TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Nelayan di Desa Kusamba, Kecamatan Dawan dalam beberapa hari belakangan terpaksa hanya memarkir perahu mereka di pesisir.
Cuaca buruk seperti angin kencang dan ombak tinggi, membuat mereka memilih untuk sementara tidak melaut.
“Sejak beberapa hari lalu, nelayan di sini nganggur. Tidak berani melaut karena cuaca tidak bersahabat,” ujar seorang nelayan di Kusamba, I Ketut Subrata, Jumat (30/1/2026).
Baca juga: Wamenpar Sebut KLB Virus Nipah di Negara Tetangga Belum Pengaruhi Jumlah Wisatawan Masuk Bali
Subrata mengatakan, cuaca buruk mulai dirasakan sejak sekitar sepuluh hari lalu. Angin kencang dan gelombang tinggi membuat nelayan memilih bertahan di darat demi keselamatan.
Bahkan pada Selasa (27/1/2026) sore sekitar pukul 18.00 Wita, ombak besar menerjang puluhan jukung yang berjejer rapi di bibir pantai.
Baca juga: RESMI Istri Pak Oles Jadi PAW Alm Ray Yusha, Berikut Profil Komang Dyah
Jukung-jukung nelayan tidak lagi berjajar rapi di bibir pantai. Sebagian di antaranya dipindahkan jauh ke daratan, bahkan ada yang diparkir di badan jalan raya demi menghindari kerusakan akibat dihantam gelombang laut.
“Kemarin sempat kalang kabut. Air laut naik cepat, kami buru-buru memindahkan jukung supaya tidak rusak,” ujat Ketut Subrata.
Selama tidak melaut, sebagian nelayan memanfaatkan waktu untuk memperbaiki alat tangkap dan jukung. Padahal nelayan sangat menggantungkan hidup dari hasil tangkapan.
Selain itu aktivitas sewa jukung bagi para pemancing juga sepi, setelah cuaca memburuk. Sehingga para nelayan pun harus berhemat, sambil berharap cuaca segera membaik.
Cuaca ekstrem dan ombak pasang ini tidak hanya mengancam mata pencaharian nelayan, tetapi juga menimbulkan abrasi cukup parah di pesisir Kusamba.
“Kalau dulu, jukung masih bisa berderet tiga deret sampai ke bibir pantai. Sekarang satu (deret) saja sudah dekat dengan bibir pantai,” ungkap Subrata. (mit)