi dan Korban," ucapnya.

Baca juga: Hotman Paris Siapkan Kuasa Hukum Gratis untuk Penjual Es Gabus, Alami Penganiayaan saat Interogasi

Anggota Komisi DPR yang bermitra kerja dengan LPSK ini berharap, LPSK cepat mengatasi jika ada permasalahan kerasaan terhadap saksi dan korban.

Sementara itu, Wakil Ketua LPSK Susilaningtias menjelaskan, bahwa LPSK telah turun dan menemui korban nenek Saudah di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. 

“Pak Arisal Aziz, tim LPSK sudah turun ke ibu Saudah, pada tanggal 9 Januari 2026 lalu. Dan bu Saudah beserta keluarga telah mengajukan permohonan perlindungan ke LPSK,” ucapnya. 

Susilaningtias menambahkan, saat ini LPSK sedang dalam proses penelaahan lebih lanjut kasus korban Nenek Saudah. 

Selain itu, LPSK juga telah melakukan koordinasi dengan Polres Pasaman, Sumatera Barat berkaitan kasus penganiyaan yang dialami nenek Saudah. 


Kronologis Penganiayaan

Berdasarkan keterangan korban, kejadian bermula saat dia mendatangi lahan miliknya pada siang hari. 

Ia menduga lahan tersebut diserobot oleh para penambang ilegal yang beraktivitas di lokasi tersebut.

Saudah mengaku telah meminta para pekerja menghentikan aktivitas penambangan di lahannya. 

Permintaan itu sempat diindahkan, namun para penambang kembali beroperasi pada malam hari.

“Siang hari mereka bekerja di tanah saya. Bukan dilarang, tapi diminta berhenti dulu. Tapi waktu maghrib mereka datang lagi dan bekerja kembali,” ujar Saudah, kepada wartawan, Senin (5/1/2026).

Baca juga: Sosok Pelaku Penganiayaan Lansia di Minimarket Bandung, Korban Tewas setelah 3 Hari Dirawat

Merasa keberatan, Saudah kembali mendatangi lokasi pada malam hari dengan membawa senter untuk melihat aktivitas tersebut. 

Namun, kedatangannya justru berujung pada tindakan kekerasan.

Ia mengaku dilempari batu secara bertubi-tubi hingga terjatuh ke arah pinggir sungai dan kehilangan kesadaran.

“Saya datang dan menyorot pakai senter. Tiba-tiba saya dilempari batu banyak sekali sampai ke pinggir sungai, setelah itu saya tidak sadar lagi,” katanya.

Akibat kejadian tersebut, Saudah mengalami luka cukup parah, terutama di bagian wajah yang tampak sembab serta sejumlah luka di bagian tubuh lainnya.

Pada bagian wajah Saudah, tampak kedua matanya bengkak membiru. Namun pada mata bagian kirinya lebih bengkak hingga seperti menutupi pandangannya.

PENGANIAYAAN DI PALOPO – Polisi mendatangi kafe dan tempat biliar di Kota Palopo. Tujuannya adalah untuk memastikan keamanan dan kenyamanan masyarakat, menyusul kasus pengeroyokan di Cafe Up Street.
PENGANIAYAAN DI PALOPO – Polisi mendatangi kafe dan tempat biliar di Kota Palopo. Tujuannya adalah untuk memastikan keamanan dan kenyamanan masyarakat, menyusul kasus pengeroyokan di Cafe Up Street. (TribunTimur.com/Andi)

Pada bagian dahi, juga terdapat luka jahitan. Selain itu pada bagian bibir Saudah juga tampak beberapa luka jahitan.

Ia juga mengakui bahwa hingga saat ini badannya pun masih merasakan sakit dan membuatnya sulit beraktivitas serta berbicara.

Anak korban, Iswadi Lubis, menuturkan bahwa ibunya sempat disangka meninggal dunia oleh para pelaku. Dalam kondisi pingsan, Saudah disebut dipindahkan ke semak-semak.

“Ibu saya dilempari batu sampai pingsan, lalu dipukuli, muka, kepala, punggung semuanya luka. Setelah pingsan digoyang-goyangkan, dikira sudah mati, lalu dibuang ke semak-semak. Itu sudah tidak wajar, bukan perlakuan manusia,” ujar Iswadi.

Beberapa waktu kemudian, Saudah siuman dan berusaha pulang ke rumah dengan sisa tenaga yang ada. Ia akhirnya ditemukan oleh pihak keluarga dan segera dilarikan ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan perawatan.

Saat ini, Saudah menjalani perawatan intensif di RSUD Tuanku Imam Bonjol, Lubuk Sikaping, dengan kondisi yang masih memprihatinkan.

Atas kejadian tersebut, pihak keluarga berharap aparat penegak hukum dapat mengusut tuntas kasus penganiayaan yang dialami korban.

 


 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.